Senin, 23 Oct 2017
radarbojonegoro
icon featured
Features

Yuk, Kenalan dengan Kamaludin,Difabel yang Jago Gambar Sketsa

BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro

Selasa, 19 Sep 2017 07:35 | editor : Ebiet A. Mubarok

Yuk, Kenalan dengan Kamaludin,Difabel yang Jago Gambar Sketsa

Sosok pria sederhana itu bernama Kamaludin. Pria asal Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro, adalah difabel.

Tangan kanannya sudah tidak berfungsi sejak usia lima tahun. Meski difabel, dia tetap berkarya. Bagaimana kisahnya?

BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro

WAJAH semringah dan sosok yang supel menyambut Jawa Pos Radar Bojonegoro saat bertandang ke rumahnya di kawasan Ledok Kulon, Bojonegoro.

Tanpa basa-basi, pria yang menyambut itu menjulurkan tangan kirinya dan menyalami dengan sangat erat. Sedikit kaget bersalaman dengan tangan kiri, tetapi memang begitu adanya, pria itu sudah tidak bisa menggunakan tangan kanannya.

”Bingung tidak cari rumah saya?” tanyanya sambil tertawa kecil. Lalu, pria yang sedang mengenakan jaket klub sepak bola itu mengajak ke kamarnya untuk memperlihatkan sedikit karya-karya yang dia tempel di tembok kamarnya.

Pria supel itu bernama Kamaludin. Dia lantas mempersilakan Jawa Pos Radar Bojonegoro duduk di ruang tamunya sembari dia mengambil portofolio karya-karya berupa gambar sketsanya.

Sambil tersenyum dan tertawa, dia selalu merendah atas karya-karyanya. ”Gambar saya jelek, tidak mirip aslinya,” ujarnya. Dia masih merasa minder dengan hasil karyanya, padahal karya yang dia buat melebihi ekspektasi.

Sebab, Udin, begitu dia sering disapa, menggambar menggunakan tangan kirinya penuh dengan perjuangan. Udin belajar menggambar dengan tangan kirinya karena memang tangan kanannya sudah tidak bisa dia fungsikan.

Udin pun bercerita, tangan kanannya tak berfungsi sejak usia lima tahun. Dikarenakan dia saat kecil itu pernah jatuh dari atas kursi saat asyik bermain.

Usai jatuh, Udin pingsan dan dilarikan ke rumah sakit oleh orang tuanya. Setelah dirawat, ternyata ada kesalahan pada urat sarafnya, sehingga tangan kanannya mati.

Udin pun harus menelan kenyataan pahit itu. Sebelum masuk sekolah dasar, Udin mengasah tangan kirinya agar mampu menulis.

”Dulu saya berusaha semaksimal mungkin agar mampu menulis dan bisa bersekolah,” jelasnya.

Sayangnya, Udin memutuskan menghentikan pendidikannya ketika tamat SMP. Dia mengatakan, sudah tidak sanggup lagi meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi.

Rasa penyesalan dalam benaknya pasti ada. Namun, sekarang dia sudah mengikhlaskan semuanya kepada Allah SWT. Pria kelahiran 18 Agustus 1979 itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah membantu apa pun yang bisa dia kerjakan di rumah.

”Selama ini ya pengangguran, saya bantu-bantu pekerjaan rumah,” ujarnya. Tetapi, dari dalam diri Udin sebenarnya terpendam bakat-bakat seni yang bisa lebih membuncah. Karena itu, bakat seni itu perlu diasah olehnya secara bertahap.

Sebelum dia menggambar sketsa wajah, Udin sudah senang berkreasi dengan barang-barang bekas. Apabila ada barang bekas, dia mengecat dan menggambar kaligrafi untuk pajangan di tembok rumah.

Dia pun mampu berkreasi dengan kulit telur yang dijadikan untuk ornamen pada pigura gambar kaligrafi buatannya. Udin melakukannya dengan sepenuh hati, tidak pernah mengaku sebagai seniman.

Sosoknya memang masih terkesan minder dengan orang di sekitarnya. “Saya hanya ingin memanfaatkan barang-barang bekas di sekitar rumah saya, sayang kalau dibuang begitu saja,” katanya.

Tak hanya berkarya dengan barang bekas, dia pun saat musim kemarau rutin membuat layang-layang untuk anak-anak kecil.

Awalnya membuat layang-layang itu iseng, tetapi ternyata informasinya terdengar hingga luar desa.

”Saya juga heran, setiap kali saya buat layang-layang, pembelinya dari luar Ledok Kulon, tetapi masih di kawasan kota, mereka ke rumah untuk membeli,” jelasnya.

Proses pembuatannya juga mandiri, Udin hanya dibelikan bahan-bahannya oleh bapaknya.

Selanjutnya pada 2016, saat dia berselancar di media sosial Instagram, Udin tiba-tiba nyasar di sebuah akun bernama @shierly_arts dan ingin mencoba menggambar sketsa wajah.

Dia belajar dan melatih tangan kirinya agar bisa luwes menggoreskan pensil di kertas. ”Saya belajar dan melatih tangan kiri untuk menggambar sketsa, serbaotodidak, sesekali menonton tutorial di YouTube,” katanya. 

Dia pun terus memproduksi karya-karyanya dan kerap memamerkan hasil sketsanya di akun Instagram miliknya. ”Saya iseng ingin ikut berpartisipasi menggunkan Instagram dan membagikan hasil karya saya,” tuturnya. 

Uniknya, Udin ini tidak menggambar di sketch book atau minimal buku gambar. Namun, dia memilih menggambar di kerta-kertas undangan yang sudah tidak terpakai.

”Kertas undangan kan baliknya putih polos, jadi saya manfaatkan untuk menggambar, biar tidak mubazir,” celetuknya.

 Sementara itu, keluarga Udin selalu memberikan dukungan positif bagi setiap karya yang dia buat. Selama ini, banyak orang yang menanyakan kepada Udin untuk minta digambarkan. Namun, sayangnya Udin masih minder.

Dia merasa masih butuh untuk belajar lebih baik lagi ketika menggambar sketsa. ”Saya belum siap menerima pesanan gambar sketsa, saya takut mengecewakan klien,” ujarnya. 

Dari lubuk hati yang paling dalam, potensi Udin dalam berkesenian cukup besar. Walaupun segala keterbatasan yang dia miliki, Udin punya talenta-talenta yang terpendam.

Perlu adanya dorongan semangat yang lebih besar lagi agar Udin bisa memiliki rasa percaya diri yang begitu menggebu-gebu.

(bj/gas/nas/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia