Sabtu, 21 Oct 2017
radarbromo
icon-featured
Features

Kondisi Siswa Kelas II SDN Bakalan, Setelah Plafon Kelasnya Ambruk

Minggu, 30 Jul 2017 07:10 | editor : Muhammad Fahmi

AJAK RILEKS: Siswa kelas IIA belajar di musala sekolah, setelah atap ruangan kelas IIB ambruk. Mereka diajak rileks agar tidak trauma.

AJAK RILEKS: Siswa kelas IIA belajar di musala sekolah, setelah atap ruangan kelas IIB ambruk. Mereka diajak rileks agar tidak trauma. (Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Ambruknya plafon ruangan kelas IIB SDN Bakalan, Bugul Kidul, Kota Pasuruan, beberapa waktu lalu, tak hanya membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) sedikit terganggu. Insiden itu juga menyisakan trauma bagi siswa. Bagaimana cara guru mengatasi hal itu?


Pukul 7.00 pagi itu, bel sekolah berbunyi di SDN Bakalan, Budul Kidul, Kota Pasuruan. Satu demi satu siswa berhamburan dari setiap sudut sekolah. Mereka masuk ke masing-masing kelasnya. Dengan tertib, mereka menempati kursi duduk masing-masing. Menunggu pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Namun, tidak demikian kondisi di sebuah gedung yang terletak di ujung Utara sekolah. Gedung yang terdiri dari dua ruang kelas itu sunyi. Tak seorang siswa pun berada di dalamnya. Ruang kelas IIA di gedung itu, masih kokoh. Namun, ruang kelas IIB di sebelah timurnya, tanpa atap plafon.

Ya, atap plafon ruang kelas IIB, memang ambruk pada Kamis (27/7). Itu membuat pihak sekolah mengosongkan dua ruang tersebut. Sebab dikhawatirkan, insiden tak diduga akan terjadi. Sementara puluhan siswa dari dua kelas itu dipindahkan. Mereka dipindah ke ruang guru dan musala sekolah.

Sebenarnya, setelah insiden atap plafon yang ambruk itu, kegiatan belajar mengajar di sekolah itu kembali normal. Hanya saja, siswa kelas II,A kini harus belajar di musala. Sedangkan siswa kelas IIB belajar di ruang guru.

Puluhan siswa yang belajar di ruang guru pun, tampak bersemangat dengan raut muka berseri. Pun dengan puluhan siswa yang berada di musala. Meski tak senyaman saat belajar di atas meja di ruang kelas, puluhan siswa itu dengan gembira menerima materi yang disampaikan guru kelas masing-masing.

Kondisi seperti itu dipastikan akan berlangsung selama beberapa waktu ke depan. Sebab, ruang kelas yang atapnya ambruk harus diperbaiki. Baru, bisa ditempati lagi untuk kegiatan belajar mengajar.

Namun, perbaikan gedung sendiri masih membutuhkan waktu. Plt Kepala SDN Bakalan, Budi Sayogyo mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk upaya perbaikan tersebut.

Sembari menunggu waktu, kegiatan belajar mengajar tentu harus tetap berjalan. “Kami tidak ingin anak didik kami terganggu pascainsiden itu,” ujar Budi pada wartawan koran ini.

Karena itulah, siswa kelas IIA dan IIB dipindah. Ini solusi yang masuk akal, untuk tetap melanjutkan proses belajar mengajar.

Kendati telah menemukan solusi sementara untuk siswa kelas II itu, Budi tak menampik adanya kesan trauma pada siswanya. Menurutnya, hal itu sangat wajar terjadi. Apalagi, mereka semua masih anak-anak. Oleh sebab itu, selama kegiatan belajar mengajar dilakukan di kelas II, pihaknya lebih banyak menekankan siswanya untuk lebih rileks.

Hal senada diungkapkan Warinto, salah seorang guru senior di sekolah tersebut. Menurutnya, hanya siswa kelas II sajalah yang mengalami trauma atas insiden ambruknya atap plafon itu. Sebab, selain berdekatan dengan ruangan, belasan siswa juga menghadapi langsung ambruknya atap plafon itu.

“Siswa yang lain tidak ada masalah, tetap bisa belajar. Akan tetapi kami kasihan dengan siswa kelas II, mereka harus belajar di tempat lain,” ungkap Warinto.

Untuk menghilangkan trauma pada anak, pihaknya sengaja menyelipkan beberapa hiburan yang dapat menenangkan psikis siswa dari trauma. Memang, siswa kelas II sudah mendapatkan tema pelajaran sesuai jadwal yang ada.

“Tapi lebih banyak rileks. Sesekali saya masuk ke kelas mereka, saya ajak bergurau. Agar pikiran mereka kembali rileks, tidak terganggu dengan bayangan insiden Kamis (27/7),” pungkas Warinto.

AMBRUK: Plafon ruang kelas IIB SDN Bakalan yang ambruk Kamis (27/7).

AMBRUK: Plafon ruang kelas IIB SDN Bakalan yang ambruk Kamis (27/7). (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

(br/tom/mie/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia