Rabu, 27 Sep 2017
radarbromo
Probolinggo

Soal Arisan Online yang Macet di Probolinggo, Ini Kata OJK

Senin, 21 Aug 2017 06:30 | editor : Muhammad Fahmi

DIJAGA POLISI: Petugas keamanan ikut mengamankan saat sejumlah anggota arisan online mendatangi rumah Purwati di Curah Grinting, Sabtu (19/8). (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

PROBOLINGGO - Koordinator arisan online yang kabur di Kota Probolinggo, bisa dijerat hukum pidana dengan pasal penipuan. Sebab, ada jual beli paket arisan yang seharusnya tidak boleh dilakukan.

Hal itu diungkapkan Indra Krisna, kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang. Menurutnya, seharusnya proses jual beli itu ada wujudnya atau ada barangnya. Namun, jual beli paket arisan yang ditawarkan, tidak ada wujudnya.

“Seharusnya, jual beli itu ada wujudnya. Wujud yang dijual apa, barangnya apa. Nah, dalam arisan online ini, paket yang ditawarkan uang. Artinya, ada jual beli uang di sini. Dan, jual beli uang ini tidak diperbolehkan,” tuturnya.

Di sisi lain, arisan menurutnya, termasuk kegiatan pengumpulan dana. Dan, semua kegiatan pengumpulan dana, masuk ranah OJK. Dengan catatan, arisan ini dilaporkan atau mendapat izin dari OJK. Dengan begitu, jika ada pelanggaran, maka OJK yang akan menindak.

Sebaliknya, jika tidak dilaporkan ke OJK, maka OJK tidak bisa menindak. Ranahnya, kemudian jadi milik Satgas Waspada Investasi di masing-masing daerah.

“Dalam hal ini, paket arisan uang itu bukan masuk unsur jasa keuangan. Ini, bisa dilaporkan masuk kasus penipuan. Langsung melapor pada satgas Waspada Investasi di masing-masIng daerah. Bisa ke Polres Probolinggo Kota melaporkannya,” ujarnya.

Menurutnya, setiap kegiatan pengumpulan dana masyarakat harus memiliki izin dari OJK. Mulai Koperasi, lembaga investasi, maupun perbankan, harus ada izin.

“Termasuk seharusnya ada izin juga untuk kegiatan arisan secara umum. Tidak hanya arisan online,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah perempuan peserta arisan online mendatangi rumah Purwati, 38, warga Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan kademangan, Kota Probolinggo, Sabtu (19/8). Sebab, Purwati yang bertugas sebagai koordinator arisan online menghilang.

Akibatnya, sejumlah anggota yang seharusnya mendapat pencairan dana arisan, kelimpungan karena tidak mendapatkan haknya. Bahkan, ada juga di antaranya yang mengaku uangnya dipinjam oleh Purwati dengan perjanjian pengembalian 10 hari. Namun, janji itu juga meleset.

Akun Facebook milik Purwati yang bernama Laura Yuan Aurel sempat dinonaktifkan, Jumat (18/9). Namun, akun itu kembali aktif sejak Minggu (20/8).

(br/mie/put/mie/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia