Selasa, 12 Dec 2017
radarbojonegoro
icon featured
Kolom
Zahidin

Jalan Jalan ke Turki (10)

Kamis, 12 Oct 2017 22:58 | editor : Ebiet A. Mubarok

Jalan Jalan ke Turki (10)

SAMPAILAH di Anggora. Kota terpenting di Turki. Kota asal-muasal kucing yang berbadan langsing, berbulu lebat dan berekor panjang. Kucing yang harganya seekor mulai Rp 4-15 juta. Namun, di sini kita tidak menjenguk kucing atau museum kucing Anggora. Melainkan melihat makam Mustafa Kamal Ataturk di atas bukit Anggora.

Inilah ibukota Turki. Yang sejak tahun 1930 diubah namanya menjadi Ankara. Perjalanan di kota ini sudah memakan 2.192 kilometer dari Istanbul. Tinggal 608 kilometer lagi sudah tamat keliling Turki. Perjalanan darat yang menakjubkan, dan juga melelahkan.

Tiba di Ankara hari sudah terik. Matahari pas di atas kepala. Kendati demikian, cuaca awal  musim gugur membuat panas tidak begitu terasa. Pepohonan yang rindang menambah sejuknya suasana.

Di pintu masuk bukit Anggora itu, dijaga oleh dua tentara. Tentaranya menjaga bak patung. Posisinya tegak berdiri. Tak boleh gerak sedikit pun. Matanya pun seperti menatap kosong. Berkedip boleh, tapi tidak boleh lirak lirik. Bak penjaga istana Buckingham, London. Menyeka keringat saja dilarang. Bahkan, di tengah terik itu, ada petugas khusus yang menyeka keringat yang meleleh di kepala dan pipinya.

Makam Presiden pertama Republik Turki Mustafa Kemal Ataturk berada di atas bukit. Namanya Anitkabir. Ada empat bagian utama dari Anitkabir. Yaitu Jalan Singa, lapangan terbuka Victory Square, The Hall of Honor/Aula Kehormatan (lokasi makam Ataturk), dan taman perdamaian yang mengelilingi monumen.

Disebut Jalan Singa karena di sepanjang jalan untuk pejalan kaki yang panjangnya 262 meter ini pada kedua sisinya berdiri 12 pasang singa. Di ujung jalan ini terbentang lapangan terbuka (Victory Square). Area sepanjang 129 m dan lebar 84 m ini dirancang untuk menampung 40.000 orang pada acara-acara seremonial.

The Hall of Honor terletak di sebelah kiri lapangan terbuka dan merupakan simbol ikon Anitkabir itu sendiri. Di sinilah makam Ataturk berada. Struktur bangunan The Hall of Honor ini memanjang ke samping dengan panjang 41,65 m dan lebar 57,35 m. Serta naik tangga hingga ketinggian 17 m dari lapangan terbuka.

Makam Ataturk terletak tepat di bawah sarkofagus (peti marmer) seberat 40 ton. Sedangkan mayat Ataturk dimakamkan di dalam kamar makam khusus di tingkat bawahnya. The Hall of Honor berbentuk oktagonal dengan gaya arsitektur Seljuk dan Ottoman, serta langit-langit berbentuk piramida dihiasi mozaik emas.

Di kanan-kiri makam, terdapat areal sebagai Museum Ataturk. Tempat dipamerkan pakaian sipil dan resmi Ataturk, barang-barang pribadinya, berbagai hadiah yang diberikan kepadanya, medali, prangko, koin, mobil, dan foto-foto.

Ketika Ataturk meninggal 10 November 1938, jasadnya tidak bisa dimakamkan segera. Banyak ulama yang enggan memakamkan. Mayatnya disimpan di Istana Dolmabahce. Kemudian dipindah di Museum Etnografi, Ankara. Baru pada 10 November 1953 jasad Ataturk dipindah ke Anitkabir. Atau 15 tahun setelah kematiannya. Jasadnya diawetkan seperti mayat Firaun.

Mengapa sampai demikian? Meski Ataturk dijuluki Bapak Orang Turki, namun dialah yang telah memisahkan agama dari sistem pemerintahan. Dia juga dijuluki bapak sekularisasi di Turki. Sebab, setelah dia resmi menjadi presiden, Ataturk mengubah sistem pemerintahan Islam menjadi sekuler.

Di antaranya menghapus syariah Islam dan tidak ada lagi jabatan kekhalifahan, mengganti hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum barat, menutup beberapa masjid dan madrasah, mengganti agama Negara dengan sekularisme.

Dia juga mengubah azan ke dalam bahasa Turki. Dulu, banyak masyarakat Turki yang menangis dibawah menara. Karena merindukan adzan sesauai bahasa aslinya. Adzan adalah lambang agama. Di mana pun dikumandangkan adzan di seluruh dunia, bahasanya sama.

Tak hanya itu. Ataturk juga  melarang pendidikan agama di sekolah umum, melarang jilbab bagi kaum wanita dan pendidikan terpisah. Presiden itu juga mengganti naskah-naskah bahasa Arab dengan bahasa Roma, pengenalan pada kode hukum barat, pakaian, kalender, serta alfabet, dan mengganti seluruh huruf Arab dengan huruf latin.

Sekularisasi yang dilakukan 90 tahun lalu, membekas sampai sekarang ini. Menurut Ali Ekinci, pemandu keliling Turki, sekarang ini 99 persen penduduk Turki beragama Islam. Total jumlah penduduknya sekitar 80 juta. Namun, rata-rata sekuler. ‘’Mereka percaya Allah, tapi tidak menjalankan syariatnya. Masyarakat Turki cenderung berprilaku dan berbudaya Eropa. ’’ katanya.

Masyarakat Turki lebih berkiblat ke Angkara (simbul sekuler) dibanding Istanbul (simbul Islam). Hanya saja, sejak presiden dijabat Recep Erdogan, gairah Islam di Turki mulai bangkit lagi. Kebebasan beragama terus tumbuh berkembang. Gairah belajar Islam juga makin tinggi. Semangat menggunakan huruf-huruf Arab tumbuh kembali. Berbagai tempat usaha, toko-toko, dan restoran sudah mulai menggabungkan huruf latin dan Arab.

Keberanian Erdogan bersuara lantang kepada pemimpin-pemimpin dunia Barat, sangat disenangi masyarakatnya. Pembelaan dan kepedulian Erdogan terhadap masyarakat Islam yang tertindas di berbagai belahan dunia adalah ruh baru bagi rakyatnya. Termasuk mulai digulirkan kembali adanya adzan di Hagia Shopia, bekas gereja yang menjadi masjid dan sekarang menjadi museum.

Ketika salat subuh di masjid Pasakoy Bolu, Imam Masjidnya Orhan Onal mengatakan bahwa sangat senang bertemu dengan sesama muslim seperti warga Indonesia. Dia mengaakan bahwa gairah berislam di Turki tumbuh kembali. ‘’Dulu kami menangis karena adzan harus berbahasa Turki. Namun, sekarang kami gembira sekali. Saat subuh seperti ini adzan asli bersahut-sahutan berbunyi,’’ katanya.

Toko-toko dan para pedagang di Turki pun sangat senang kalau pembelinya adalah muslim. Misalnya, dari Indonesia, Malaysia, Pakistan atau India. Kalau pembelinya dari Eropa, Jepang atau China, maka harga yang diberlakukan adalah dolar Amerika. Namun, kalau turis muslim diberi harga sama cuma memakai kurs lira. Entah ini sebenarnya atau siasat dagang saja.

Gairah ke masjid juga demikian. Saat salat dzuhur di masjid Ahi Selebi Istanbul, jamaahnya full. Tak ada sela shafnya. Bahkan, beberapa harus menunggu selesai salat jamaah utama. Mereka salat jamaah sendiri pada gelombang kedua.

Kini, Turki sedang membangun masjid superbesar. Segede stadion sepakbola. Letaknya di atas bukit Marmara. Bisa dilihat dari selat Bosphorus dan Istana Topkapi. Warnanya putih dengan menara-menara tinggi. Kelak jika sudah jadi, bisa menampung sampai 60.000 jamaah. Luar biasa sekali.

Anak-anak mudanya. Di tengah lautan budaya Eropa. Sudah terang-terangan memakai jilbab dan burqa. Pemandangan ini terlihat di Istanbul, cruise selat Bosphorus, Bursa, Pamukkale, Kappadokya, Konya, Bolu, dan juga di Angkara. Di jalan-jalan, sekitara masjid, mall-mall dan museum-museum di sana.

Bahkan ada rumor, bom bunuh diri bandara Turki pada Juni 2016 yang menewaskan 28 orang dan 60 luka,  serta percobaan kudeta militer sebulan sesudah bom itu (Juli 2016), adalah bagian riak dari yang tidak suka Erdogan semangat kembali berislam.

Di tengah lapangan depan makam Ataturk (Victory Square), saya lantas bertanya kepada Ali Ekinci. Apakah Erdogan lebih cenderung ke Istanbul dibanding Angkara? Ali menjawab diplomatis. Menurut dia, undang-undang Negara Turki masih menganut ideologi sekuler. ‘’Dan semua pejabat pemerintah, mulai presiden sampai ke bawahnya harus tunduk terhadap undang-undang itu,’’ katanya.

Hanya saja, kata dia, masyarakatnya sudah mulai membebaskan rakyatnya untuk belajar agama. Mengaji Alquran. Mengkaji kitab-kitab. Bahasa apapun, termasuk bahasa Arab. Misalnya, anak-anak diperbolehkan lagi mengaji Alquran di masjid-masjid. Utama saat musim panas dan dingin. ‘’Tetapi, sampai sekarang undang-undang masih melarang pendirian madrasah. Termasuk pelajaran agama dalam kurikulum pendidikan umum,’’ tandasnya.

Begitu juga soal haji. Pemerintah Turki membebaskan warganya berangkat ke Tanah Suci. Baik umroh maupun haji. Tahun 2017 ini ada sekitar 79.000 jamaah haji asal Turki. Merupakan salah satu dari 10 besar Negara di dunia yang memberangkatkan haji.

Akan tetapi ada aturannya. Yang diperbolehkan berangkat haji adalah usia 60 tahun ke atas. Di bawah itu, belum boleh ke sana. Kecuali untuk umroh. Olaah…makanya, jamaah haji dan umroh asal Turki terlihat tua-tua. (bersambung)

(bj/*/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia