Kamis, 14 Dec 2017
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Jumlah Desa Rawan Air Bersih Bertambah

Rabu, 20 Sep 2017 07:10 | editor : Ebiet A. Mubarok

Cek Jadwal Dropping Air

Cek Jadwal Dropping Air (M. Nurcholis/Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO – Dampak kekeringan makin meluas. Indikasinya, jumlah desa yang rawan air bersih dan menjadi sasaran pengiriman air bertambah.

Sesuai jadwal pengiriman air yang dibuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai 16 sampai 30 September nanti, ada 10 desa di 6 kecamatan.

Juga ada tambahan usulan dua desa lagi, namun belum masuk daftar jadwal pengiriman di BPBD. Dua desa baru yang mengusulkan adalah Mlijeng dan Tlogoayu, Kecamatan Sumberrejo. 

Dropping Air ke daerah

Dropping Air ke daerah (M. Nurcholish/Radar Bojonegoro)

”Kita memang jadwalkan setiap hari dropping air ke desa yang membutuhkan,’’ ujar  Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Bojonegoro Budi Mulyono kemarin.

Enam desa yang sebelumnya mengajukan bantuan air bersih itu adalah empat desa di Kecamatan Ngraho, yakni Desa Nganti, Luwihaji, Jumok, dan Sugihwaras.

Kemudian satu desa di Kecamatan Kepohbaru yakni Desa Pejok dan Desa Gamongan, Kecamatan Tambakrejo. Namun, di kecamatan tambah satu desa yakni Desa Malingmati.

Kemudian di Kecamatan Sukosewu ada Desa Sidorejo, Kecamatan Purwosari ada Desa Donan dan Tlatah. 

’’Sampai saat ini sudah empat tangki yang kami kirim, dan terus dikirim setiap hari. Untuk desa lainnya segera menyusul,’’ tambahnya.

Menurut dia, sempat ada informasi tambahan pengajuan air yakni di Desa Megale, Kecamatan Kedungadem.

Namun, setelah dia klarifikasi ke kepala desa (kades) setempat, ternyata kebutuhan air warga desa itu masih tercukupi. Sehingga, belum memerlukan di-droping air. 

’’Hanya, warga memang mengajukan tambahan untuk jaringan air PDAM, bukan dropping air. Kadesnya bilang kalau sudah butuh dropping air akan langsung kontak kami,’’ ungkapnya.

Sekadar diketahui, wilayah yang dilanda kekeringan di Bojonegoro rata-rata di daerah pinggiran. Sebagian besar juga berada di dataran yang tinggi.

Sehingga, sumber air sangat sulit didapat. Mengebor tanah untuk membuat sumur juga sulit menemukan sumber air yang cukup.

Karena itu, yang paling cocok untuk di Bojonegoro adalah membuat embung. Hal itu seperti disampaikan Bupati Bojonegoro Suyoto saat menerima kunjungan kepala BNPB beberapa hari lalu.

Pencarian sumber air, misalnya dengan membuat sumur bor sudah pernah dilakukan dan belum berhasil. Beberapa ahli pernah didatangkan namun membuat sumur bor, ternyata belum bisa memberi jawaban kebutuhan air.

Sedangkan pembuatan embung yang dilakukan cukup berhasil. Saat ini, ini ratusan embung sudah dibuat di daerah-daerah yang rawan kekeringan.

Catatan terakhir ada 500-an embung yang sudah aktif. Ke depan akan ditambah karena lebih efektif. Sedang sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nadhif Ulfia mengatakan, upaya penanganan kekeringan sudah dilakukan sejak 2014 silam.

Hanya, upaya penanganan itu belum bisa menjangkau semua. Misalnya pada 2014 sudah ditangani 14 desa, kemudian tahun 2015 sebanyak 15 desa dan tahun 2016 sebanyak 16 desa yang ditangani.

 ’’Diharapkan, ke depan desa-desa yang rawan kekeringan tersebut sudah ditangani semua,’ katanya.

(bj/cho/nas/ono/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia