Kamis, 23 Nov 2017
radarbojonegoro
icon featured
Kolom
Anas AG

Menjadi Pembelajar

Selasa, 05 Sep 2017 09:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

Anas AG

Anas AG

Akhir bulan lalu, saya ikut mengajar Kelas Inspirasi di lokasi desa terpelosok Bojonegoro. Program ini mengingatkan saya pada sebuah film Tiongkok yang luar biasa bagus. Judul filmnya Not One Less. Sutradaranya adalah favorit saya, Zhang Yimao. Aktris utamanya, Wei Minzhi.

Saya ingin cerita soal film ini. Tapi kalau saya cerita, Anda malas nonton filmnya hehehe. Terutama guru-guru, seharusnya memperbanyak menonton film yang inspiratif. Bukan hanya tahu gaji dan tunjangan bertambah saja. Tapi juga tahu meningkatkan kualitas diri dan pendidikan. 

Jadi saya akan cerita sedikit saja film ini. Setting filmnya di pelosok Tiongkok. Seorang guru perempuan mengajar 28 siswa. Dia sebenarnya guru pengganti. Guru yang asli sedang berhalangan mengajar karena sakit. 

Sekolahnya hanya satu ruangan atau satu kelas. Bangku dan meja rusak. Dinding sekolah reyot. Kapur sangat terbatas. Satu haru, satu kapur. Jika hujan, atap kelas bocor. Jika hujan pula, siswa harus dipulangkan lebih awal karena air sungai meluap.    

Apa yang menarik? Mereka tak mengeluh.  Apalagi yang menarik? Kegigihan guru perempuan yang baru berusia 14 tahun tersebut. Dia bukan hanya mengajari membaca, menulis dan berhitung saja. Tapi juga mengajari siswanya pentingnya pendidikan dan bertahan hidup di tengah keterbatasan. 

Ah masak? Tonton sendiri kalau tak percaya.  

***

Nah, kembali ke Kelas Inspirasi yang saya ikuti. Ada sekitar sembilan SDN yang menjadi sasaran mengajar di dua kecamatan. Yakni, Kecamatan Gondang dan Sekar.   Kebetulan saya mendapat jatah mengajar di  SDN 1 Desa Krondonan Kecamatan Gondang. 

Sebenarnya lokasi tak terpelosok banget. Jalan menuju sekolah juga baik. Sedikit ada gronjalan karena paving mengelupas.  Tapi overall, infrastruktur jalan cukup baik. Artinya, pemerintah sudah cukup lumayanlah memperbaiki jalan hingga ke pelosok. 

Yang menjadi kendala utama adalah sinyal seluler. Iya, sinyal. Padahal saya membawa dua ponsel, bernomor dua perusahaan seluler paling besar se Indonesia. Tapi, iya itu. Tetap saja tak ada sinyal. 

Dari 200 KK di Dusun Krondonan. Sinyal termasuk sangat buruk. Lima tahun lalu, saya pernah menginap di SMPN 2 Gondang. Problemnya juga sama. Yakni, sinyal seluler. Artinya, selama lima tahun belum ada perbaikan membangun jaringan komunikasi hingga sampai pelosok.

Sebenarnya, dibilang tak ada sama sekali sinyal, juga tak bener-bener amat. Masalahnya, di lokasi saya menginap, sinyal hanya ditemui di pinggir sawa. Itu pun hanya jarak 1 meter saja. Lewat satu meter tak ada lagi sinyal. 

Ada lagi sinyal, di jalan yang agak menurun, dekat polindes Krondonan. Tapi jarak dari rumah saya menginap ya lumayan jauh. Apalagi jalan gelap. 

Seorang guru di SD 1 Krondonan juga mengalami hal yang sama kepada saya. Bahka sudah bertahun-tahun.  Mengapa? Karena jika ada pengumuman yang sifatnya mendadak dan penting dari dinas pendidikan. 

Kadang dia terlambat menerimanya. Misalnya, pernah suatu ketika dinas pendidikan minta data mebeler lewat grup WA. Karena dirinya telat menerima gara-gara sinyal. Data itu akhirnya terlambat dikirimkan ke pihak dinas.

Jadi akhirnya, disiasati oleh pihak sekolah. Ponsel yang bisa menggunakan data seluler, dipegang oleh salah satu istri guru setempat. Sebab lokasi rumah guru tersebut tak jauh dari polindes yang agak lumayan menerima sinyal.  

Jika ada pengumuman penting dari dinas pendidikan, sang istrilah yang ke sekolah menyampaikan pengumuman tersebut. 

Di SDN, tempat saya mengajar. Kondisi sekolah cukup baik. Siswanya juga dari dusun sekitar. Ada dua siswa yang difabel. Satu siswa kelas 3, dia agak lamban menerima pelajaran. Satu siswanya lagi, dia tak bisa bicara lancar.

Problem  siswa difabel, di tengah keterbatasan kualitas guru, sarana pendidikan, dan komunikasi adalah sangat krusial. 

Saya tidak bisa membayangkan kesabaran ekstra yang harus dihadapi oleh para guru di pelosok.  Saya angkat jempol kepada para guru di pelosok. 

Saya juga tak bisa membayangkan betapa berat yang harus dihadapi oleh siswa difabel. Sekolah terpelosok, terbatas sarana, dan harus menerima apa adanya.

Ketika saya lagi mengambil gambar, seorang relawan mengajari si siswa difabel ini, teman satu bangkunya juga ikut mengajari  dengan sabar si siswa difabel ini. Duh,  mata saya sampai mberebes mili.  

Problem seperti komunikasi menjadi sangat penting dan mendesak diselesaikan. Jangan sampai ada kesan, sekolah sudah terpelosok, informasi terlambat dan diabaikan oleh dinas pendidikan.   

Tapi secara jujur, saya respek dan hormat kepada guru-guru yang bersedia di tempatkan di lokasi terpelosok. Mereka dengan gembira (meski mungkin hatinya ingin pindah hehehe) mengajar di SDN-SDN yang sulit terjangkau.

Kepada mereka sebenarnya penghargaan itu diberikan. Mengajar penuh dedikasi. Sabar mengajar siswa difabel.  Saya justru banyak belajar dari para guru tersebut. 

Kalau siswa dan sekolah di kota mendapatkan prestasi, itu wajarlah. Kalau sampai tak bisa meraih prestasi ya kebangeten.  

Bukan hanya Gondang, tapi juga di Sekar, di Tambakrejo, di Ngraho, di Kedungadem, di Ngasem. Lokasi yang sangat luas dan terjal, semoga bukan lagi menjadi masalah jika ada kesungguhan dari pemerintah menyelesaikannya. 

***

Jadi begini sebenarnya pembaca, kalau dulu banyak yang share di media sosial  jalan desa dan kecamatan  di Sekar, Gondang, Tambakrejo rusak parah. Di-upload hingga miris melihatnya. 

Nah, sekaranglah momen para peng-upload itu cari   bakal calon bupati itu yang bisa memperbaiki, jalan, sinyal, air bersih, dan sarana pendidikan di kecamatan bagian selatan Bojonegoro. Terlebih lagi soal pendidikan. 

Jadi calon bupati yang fotonya sudah tersebar di pinggir jalan itu ditimang, ditimbang, dipastikan kualitasnya. Semua pokoknya. 

Kalau sudah jadi bupati dan hanya bisa berjanji saja. Iya ayo rame-rame pilkada lima tahun lagi tak usah dipilih lagi. (*)

(bj/nas/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia