Jumat, 19 Jan 2018
radarbromo
Kraksaan

Seorang Peserta Tes GTT Pendarahan

Minggu, 14 May 2017 10:17

Seorang Peserta Tes GTT Pendarahan

DEMI PENDIDIKAN: Petugas medis mengevakuasi salah seorang peserta tes GTT ke rumah sakit yang mengalami pendarahan usai tes wawancara, Sabtu (13/5). (Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

KRAKSAAN - Ribuan pelamar guru tidak tetap (GTT) di Kabupaten Probolinggo yang mendapat giliran mengikuti tes wawancara, Sabtu (13/5) mendadak geger. Sebab, salah seorang diantara mereka harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan.

Dari 2.370 pelamar yang lulus verifikasi berkas, separonya atau 1.185 dapat giliran mengikuti tes wawancara. Sedangkan, sisanya dijadwalkan mengikuti tes yang sama, Minggu (14/5). Ribuan peserta itu antre untuk mengikuti tes yang digelar di Ruang Tengger Pemkab Probolinggo, di Kraksaan.

Mereka mulai mengikuti tes wawancara sekitar pukul 09.00 WIB. Untuk mengikuti tes ini, ribuan peserta antre di depan ruangan. Sekitar pukul 10.30 WIB, seorang peserta berinisial Rt, mengalami pendaraan. Itu dialaminya saat usai menjalani tes wawancara.

Sebelum sempat turun dari lantai 4, guru berjilbab ini harus ditandu. Melihat kejadian itu, sejumlah rekannya langsung memberikan pertolongan. Petugas medis juga datang untuk membawanya ke rumah sakit. “Mengalami pendarahan kandungan yang kelima, tapi sudah ikut tes kok,” ujar Asisten Administrasi Pembangunan Pemkab probolinggo, Erlin Setiawan, kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Erlin mengatakan, peserta yang mengalami pendarahan itu sudah dua kali mengalami hal serupa pada kehamilan yang ke 3 dan ke 4. Ia menduga, faktor peserta mengalami pendarahan karena rahim yang lemah. “Mungkin karena faktor rahim yang lemah. Dia sudah memiliki dua anak dan anak yang 3-4 itu juga keguguran, ini yang kelima. Kan dia sudah dua kali seperti itu. Padahal, guru itu sudah sarapan dari rumahnya,” jelasnya.

Menurutnya, peserta tes yang mengalami pendarahan itu langsung dilarikan RSUD Waluyo Jati, Kraksaan. Namun, saat Jawa Pos Radar Bromo mencarinya ke RSUD Waluyo Jati, mengalami kesulitan. Sebab, petugas jama meminta nama dan alat lengkap korban. “Namanya siapa, alamatnya di mana? Kalau tidak ada, kami tidak bisa memberikan informasi,” ujar salah satu petugas di RSUD Waluyo Jati.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Dewi Korina juga membenarkan adanya kejadian ini. Namun, dia mengaku tak mengetahui detil kejadiannya.  “Kalau tidak salah namanya (berinisial Rt). Tadi yang mendapatkan laporan Bu Asisten 3 (Erlin),” ujarnya.

Dalam tes wawancara tersebut, peserta terlihat begitu antusias. Bahkan, banyak di antara mereka yang datang sejak acara belum dimulai. Salah satunya, Imam Syahroni, 32, seorang guru di SDN Bantaran. Ia mengaku, dapat jadwal tes pada kloter kedua pukul 13,00 WIB. “Tapi, saya datang pukul 11.00 tadi,” ujarnya.

Menurutnya, dengan datang lebih awal bisa mengikuti tes dengan lebih awal dan dengan cepat. Namun, itu ternyata salah. Meski datang awal, tapi masih banyak peserta kloter pertama yang belum selesai dan mengikuti tes dalam kloternya. “Ini masih banyak yang belum selesai di sesi sebelumnya. Sehingga, jadi satu dengan yang sekarang,” jelasnya.

Sedangkan, Asisten Administrasi Umum Pemkab Probolinggo Erlin Setiawati mengaku, menyambut baik para peserta teswawancara. “Mereka datang lebih awal untuk mengetahui hasil tes dari peserta yang sebelumnya. Jadi, banyak yang tanya seperti apa tesnya,” ujarnya.

Erlin mengatakan, pihaknya tidak menarget berapa jumalah GTT yang akan menerima SK Bupati. Sebab, jika mereka layak dan sesuai persyaratan, maka akan di-SK. “Jika dari para pelamar itu layak dan berhasil dari tes, itu bukan tidak mungkin akan kami SK-kan semua dengan surat pernyataan tidak boleh menuntut menjadi pegawai negeri,” ujarnya. (mg1/rud)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia