Sabtu, 24 Feb 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Manfaatkan Limbah Tahu sebagai Pupuk Hayati

Selasa, 16 Jan 2018 08:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

features/Jawa Pos Radar Bojonegoro

features/Jawa Pos Radar Bojonegoro

Berawal dari keresahannya melihat limbah cair tahu dibuang di sungai, Afier Jinda Tamimi pun memanfaatkan secara tepat guna. Dia pun ingin menerapkan penelitiannya di Bojonegoro.

--------------------------------------------

BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro

--------------------------------------------

JADWAL penelitian perempuan muda asal Desa Gunungsari Kecamatan Baureno masih padat di Malang. Karena itu, belum bisa membuat janji untuk bertemu di Bojonegoro. Alhasil hanya mampu berkomunikasi dengan perempuan berjilbab itu melalui sambungan telepon. 

Perempuan yang bernama Afier Jinda Tamimi itu pun saat ditelepon sedang berada di laboratorium kampusnya. Dia mengaku sedang meneliti mikroba antagonis guna menuntaskan skripsinya. 

Afier, sapaan akrabnya, singkat cerita telah memenangkan dua lomba di bidang pertanian skala nasional pada 2017 lalu.

Dengan suara lirihnya, Afier menceritakan pengalaman dan prosesnya dia mampu memboyong Juara 3 di ajang Plant Protection Day pada Oktober 2017 dan Juara best poster Lomba Presentasi Skripsi di ajang Seminar Nasional Agroekologi II pada November 2017.

“Plant Protection Day 2017 diadakan di Universitas Padjadjaran, sedangkan Lomba Presentasi Skripsi digelar di ITB,” jelas mahasiswi semester 7 Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya itu.

Awal mula proses pembuatan laporan penelitian yang mampu mengantarkannya sebagai juara 3 mengalahkan kampus-kampus ternama lainnya.

Dalam penelitian tersebut, Afier tidak sendirian, sebagai konseptor dan ketua penelitian, dia masih butuh anggota untuk menyukseskan penelitiannya tersebut.

Dia mengatakan bahwa ide untuk memanfaatkan limbah cair tahu sebagai media perbanyakan mikroba antagonis berkat dorongan dari dosennya.

“Berhubung kerap kali diajak penelitian dengan dosen, saya disuruh cari kasus atau masalah di lapangan,” ujarnya.

Dia menemukan lokasi studi kasus di Desa Ngijo Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang.

Di lokasi tersebut, ada salah satu pabrik tahu yang membuang limbahnya ke sungai.

Melihat kondisi tersebut, Afier pun langsung berpikir untuk memanfaatkan limbah tersebut agar tepat guna dan memiliki nilai ekonomi.

Setelah diteliti olehnya, kandungan limbah cair tahu bisa dimanfaatkan sebagai media perbanyakan mikroba antagonis yang nantinya bisa digunakan untuk mengendalikan penyakit kresek pada padi.

“Istilah umumnya, mikroba antagonis tersebut akan menjadi pupuk hayati, sehingga petani sebaiknya menghindari menggunakan bahan kimia seperti pestisida,” tuturnya. 

Pupuk hayati selain memiliki kemampuan sebagai agens biokontrol dan menjaga lingkungan tanah, pun mampu menjadi stimulator pertumbuhan tanaman.

Dia pun berharap teknologi tersebut mampu meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan.

Proses penelitian dan pembuatan laporan, Afier mengatakan memakan waktu lima bulan.

“Saya buat sekitar lima bulan. Alhamdulillah lancar, karena dua anggota saya Ulfa Ulinnuha dan Luki Faizal sangat membantu saya,” tuturnya. 

Sementara itu, pada November 2017 lalu, dia pun berkesempatan secara individu mengikuti Lomba Presentasi Skripsi dalam ajang Seminar Nasional Agroekologi II di ITB.

Pada lomba tersebut, Afier berhasil memboyong juara best poster

. “Saat itu skripsi yang saya presentasikan dengan poster tentang dinamika populasi wereng batang coklat,” jelasnya.

Dia pun tetap dibantu untuk proses desain posternya, Afier hanya menyodorkan konsep dan idenya. 

Kecintaannya dengan tanaman memang sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMP.

Dia mengaku sangat mencintai mata pelajaran biologi. Lalu, saat SMA, Afier pun memutuskan menjadi seorang dokter tanaman.

“Sebab pola pikir konvensional seperti petani harus punya lahan tidak selamanya benar maupun salah, banyak sektor di pertanian yang bisa dikembangkan,” tuturnya.

Usai menuntaskan S1, Afier masih ingin mengembangkan ilmunya lagi. Jika diberi kesempatan oleh Tuhan, Afier sangat ingin menimba ilmu di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 

Afier pun ingin mengembangkan pertanian organik di Bojonegoro. Ingin juga meneruskan lahan perkebunan milik abahnya yang bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro.

“Abah di rumah kebetulan memanfaatkan lahan di dekat rumah bekerjasama dengan DLH Bojonegoro untuk pembibitan kelengkeng, cabai, srikaya, dan sebagainya.

Jadi ingin bantu juga,” ujarnya. Sebab, imbuh dia, abahnya pun kerap meminta saran padanya apabila ada masalah di lahannya. 

Afier pun memiliki pandangan bahwa terkadang memang harus kenyang akan kegagalan dulu, baru bisa menikmati kesuksesan tanpa ujung.

Intinya, habiskan jatah gagalmu sebelum datang waktu suksesmu.

“Teruslah berproses, jangan menjadi pribadi yang stagnan tapi jadilah pribadi seberpengaruh mungkin agar semua orang mengakuimu,” pungkasnya.

(bj/gas/nas/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia