Rabu, 20 Sep 2017
radarbojonegoro
Kolom
Anas AG

Suara Hantu (1)

Jengkeran

Selasa, 01 Aug 2017 06:30 | editor : Ebiet A. Mubarok

Anas AG

Anas AG

Apa sebenarnya yang menarik dari pilkada Bojonegoro 2018? Jawaban kita bisa berbeda. Namun, bisa jadi ada persamaan. Apa itu? Tak ada parpol dominan di Bojonegoro. Semuanya flat. Semuanya masih berjudi menentukan koalisi dan calonnya. 

Untuk maju sebagai bakal calon bupati dan wakil bupati dibutuhkan  10 kursi di DPRD. Nah, di DPRD tak ada parpol yang mendapatkan atau lebih dari 10 kursi. Golkar dan Demokrat hanya mendapatkan 7 kursi. PAN dan PKB hanya 6 kursi. Artinya, semua parpol harus saling koalisi.

Anda yang suka mengamati politik di Bojonegoro dan sudah mengetahui beberapa figur yang bakal maju, pasti senang hitung-hitungan. Oh…si A bakal gandengan dengan si C. Si D bakal menggandeng si F, dan seterusnya.

Lalu si A bikin manuver daftar ke penjaringan bacabup di parpol. Padahal sebenarnya cuma pengen ngetes saja kekuatan parpol tempat dia daftar. Iya siapa tahu bisa diajak koalisi.  

Atau ada juga si D numpang nama saja. Mumpung musim pilkada, pasang spanduk berisi foto dimana-mana. Bahkan gang kecil yang tak ada rumahpun, tak luput dipasangi fotonya.       

Atau ada obrolan di warung kopi. Ah, si F itu hanya bisa lobi di tingkat provinsi. Padahal Bojonegoro sudah melaju ke nasional dan internasional. 

Lho… si C itu hanya tokoh lokal saja, apa bisa tokoh lokal punya inovasi Bojonegoro ke tingkat nasional dan internasional. 

Lha…si E itu, sudah tokoh nasional tapi tak mengakar rumput di Bojonegoro.

Eh…si G itu hanya birokrat. Jangan-jangan malah mundur lagi kalau bupatinya birokrat.  

Lha terus siapa dong bupati Bojonegoro mendatang? Jawab orang Mbantul, haaaambuh.

Anda kalau lagi di jalan, melihat banner figur yang ‘jualan diri’ yang bertebaran, hayo jawab jujur, ada tidak yang pantas menjadi Bupati Bojonegoro? Saya yakin, jawaban Anda kalau tak menggeleng kepala, ya mengangkat pundak hehehe. Saat ini saya yakin, yang sudah punya pilihan, pasti masih sangat sueeedikiiiiit.   

Jadi mengapa belum muncul figur terbaik? Calonnya masih dipingit. Dalam ranah mitos kekuasaan Jawa, Satria Piningitnya masih disimpan. Belum muncul. 

Anda percaya mitos Jawa ini? Saya meragukannya. Soal meragukan ini, kita diskusi di warung kopi saja.

Nah, mengapa Bojonegoro seolah minim kader terbaiknya? Apakah Kang Yoto tak menyiapkan penggantinya? Apa ya Kang Yoto rela, programnya nanti amburadul dan berganti program bupati baru? Meski ada komitmen, tapi apalah artinya komitmen dalam politik.  Lha politik iku isuk dele, sore tempe. 

Mana tanggungjawab parpol menyiapkan kader terbaiknya? Hayo ada yang bisa menjawab, siapa kader terbaik di masing-masing parpol yang ada di Bojonegoro? Hampir semua parpol tak miliki kader terbaik. 

Parpol tak miliki kader yang mumpuni menjadi bupati. Mumpuni itu bukan hanya ilmunya saja. Tapi juga karakter dan manajerialnya. Perspektifnya masih kekuasaan. Belum perspektif negarawan. 

Nah ini yang agak berat. Ini standar yang sangat berat. Tapi sudah melekat di sebagian besar warga Bojonegoro. 

Suka tidak suka, mau tidak mau, benci atau bueenciiii,  orang Bojonegoro sudah memiliki standar bupati. Iya seperti Kang Yoto. Wong asli Jonegoro. Lobi di tingkat pusat kuat, dan kini Bojonegoro menjadi perbincangan di ranah internasional. Luwes ngomong. Inggrisnya cas cis cus. Arabnya hewes hewes lancar. Ngaji kitab kuningnya juga tak kalah dengan kiai. Familiar dengan dunia usaha. Dan berkomitmen terhadap kebangsaan. 

Standar ini memang sulit dipenuhi bagi calon bupati mendatang. Selevel dengan Kang Yoto jelas hampir tak ada, jika melihat semua calon saat ini. 

Jadi piye iki? Ya gak piye-piye hehehe. Serahkan kepada rakyat saja. Konon, suara rakyat adalah suara Tuhan. Kata penyair Sutardji Calzoum Bahri, Tuhan...Hantu? Lhah…

(bj/nas/bet/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia