Selasa, 17 Oct 2017
radarbromo
icon-featured
Probolinggo

Soal Ojek Online, Pemkot Masih Lakukan Kajian

Jumat, 11 Aug 2017 11:00 | editor : Muhammad Fahmi

Soal Ojek Online, Pemkot Masih Lakukan Kajian

(Ilustrasi)

MAYANGAN - Polemik keberadaan ojek online di Kota Probolinggo yang dikeluhkan Asosiasi Sopir Angkutan Probolinggo (ASAP) dan Organisasi Angkutan Darat (Organda), tampaknya tak bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Pasalnya, pemkot belum merencanakan pertemuan dengan pihak Go-Jek selaku penyedia ojek berbasis aplikasi tersebut.

Ditemui usai melakukan mutasi Kamis (10/8), Wali Kota Probolinggo Rukmini tidak memberikan penjelasan mengenai langkah yang akan diambil oleh pemkot. “Ini saya serahkan pada yang ikut dalam pertemuan dengan Organda dan ASAP,” katanya sambil berlalu ke ruangannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sumadi mengaku masih mengkaji aturan tetang ojek online. Mantan Camat Mayangan ini mengatakan, pihaknya berusaha untuk berada di tengah-tengah. Namun begitu, ia belum tahu kapan akan digelar pertemuan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Sumadi mengatakan, sampai saat ini Go-Jek belum melakukan koordinasi dengan pemkot mengenai keberadaannya. “Namun dari pihak manajemen Go-Jek pusat sudah menghubungi kita dan meminta waktu agar bisa melakukan audiensi dengan wali kota. Audiensi ini salah satunya membahas soal protes ASAP dan Organda,” katanya.

Lantas bagaimana tanggapan masyarakat menyikapi keberadaan Go-Jek? Sejauh ini, masyarakat justru menilai positif adanya angkutan berbasis aplikasi seperti Go-Jek. Alasannya, Go-Jek justru memberi kemudahan bagi masyarakat. Karena itu, warga menyayangkan jika nantinya angkutan online ini dilarang.

“Masih baru ada di Kota Probolinggo kok mau dihentikan. Padahal, angkutan umum seperti angkutan kota juga tidak bisa ada setiap saat dan di setiap wilayah Kota Probolinggo,” ujar Rahmad, 25, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Komentar beragam juga disampaikan warganet mengenai hadirnya Go-Jek di kota mangga. Seperti yang diungkapkan oleh Vaya Arina dalam status facebook-nya. Menurutnya, servis Go-Jek justru lebih baik dari angkutan lainnya.

“Wah kok cepat sekali perkembangannya? Baru beberapa hari lalu saya pakai Go-Jek di Probolinggo. Oke banget servisnya. Abang Go-Jek-nya juga bilang situasinya masih aman-aman saja,” ujarnya.

Bahkan, Windha Fatimah menyarankan kepada pengemudi angkot untuk memperbaiki layanannya agar tidak kalah saing dengan Go-Jek. “Kalo mau gak kalah saing sama abang Go-Jek, sebaiknya perbaiki layanan angkutan umum,” katanya memberi saran.

Diketahui, dua organisasi transportasi yakni Aliansi Sopir Angkot Probolinggo (ASAP) dan Organisasi Angkutan Darat (Organda) menolak keberadaan Go-Jek, layanan transportasi berbasis aplikasi. Alasannya, keberadaan Go-Jek mematikan angkutan kota (angkot) maupun angkutan masal lainnya.

Penolakan itu disampaikan ASAP dan Organda saat mengikuti rapat koordinasi (rakor) dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Probolinggo dan Satlantas Polres Probolinggo Kota, Rabu (9/8) lalu. Dalam pertemuan yang digelar di kantor Dishub sekitar pukul 10.30 itu, mereka meminta agar pemkot melarang keberadaan ojek online

Karena itu, ia meminta pemkot untuk melarang keberadaan ojek online. ASAP memberikan tenggat waktu 3 hari pada pemkot untuk menindaklanjuti permintaan itu. Jika tidak, ASAP mengancam akan melakukan sweeping pada pengemudi Go-Jek.

(br/put/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia