Kamis, 23 Nov 2017
radarbojonegoro
icon featured
Kolom
Wahyu Rizkiawan

Kampung Tanpa Internet 

Minggu, 30 Jul 2017 07:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

Kampung Tanpa Internet 

Tiga orang teman saya, beberap hari lalu mengirim undangan untuk kumpul. Melalui layanan pesan whatsapp (WA), kami menyepakati jika agenda kumpul nanti bakal membahas tentang rencana meramaikan kampung menjelang musim Agustusan. Bagi saya, bisa bertemu kawan lama untuk sesuatu kegiatan positif, tentu luar biasa senangnya. 

Di warung yang sudah disepakati, kami pun bertemu. Sambil  menunggu pelayan menyajikan pesanan, tak ada satupun dari kami yang berbicara. Kami sibuk memelototi  layar telepon genggam masing-masing. Memang ada yang menanyakan kabar. Namun, konsentrasi dan perhatian tetap penuh tercurah pada apa yang ada di genggaman. 

Sesekali, ada yang mendadak tertawa, lalu---dengan semena-mena---merubah objek pembicaraan pada sesuatu yang baru saja dia temui di genggamannya tersebut. Selama berjam-jam, proses pertemuan itu berlangsung dengan penuh khidmad tanpa ada yang membahas rencana Agustusan. Dalam pertemuan itu, tidak ada satupun yang berhasil kami sepakati kecuali hari kemerdekaan tetap tanggal 17 Agustus dan Pemerintah tidak jadi mengundurnya.  

Kemajuan yang tersaji di muka bumi, sudah barang tentu memiliki dua dampak berbeda: baik dan buruk. Dalam setiap kebijakan, fenomena atau apapun yang dihasilkan olahpikir  manusia, selalu menyisakan dua dampak tersebut. Tidak terkecuali, hegemoni kemajuan teknologi, dalam hal ini internet.

Selain memudahkan hubungan antar manusia, internet juga mampu membuka sudut-sudut terpencil dari peradaban manusia. Sesuatu yang sebelumnya seolah musykil dilihat, kini dengan mudah bisa disajikan langsung di depan mata. Hal-hal yang sebelumnya sulit dilakukan, saat ini mudah didapatkan. Dengan cepat, seolah tak mau mengenal terlambat. 

Namun, kemudahan dan kemanjaan hidup seperti itu, tentu berbayar. Tidak gratis. Harus ada yang dikorbankan menjadi tumbal. Siapa lagi jika bukan komunikasi tatap muka. Komunikasi tatap muka saat ini menjadi barang langka. Karena langka, tentu berdampak pada nilai harga. Sehingga, untuk bisa membangun komunikasi tatap muka, harganya pun sangat mahal. Semahal harga paketan pulsa.

Harus kita akui, keberadaan internet memang sudah menodai kehangatan berkomunikasi tatap muka. Pembicaraan secara  tatapmuka menjadi tampak sangat formal dan kaku. Sedangkan mengasingkan diri dan bersembunyi di dalam genggaman jemari, justru menjadi sesuatu yang hangat, intim dan menyenangkan. 

Saya, tentu bagian dari dia, kamu, dan mereka yang mulai kehilangan kenikmatan berkomunikasi secara tatap muka. Bagaimana bisa menghindar jika seluruh lingkar kehidupan melakukan hal yang sama? Parahnya lagi, pekerjaan (yang konon menjadi perihal terpenting dalam hidup manusia modern) menuntut setiap manusia untuk tidak boleh berjauhan dari monster kecil bernama telepon genggam tersebut.  

Saat ini, seiring dengan gencarnya program Desa berinternet dan hampir semua warung kopi memasang layanaan internet gratis, tidak ada dikotomi antara kota dan desa. Apapun yang bisa diakses kota, sudah barang tentu bisa diakses dari desa. Tidak harus menjadi orang kota untuk bisa berinternet. Selama masih ada sinyal, kota dan desa sama saja. Dalam hal berselancar internet, orang desa justru lebih agresif. Bahkan, jika ada kawasan atau desa yang belum bisa mengakses internet, mereka malu dan seolah terhina. 

Parahnya, kehadiran internet sedikit banyak juga berpengaruh pada laku arif masyarakat desa. Kesopanan, kesantunan hingga unggah-ungguh yang dulu menjadi kemewahan terakhir masyarakat desa--- seiring dengan kebiasaan berselancar melalui internet---kini mulai hilang. Selain letak geografis, tidak ada bedanya orang kota dengan orang desa. Yang dibicarakan sama, yang dipikirkan sama. 

Saya mulai berfikir sekaligus bermimpi; andai di Bojonegoro, terutama kawasan Kota, ada satu saja tempat tanpa internet, di mana orang di dalamnya justru bangga tidak ada internet, tentu mengasyikkan. Sebuah tempat kolaborasi antara museum, perpustakaan dan galeri kebudayaan, yang mengharuskan para pengunjungnya menanggalkan piranti internet saat masuk ke dalam. Di tempat tersebut, juga disediakan berbagai macam permainan tradisional anak-anak zaman dulu. Tentu, ini bisa menjadi ruang belajar sekaligus berekreasi yang sangat menyenangkan.  

Tentu, angan-angan itu bukan mimpinya orang konservatif yang enggan maju. Perubahan dan kemajuan teknologi tentu harus tetap dipeluk. Namun, memeluk harus ada jeda. Biar kita bisa tetap bernafas dan hidup. Nah, jeda dari pelukan teknologi itulah, yang sedang saya impikan. Kenapa harus ada jeda? agar berimbang. Sebab, seperti yang dikatakan Para Nabi, sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik bagi kehidupan. 

Di Silicon Valley, pusat teknologi digital Amerika Serikat, anak-anak karyawan hingga petinggi perusahaan teknologi  seperti Google, Yahoo, Apple, dan Hewlett-Packard (HP) sama sekali tidak mengenal komputer, apalagi telepon genggam. Mereka  bersekolah di Waldorf School of Peninsula, sekolah dengan metode pengajaran yang terlambat satu abad dibandingkan perkembangan teknologi digital hari ini. Di AS, Ada sekitar 160 sekolah dengan metode pengajaran seperti itu.

Lha, di kampung mbahnya teknologi saja, banyak orang-orang cerdas justru menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah tanpa internet. Mungkin karena mereka cerdas, sehingga tahu jika memeluk teknologi harus ada jeda. Agar berimbang. Sebab, sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik bagi kehidupan. (*)     

(bj/zky/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia