Sabtu, 23 Sep 2017
radarbojonegoro
Kolom

Gagal Paham Harga Cabai

Minggu, 10 Sep 2017 05:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

Khorij Zaenal Asrori

Khorij Zaenal Asrori

MASIH ingat ketika harga cabai menembus hampir Rp 100.000. Semua orang bingung. Kaget dan bikin geram. Terutama, ibu-ibu rumah tangga. Saban hari, ngerumpinya hanya resah cabai mahal. Ini kenapa? Ini siapa yang salah? Dan sampai-sampai ibu-ibu PKK mengajak warganya menanam cabai masal di sekitar rumah.

Hanya cabai saja, harganya selangit. Bahkan, membeli Rp 1.000 saja, hanya dapat dua until (cabang) cabai. Mbah Umamah, tetangga saya yang jualan belanja, sampai bingung, melayani pembeli hanya gara-gara membeli cabai Rp 2.000. Biasa di kampung, membeli cabai nggak pakai takaran 1 kilogram atau 0,5 kilogram.

Bayangkan, betapa mahalnya cabai. Pedagang makanan bingung, cabai mahal, kadang ikut menaikkan harga. Atau mengurangi jatah menunya. Pedagang gorengan sampai selalu bilang cabainya habis, ketika ada yang membeli beragam gorengan.

Tapi, sekarang kondisinya 360 derajat. Harga cabai anjlok atau terjun bebas. Murah banget. Bayangkan, harga yang sebelumnya pernah mencapai rekor Rp 100.000, kini hanya Rp 20.000 per kilogram.

Jawa Pos Radar Bojonegoro, edisi 9 September 2017, menyebutkan harga cabai merah besar di Pasar Kota Bojonegoro semakin terjun bebas. Harga di pasaran hanya Rp 10.000 per kilogram. Lebih merosot lagi, di tingkat petani, sekitar Rp 5.000. Banyaknya rantai distribusi, memicu harga di tingkat petani dan pasar terpaut separonya. Petani resah dan selalu memastikan merugi menanam cabai dengan harga murah ini. Biaya perawatan tak sebanding dengan hasil menanam cabai ini.

Hal sama dialami sentra petani cabai di Desa Kemiri, Kecamatan Jepon, Blora. Petani memastikan merugi banyak karena harga cabai yang terjun bebas. Jawa Pos Radar Bojonegoro, halaman Radar Blora-Cepu edisi 8 September 2017, juga memastikan petani kewalahan dengan harga cabai yang anjlok. Padahal, kualitas cabai mereka ini sangat bermutu. Panen kali ini cukup bagus, karena tanaman tak terkena hujan. Bahkan, kualitas pabrikan. Sebab, cabai mereka ini biasanya dibeli pabrikan Indofood (salah satu perusahaan makanan).

Namun, dengan harga cabai murah ini membuat petani kebingungan. Pabrikan belum kunjung membeli cabai. Dijual di tingkat tengkulak dan pasar, harganya hancur. Padahal, mereka berharap kualitas cabai bermutu kali ini seharusnya sebanding lurus dengan harga.

Masih ingat, gerakan menanam cabai di rumah. Ya, gerakan itu sering dilakukan di tingkat desa hanya gegara ketika harga cabai mahal. Dengan menanam cabai di rumah, setidaknya mengurangi rasio belanja membeli cabai.

Saya sendiri, kala itu menanam hampir 40 batas cabai. Hasilnya memang memuaskan. Sejak bulan lalu, saban hari bisa memetik cabai. Saking banyaknya sampai lupa memetik cabai yang sudah memerah di halaman rumah.

Sayangnya, gerakan itu sekarang nggak kontinyu. Pemerintah sudah tidak kebingungan ketika harga cabai murah. Dan, masyarakat juga tidak diinstruksikan menanam cabai di halaman rumah. Tapi, berbagai kalangan sduah memprediksi, tak lama lagi dan tak lama lagi, pasti harga cabai akan mahal.

Terutama memasuki musim hujan, nanti diprediksi harga cabai akan meroket. Dan, ini terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya. Ujungnya nanti pasti pihak terkait akan beralasan, cabai mahal karena pengaruh cuaca tak menentu. Banyak gagal panen memicu pasokan cabai minim.

Nah, tentu tak bijak, bila alasan harga cabai mahal karena pengaruh cuaca. Alasan pengaruh alam ini sama seperti datangnya banjir Bengawan Solo. Kebanyakan menyangka banjir diprediksi tiba juga karena pengaruh alam. Lantas, ketika kemarau atau tidak banjir seperti ini, kita terbiasa tak memikirkan datangnya banjir.

Persis dengan cabai. Ketika harga murah, setidaknya stakeholder terkait tak pernah terbayangkan memikirkan jangka panjang. Setidaknya dengan harga murah ini, apa yang harus kita perbuat bila nantinya harga cabai ini meroket.

Minimal melakukan stabilisasi harga. Tentu, agar terjadi keseimbangan kemakmuran. Bagaimana menempatkan harga cabai sesuai porsi keseimbangan. Petani tak merugi, juga konsumen tak mengeluh harga ketika mahal. Setidaknya, dengan harga cabai murah ini menjadi momen dinas terkait untuk mengatur pola tanam di sentra-sentra cabai. Pola tanam ini penting agar ketersediaan pasokan terus terjaga. Tanpa ada pengaturan pola tanam, harga cabai mahal akan berlangsung di episode-episode selanjutnya.

Kemarin pagi (9/9) ketika ngopi bersama dengan seorang pedagang di Pasar Dander juga membahas murahnya harga cabai. Dia pun menyarankan momen ini kesempatan melakukan pengeringan cabai. Artinya cabai dikeringkan. Dan bisa menjadi cadangan dan dikonsumsi ketika cabai mahal. Seandainya, pihak terkait menyarankan masyarakat melakukan pengeringan cabai, setidaknya bisa mengurangi keresahan ketika harga mahal.

Butuh keberanian untuk menstabilkan harga cabai. Mumpung Bojonegoro pernah memiliki ikon Kabupaten Lumbung Energi dan Pangan, tentu sudah saatnya memikirkan pembangunan gudang penyimpanan (cold storage).

Clod storage dengan sistem pendingin ini bisa diletakkan di sentra-sentra cabai. Keberadaannya bisa menyimpan cabai bisa bertahan lama. Sekaligus menjadi stabilisasi cabai ketika harga mahal. Mumpung Bojonegoro masih memiliki kekayaan migas, setidaknya cold storage bisa direalisasikan. Bila Kementerian Pertanian sulit merealisasikannya, kenapa Bojonegoro tak bisa memulainya. (*)

(bj/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia