Kamis, 21 Sep 2017
radarbromo
Pasuruan

Ajak Masyarakat Tak Percayai Hoax dan Jaga Kondusifitas

Kamis, 14 Sep 2017 22:53 | editor : Fandi Armanto

KOMPAK: Sejumlah tokoh agama membuat surat pernyataan untuk menjaga kondusifitas bersama, di pendapa Rabu (13/9) malam.

KOMPAK: Sejumlah tokoh agama membuat surat pernyataan untuk menjaga kondusifitas bersama, di pendapa Rabu (13/9) malam. (M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

PASURUAN–Tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar mengundang sejumlah pihak untuk angkat bicara. Tak terkecuali Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Pasuruan, yang meminta agar masyarakat tak terpengaruh dengan opini yang berkembang melalui sumber berita hoax.

Itulah yang tersaji saat FKUB menggelar pertemuan di ruang Segoropuro di pendapa Kabupaten Pasuruan Rabu (3/9) malam lalu. Saat itu sejumlah tokoh agama perwakilan umat hadir. Disana, mereka membuat pernyataan sikap atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Myanmar.

Ketua FKUB Kabupaten Pasuruan, Dr Syaifullah mengungkapkan, bahwa apa tragedi yang terjadi di Myanmar merupakan sebuah tragedi kemanusiaan. Atas dasar itu, ia ingin mengajak seluruh umat beragama untuk tak melihat tragedi itu secara parsial. Apalagi menjadikan berita hoax sebagai rujukan.

“Dengan kemasan berita hoax yang saat ini kian memprihatinkan, sehingga nyaris membangun opini yang salah di tengah-tengah masyarakat. Muaranya ialah provokasi kelompok. Sumber-sumber berita hoax yang ada tentang apa yang terjadi di Myanmar, menciptakan kegamangan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Syaifullah menegaskan bahwa apa yang terjadi di Myanmar saat ini ialah murni tragedi kemanusiaan. Ia menolak tegas berkembangnya berita hoax yang menyatakan bahwa tragedi Myanmar merupakan didasarkan oleh konflik agama. 

Sementara itu, tokoh agama Khonghucu yang juga hadir dalam pertemuan itu, Ws Yudhi Dharma Santoso menjelaskan, dengan kondisi keberagaman di Indonesia saat ini, dinilainya sangat mudah untuk disusupi oleh paham yang memecah belah.  “Kita harus belajar dari sejarah. Keberagaman yang selama ini berjalin kelindan di Indonesia, menjadi sasaran empuk bagi pihak yang ingin memecah belah. Kami ingin seluruh masyarakat berangkulan, tak terpancing opini yang berkembang melalui media-media yang tak kredibel, yang memproduksi berita-berita Myanmar seolah yang terjadi ialah persoalan agama,” paparnya.

Diakhir pertemuan, seluruh tokoh agama yang hadir menyepakati adanya tiga poin sikap yang dikeluarkan oleh FKUB menanggapi tragedi Myanmar. Didalam pernyataan sikap itu, diantaranya ialah mendukung upaya pemerintah RI dalam melakukan diplomasi dengan Myanmar untuk menghentikan kekerasan yang melanggar hukum dan nilai-nilai luhur kemanusiaan warga Rohingnya.

 Kedua, mengajak seluruh elemen masyarakat, tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk turut serta menjaga kondusifitas di wilayah Kabupaten Pasuruan dengan mengedepankan toleransi agama dan nilai prikemanusiaan. Ketiga, mengimbau seluruh masyarakat untuk mewaspadai pihak-pihak yang menghasut dan mengadu domba antar umat beragama di Kabupaten Pasuruan. 

(br/fun/tom/fun/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia