Rabu, 18 Oct 2017
radarbromo
icon featured
Travelling

Eksotisnya Gua Batman di Lereng Gunung Bromo

Sabtu, 12 Aug 2017 08:45 | editor : Muhammad Fahmi

Eksotisnya Gua Batman di Lereng Gunung Bromo

SARANGNYA KELELAWAR: Kondisi Guo Lowo alias Gua Batman yang dipenuhi kelelawar saat pagi hingga sore hari. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Keindahan kawasan wisata Gunung Bromo tak pernah habis untuk diulas. Bromo tak sekadar sunrise dan lautan pasir. Masih banyak objek wisata alam lainnya. Masih banyak objek wisata alam lainnya yang belum dimaksimalkan keberadaannya. Salah satunya, Guo Lowo atau yang belakangan akrab disebut gua Batman.

Bagi para pecinta film Batman Begins (2005), tentu masih ingat saat sang aktor utama Bruce Wayne (Diperankan Christian Bale) membangun “markasnya” di dasar rumah mewahnya. Markas itu berbentuk gua dengan dipenuhi kelelawar yang terhubung di gorong-gorong raksasa.

Nah, rupanya pemandangan gua kelelawar yang diceritakan ada di Gotham City di film tersebut, ternyata tak hanya ada di dunia fiksi. Di dunia nyata, kondisi yang nyaris sama terlihat saat berkunjung ke Guo Lowo alias gua Batman di Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Selain dipenuhi bebatuan kali yang ukurannya besar-besar, di Gua Batman juga terdapat banyak kelelawar. Selain itu, juga ada air terjun. Hanya saja, debitnya sangat kecil sekali.

Untuk bisa ke Gua Batman, wisatawan harus aktif bertanya. Sebab, sejauh ini belum ada rambu-rambu yang jadi penunjuk ke Gua Batman.

Akses ke lokasi bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Dengan melintasi ruas jalan beraspal yang lumayan mulus.

Namun, kendaraan itu harus ditinggal sekitar 400-500 meter dari lokasi Gua Batman. Para wisatawan yang menggunakan motor roda dua, harus menyiapkan kunci ganda bila ingin berkunjung ke Gua Batman.

Sebab, tak ada parkir resmi bagi pengunjung. Kendaraan wisatawan diparkir begitu saja di jalan desa dekat jembatan, tanpa ada yang menjaga.

Rute selanjutnya, hanya bisa dilewati dengan jalan kaki. Wisatawan harus melintasi ruas jalan setapak yang dipenuhi rumput liar.

JALAN SETAPAK
Untuk menuju Gua Batman, wisatawan harus melewati jalan setapak. Usai melintasi ladang, wisatawan harus berhati-hati karena sebelah kiri adalah jurang.

Untuk menuju Gua Batman, wisatawan harus melewati jalan setapak. Usai melintasi ladang, wisatawan harus berhati-hati karena sebelah kiri adalah jurang. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

“Sebenarnya dulu warga sini sudah swadaya membangun akses pada 1990-an. Namun, karena minim perawatan, akhirnya jalan setapaknya tak terurus seperti saat ini,” ujar Kades Ngadas, Kastaman yang menemani Jawa Pos Radar Bromo.

Dari jalan desa ke Gua Batman, sebenarnya jaraknya tak terlalu jauh. Namun, rutenya cukup terjal. Wisatawan pun harus ekstra hati-hati. Sebab, di salah satu sisi jalan ada jurang dengan kedalaman sekitar 80 meter. Jurang itu tertutup rerumputan liar.

Bila suara gemericik air dan suara decit kelelawar kian terdengar keras, itu artinya para wisatawan sudah sampai di lokasi. Untuk ke lokasi, wisatawan harus melewati rute jalan menurun yang cukup licin.

AIR TERJUN MINI
Di Gua Batman juga ada air terjun dengan debit air yang sangat kecil.

Di Gua Batman juga ada air terjun dengan debit air yang sangat kecil. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Gua Batman sendiri sekilas mirip ceruk raksasa dengan aliran debit air yang sangat sedikit. “Tapi, kalau pas musim hujan sedang tinggi-tingginya, terkadang debit airnya agak banyak,” imbuh Sukarnam, kasi pembangunan Desa Ngadisari yang juga ikut mendampingi Jawa Pos Radar Bromo.

Aroma kotoran kelelawar cukup terasa di Gua Batman ini. “Kalau ke sini pagi hingga sore hari, kelelawarnya ya mesti banyak. Tapi, kalau malam hari, ya gak ada. Karena mereka berkelana,” kelakar Sukarnam.

MINIM SENTUHAN
Kondisi Gua Batman yang masih alami. Pihak desa dan kecamatan berencana menggandeng investor untuk mengembangkannya.

Kondisi Gua Batman yang masih alami. Pihak desa dan kecamatan berencana menggandeng investor untuk mengembangkannya. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Disebutkan Kades Kastaman, saat ini pemerintah desa bersama kecamatan tengah menggencarkan promosi wisata ke Gua Batman. “Beberapa waktu lalu, Bapak Wakil Bupati Timbul Prihanjoko sempat ke sini untuk melihat potensi wisata di sini. Anggota DPRD juga tengah mengunjungi gua ini,” bebernya.

Dari beberapa kunjungan itu, pemkab juga menilai kawasan Gua Batman sangat layak dikembangkan. “Rencananya, untuk pengembangan gua ini, pemdes dan kecamatan juga menjajaki kerja sama dengan investor,” beber Kastaman.

Rencananya di kawasan gua itu bakal dibangun jembatan untuk memudahkan akses ke gua setempat. Jembatan itu bakal melintasi ceruk. Sehingga, wisatawan tak perlu menuruni bebatuan.

Sambil menunggu investor masuk, pihak desa dan kecamatan disebutkan, telah mempromosikan Gua Batman ke agen-agen travel. Serta hotel-hotel di kawasan Bromo.

Sebutan Gua Batman sendiri juga merupakan upaya rebranding gua setempat. “Yang memberi nama Gua Batman itu Pak Camat Sukapura (Yulius Christian). Disebut Gua Batman karena memang banyak kelelawarnya di sini,” jelas Kastaman.

Saat ini, meski pun kondisinya tak terawat, Guo Batman juga masih banyak dikunjungi wisatawan. Namun, rata-rata hanya wisatawan yang pernah ke lokasi atau tamu hotel.

Dari sejumlah hotel yang ada di kawasan Bromo, hotel yang paling getol mempromosikan wisata setempat adalah Hotel Yoschi’s. Pemilik Hotel Yoschi’s, Digdoyo DP menyebut pihaknya sudah mempromosikan kawasan wisata Gua Batman itu sejak 1990 silam.

“Guo Lowo ini cukup menarik. Pemandangannya eksotis di ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jarang-jarang ada Guo Lowo di ketinggian seperti di Ngadas ini,” jelas pria yang juga jadi pengurus PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) Jatim ini.

Dengan kondisi yang belum dimaksimalkan seperti saat ini, potensi Guo Lowo disebutkan pria yang akrab disapa Yoyok itu, sudah cukup kuat untuk menarik wisatawan. “Wisatawan yang mencari adrenalin, sangat suka kalau diajak ke situ,” bebernya.

Dari sejumlah wisatawan yang diajak ke Gua Batman, kebanyakan wisatawan mancanegara. “Bahkan, sudah ada orang Swiss yang membuat film dokumentasi Guo Lowo itu. Kalau tak salah, film dokumentarnya berjudul Broken Silent,” papar Yoyok.

Yoyok pun berharap agar pemerintah pusat maupun daerah melihat potensi Guo Lowo itu. “Jadi, Bromo itu tak hanya kawah dan lautan pasir saja. Masih banyak jujukan alternatif yang tak kalah menariknya yang bisa dikembangkan lagi,” harapnya.

(br/mie/mie/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia