Kamis, 23 Nov 2017
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Curhat Petani Tembakau : Berharap ‘’Kue’’ DBHCHT

Selasa, 12 Sep 2017 06:30 | editor : Ebiet A. Mubarok

KURANG SEJAHTERA: Petani tembakau di Tuban penyumbang dana bagi hasil cukai hasil tembakau.

KURANG SEJAHTERA: Petani tembakau di Tuban penyumbang dana bagi hasil cukai hasil tembakau. (Canggih Putranto/Radar Tuban)

TUBAN – Dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) sebesar Rp 18,1 miliar yang diterima Pemkab Tuban tidak lepas dari peran dan keberadaan petani tembakau di Tuban.

Pasalnya, salah satu indikator utama untuk memperoleh DBHCHT adalah sebagai daerah penghasil tembakau. Dan, Tuban masuk kategori tersebut.

Sayang, besarnya DBHCHT yang diterima pemkab tidak berbanding lurus dengan perhatian pemkab terhadap petani tembakau di Bumi Wali.

Baik dalam hal pemberian bantuan maupun kegiatan peningkatan kualitas bahan baku. Jangankan bantuan, akses untuk mendapatkan pasar yang besar pun masih bergantung pada tengkulak.

Sehingga, harga juga dikendalikan mereka yang menguasai pasar. Terbukti, masih banyak petani tembakau yang minim akses untuk menjual hasil panennya.

Padahal, sudah dijelasakan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan DBHCHT.

Salah satu komponen utama peruntukan DBHCHT adalah peningkatan kualitas bahan baku dan penguatan kelembagaan kelompok petani tembakau.

‘’Selama ini biasanya ada yang ngepul (melalui tengkulak),’’ kata Nasirul Umam, petani tembakau di Kecamatan Senori.

Tak pelak, urusan harga bergantung pada tengkulak. Seakan tidak ada nilai tawar dari petani. Kondisi ini berbanding terbalik dengan ''kue'' DBHCHT yang diterima pemkab.

Berkat tembakau, pemkab mendapat kucuran DBHCHT sebesar Rp 18,1 miliar atau rata-rata dalam sehari sekitar Rp 50 juta.

‘’Dengan dana (DBHCHT, Red) sebesar itu, kita berharap ada perhatian serius dari pemkab terhadap petani tembakau di Tuban,’’ ujar Irul.

Paling tidak, lanjut dia, ada kemudahaan yang diberikan petani tembakau dalam meningkatkan kualitas bahan baku.

Di antaranya memberikan bantuan, pelatihan, dan asuransi bagi petani tembakau. ‘’Kalau hasil tembakau meningkat, otomatis DBHCHT juga meningkat,’’ imbuh Irul.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Tuban Murtadji mengakui, bantuan untuk petani tembakau di Tuban masih sebatas pemberian bibit.

Belum sampai pada jaminan akses pasar. Apalagi pemberian asuransi. ‘’Sampai saat ini kita masih sebatas pemberian bantuan bibit.

Dan, ini (untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau, Red) menjadi PR kita ke depan,’’ kata dia yang berjanji bakal membuat program-program peningkatan kesejahteraan petani tembakau

(bj/can/tok/ds/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia