Selasa, 21 Nov 2017
radarbojonegoro
icon featured
Features

Tommy Aldy, Pilar Pertahanan Persibo dari Jakarta  

Minggu, 10 Sep 2017 06:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

Tommy Aldi, Pemain Persibo

Tommy Aldi, Pemain Persibo (Dokumen Pribadi)

Tommy Aldy, Pilar Pertahanan Persibo dari Jakarta. Tak banyak pemain Persibo sekaligus menyandang mahasiswa. Di tengah kesibukan latihan dan bertanding, Tommy punya kewajiban menuntaskan skripsi. Baginya, membawa Persibo lolos Liga 2 target utamanya.

W. RIZKIAWAN, Bojonegoro

TOMMY Aldy Rahmawansyah tak pernah mengira jika dalam perjalanan hidupnya, bakal mampir ke Bojonegoro. Lahir di Jakarta, Tommy tidak pernah sekalipun mengenal Bojonegoro sebelumnya.

Praktis, dia mendengar nama Bojonegoro lamat-lamat ketika Persibo menjadi juara Piala Indonesia beberapa tahun lalu. Selebihnya, dia belum tahu di mana letak Kota Ledre ini.

Ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro di mes Persibo, Tommy banyak bercerita tentang perjalanan karirnya sebagai pemain sepak bola profesional.

Sejak usia dini, sudah banyak klub meminatinya sebagai pemain bertahan, sebelum akhirnya singgah di Persibo Bojonegoro. 

Lahir di Jakarta 21 Mei 1995, Tommy tumbuh di keluarga jauh dari sepak bola. Bahkan, hampir seluruh keluarganya tidak ada yang berhubungan dengan olahraga.

Namun, sejak di bangku SMP, Tommy mulai mengenal sepak bola dari teman-temannya. Waktu itu, bermain sepak bola harus di kampung seberang. Rumahnya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, jarang ada anak suka main bola.

Kesukaannya bermain bola, membawanya bermain untuk klub profesional saat duduk di bangku SMA. Tommy mulai mengawali karir di Persijatim Jakarta Timur pada 2014 (Divisi1). Tahun yang sama, dia bermain untuk Mitra Barito, Kalimantan Tengah (Liga Nusantara).

Setahun kemudian, tepatnya 2015-2016, Tommy bermain Jember United (ISC). Sempat pulang ke Jakarta karena kompetisi selesai, tiba-tiba mendapat tawaran bermain Persibo. ‘’Persibo itu tim besar (pernah juara Liga Indonesia) jadi saya langsung menyetujuinya,” kata Tommy.

Salah seorang kawan dari Pelatih Persibi I Putu Gede yang memperkenalkan dengan Tommy. Tommy masih ingat, kali pertama berangkat ke Bojonegoro naik kereta api dari Stasiun Senen, Jakarta.  

“Mei 2017, kali pertama menginjakkan kaki ke Bojonegoro,” ucapnya sambil tersenyum. 

Selain suhu cukup panas, belum ada satu pun pemain yang dia kenal ketika kali pertama di Kota Ledre. Sehingga, sempat terbersit darinya untuk pulang. Namun, itu tidak lama, karena bertemu teman-teman yang ramah. 

“Bojonegoro sangat panas. Lebih panas dari Jakarta, Jember, hingga Kalimantan. Bahkan kota paling panas yang pernah saya kunjungi,” katanya sambil tertawa. 

Anak pertama dari dua bersaudara itu menceritakan, di keluarganya, sepak bola bukan olahraga yang dikenal. Tidak ada satupun garis keluarganya pernah berhubungan dengan olahraga, apalagi sepak bola. Karena itu, keluarganya mendukung karir sepak bolanya dengan syarat ada kompetisi yang berjalan. 

Tetapi, jika tidak ada kompetisi, keluarganya mendorongnya fokus pada pendidikan. Sampai saat ini, Tommy masih menyandang status mahasiswa semester akhir di Universitas Darma Persada, Jakarta Timur. Uniknya, Tommy tidak mau mengambil jurusan olahraga. 

Dia lebih memilih jurusan manajemen. Sebab, dia tidak menyukai olahraga. “Saya tidak suka olahraga, saya hanya suka bermain sepak bola,” ucapnya.

Bermain bersama Persibo, sebenarnya dia sambi mengerjakan skripsi. Setelah latihan, dia sempatkan belajar meski sedikit-sedikit. Maklum, Tommy sudah hampir lulus. Uniknya lagi, dalam skripsinya, dia tidak mengangkat tema tentang olahraga atau sepak bola. 

Tapi, sebuah tema tentang makanan. Yakni, Pengaruh Diferensiasi Produk dan Tingkat Harga Terhadap Keputusan Pembelian Pizza Hut. Terkait judul yang unik dan tidak berhubungan dengan sepakbola itu, Tommy hanya tersenyum saat ditanya. ‘’Saat ini tujuan saya, selain menyelesaikan skripsi, juga membawa Persibo lolos ke Liga 2,” ujarnya.

(bj/rij/zky/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia