Minggu, 25 Feb 2018
radarbojonegoro
icon featured
Advertorial

Blora Surplus Beras Nomor Tiga Se-Jateng

Senin, 22 Jan 2018 11:12 | editor : Ebiet A. Mubarok

SENANG: Bupati Blora Djoko Nugroho saat melakukan panen raya di Desa Tanjung Kecamatan Kedungtuban.

SENANG: Bupati Blora Djoko Nugroho saat melakukan panen raya di Desa Tanjung Kecamatan Kedungtuban. (Humas Pemkab Blora/ For Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BLORA – Bupati Djoko Nugroho mengatakan di tengah kabar impor beras yang akan dilakukan pemerintah pusat dengan alasan harga beras mahal dan sulit didapat, ternyata hal tersebut tidak berlaku di Blora. ‘’Kita lihat sendiri bahwa panen padi di Blora bagus, dan 2017 kemarin kita surplus beras nomor 3 se Jawa Tengah. Jadi jangan sampai ada beras impor masuk ke Blora, justru Blora yang mengirim beras ke Rohingya dan Afrika,’’ ujar dia. 

Kokok, sapaan akrabnya menepis berita beras langka, karena kenyataanya saat ini beras mudah didapat. 

‘’Kalupun harga beras atau gabah tinggi. Asal keuntungannya dinikmati petani, bukan pedagang. Gak papa lah. Sekali-sekali biar petani kita merasakan keuntungan besar. Biar petani kita kaya,” lanjutnya.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono memastikan persediaan beras secara nasional masih cukup aman.

Dia senang bisa menyaksikan padi yang melimpah di Blora.

Pada Januari saja secara nasional luas panen padi mencapai 854 ribu hektare dengan tingkat produksi mencapai 4,2 ton gabah kering atau setara 2,7 ton beras. 

Sedangkan puncak panen Indonesia akan terjadi pada bulan Maret dengan perkiraan produksi sejumlah 11,8 juta ton.

Berasnya 7,4 juta ton. Namun, setelah itu pada bulan April panen agak menurun sedikit. 

‘’Kita ingin sampaikan kepada publik bahwa sejak Desember 2017 sampai dengan Januari kita terus panen.

Artinya ada beras, Tidak ada rash, tidak ada panic buying, tidak ada orang antre cari beras,” lanjutnya.

Dia mengimbau agar masyarakat tidak perlu khawatir dengan pemberitaan impor beras yang ada. Karena menurutnya, secara nasional sejak Desember 2017 sampai Januari terus panen padi.

‘’Intinya ketersediaan pangan aman. Urusan impor itu biar urusan yang di atas. Yang penting kita kerja, kerja dan kerja, pangan tercukupi, harga baik dan anak bisa sekolah,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Reni Miharti menuturkan untuk wilayah Blora akan mengalami puncak musim panen pada bulan Februari.

‘’Puncak panen diprediksi akan terjadi di bulan Februari dengan hasil rata-rata 7 ton per hektare. Adapun harganya saat ini dos/tanpa blower 5.000/ kg GKP, jika pakai Combine Harvester bisa sampai 5.200/ kg GKP,” terangnya. 

(bj/aam/dka/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia