Jumat, 19 Jan 2018
radarbromo
Kraksaan

Satgas Pangan Gerebek IKM Garam Kotak

Jumat, 19 May 2017 10:43

Satgas Pangan Gerebek IKM Garam Kotak

CEK LANGSUNG: Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifudin mengecek lokasi home industry garam ilegal milik Hanafi, Kamis (18/5). (Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

KRAKSAAN - Industri Kecil Menengah (IKM) garam kotak di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, digerebek Satgas Pangan Polres Probolinggo, Kamis (18/5). Selain mengamankan tersangka Mohammad Hanafi, 56, polisi juga mengamankan barang bukti ratusan sak garam nonyodium dan yodium.

Penggerebekan itu dilakukan sekitar pukul 15.00 WIB. Home industry ini digerebek karena tak memiliki izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan tidak ber-SNI (Standart Nasional Indonesia). Saat digerebek, ada 10 pekerja perempuan dan 3 pekerja pria yang tengah memproduksi garam kotak. Setelah dilakukan penyelidikan dan pemeriksaan, pemlilik IKM ini, Hanafi diamankan di rumahnya di Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan.

Hanafi mengaku, menjalankan usaha pembuatan garam kotak ini sejak 2003. Dulu dirinya sempat berjualan garam. Tapi, akhirnya memproduksi sendiri. “Saya tahu harus ada izin BPOM. Rencananya kalau ada dana mau saya urus izin BPOM-nya,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Bromo.

Hanafi mengaku memproduksi garam ini dengan cara mencampur garam nonyodium 20 ton dengan 1 kilogram yodium atau potasium iodate. Dirinya mendapatkan pasokan garam nonyodium itu dari Madura dengan harga Rp 2.000 per kilogram. Sedangkan, yodium potassium iodate dibeli di Surabaya seharga Rp 1,5 juta per 2 kilogram. “Kami campur garam nonyodium yang sudah diselep dengan yodium potasium iodate. Baru setelah itu dicetak garam balok dan dikemas,” jelasnya.

Hasil produksinya, dijual Rp 3.250 per pak atau 32 balok garam. Sehari, pihaknya dapat memproduksi 2.000 pak. Tapi, garam yang telah diproduksi tidak tiap hari terjual. Sebab, pemasarannya hanya sebatas Kabupaten Probolinggo. “Keuntungan bersih tiap bulan sekitar Rp 8 juta,” ujarnya.

Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin mengatakan, penggerebekan dan penangkapan Hanafi merupakan hasil ungkap tim Satgas Pangan. Dari hasil investigasi, ada home industry garam yang tidak memiliki izin BPOM dan tidak ber-SNI. “Kami langsung datangi lokasi produksi. Hasil dari pemeriksaan, kami amankan tersangka Hanafi di rumahnya,” katanya.

Dari sana, polisi menyita 100 sak garam nonyodium; 180 pak garam balok cap tiga rasa; 64 bendel plastik cap tiga rasa; dan sebuah skop. Selain itu, banyak barang bukti lainnya yang berada di dalam gudang IM ini dan masih di-police line.

Menurut Arman, tersangka melanggar pasal 62 juncto pasal 8 ayat (1)  huruf a UU Nomor 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen. Ancaman hukumannya maksimal 5 tahun penjara dan denda Rp 2 miliar. “Atau, pasal 142 UU Nomor 18/2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman penjara maksimal 2 tahun dan denda Rp 4 miliar,” jelasnya.

Arman mengatakan, meski sudah mengantongi surat izin usaha perdagangan (SIUP), home industry ini masih ilegal. Sebab, berkaitan dengan makanan dan harus memiliki izin BPOM dan Departemen Kesehatan. “Tersangka tidak memiliki keahlian. Hasil produksi juga belum diteliti di laboratorium soal kandungannya,” jelasnya. (mas/rud)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia