Sabtu, 23 Sep 2017
radarbojonegoro
Features

Regi Amadhona Prasiska, Pencetus Tari Parang Barong 

Jumat, 21 Jul 2017 05:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

tari perang barong

tari perang barong (Rika Ratmawati/Radar Bojonegoro)

LEKUK tubuh luwes dengan iringan bunyi khas dari gelang kaki selalu menjadi ciri tarian Bollywood. Kekhasan itulah kemudian menginspirasi seorang guru tari salah satu SMP Bojonegoro, Regi Amadhona Prasiska, dalam menggarap koreografi tari parang barong untuk pementasan mewakili Bojonegoro dalam festival budaya di Provinsi Jawa Timur. 

Siang itu (18/7) kondisi jalanan Bojonegoro cukup lengang dari padatnya lalu lintas. Asap knalpot, debu jalanan, dan bunyi klakson  seolah lenyap seketika.  Sebab, suasana di luar sangat terik. Manusia seperti enggan untuk keluar dari paraduannya. 

Regi, sapaan perempuan kelahiran Kota Reog Ponorogo, 18 April 1990, merupakan seorang guru seni tari di salah satu SMP di Bojonegoro. Kecintaannya pada dunia seni telah membawanya ke Bojonegoro. 

Menurut Regi, keputusannya untuk pindah dan menetap di Kota Ledre tentu memiliki sejuta alasan. Selain untuk  mengembangkan ilmunya sebagai mahasiswa lulusan sendra tasik Universitas Surabaya pada 2012 lalu, ada  perasaan yang telah membawanya berkomitmen untuk menghidupkan kesenian  Bojonegoro. ’’Proyek pertama di Bojonegoro ialah membuat koreografi tarian parang barong,” ujarnya menggebu saat menyambut Jawa Pos Radar Bojonegoro. 

Regi menuturkan, darah seni itu diwarisi dari kakek buyutnya yang sebagai seorang seniman ketoprak. Meski berbeda alur, namun darah seni itu sangat deras mengalir dalam tubuhnya. Sehingga, sejak kecil dia sudah terbiasa dengan sejumlah kegiatan seni di sekolah dan daerahnya. 

Menginjak usia sekolah menengah pertama (SMP), dia mulai melirik tarian dari India. Gerakan lincah dengan alunan musik gembira membuatnya berfikir untuk mengeksplor bakat seninya. Sehingga, muncullah ide untuk membuat koreo bersama teman-temannya kemudian dipentaskan saat acara perpisahan di sekolah pada 2003. Setelah itu, bakatnya mulai dilirik oleh guru tari di sekolahnya. Akhirnya, dia mulai dipilih untuk menjadi penari di sejumlah event daerah. ’’Paling membanggakan ketika berhasil tampil di panggung megah Alun-Alun Kota Ponorogo,” terangnya. 

Menurut Regi, bakat tari itu sudah dimiliki sejak usia anak-anak. Sehingga, ketika bakat tersebut selalu diasah hingga dewasa, maka bisa menciptakan ladang penghasilan baginya. Bahkan, dengan bakat tersebut dia telah berulang kali ke luar negeri secara gratis. 

Selama mengenyam pendidikan di Surabaya, dia memperoleh berbagai kesempatan untuk mengembangkan karirnya. Selain menjadi guru seni di salah satu sekolah Surabaya, dia kerap mengikuti pentas tari di luar negeri, seperti di Hongkong, Tiongkok, dan Australia. 

Namun, kemudahan itu justru membuatnya bosan dan sulit untuk berkembang. Akhirnya, pada 2014 dia memutuskan untuk pindah ke Bojonegoro. Berbekal ilmu, dia bisa diterima di salah satu sekolah favorit di Bojonegoro. Bahkan, dia diberikan kepercayaan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro untuk menggarap koreografi yang akan dipentaskan di provinsi. 

Tarian parang barong merupakan proyek pertamanya, diangkat dari tradisi di Desa Ledok Kulon. Dimana masyarakat Desa Ledok Kulon sangat menghargai benda jarik yang dinamakan parang barong. Karena, konon batik tersebut didesain langsung oleh Sultan Hamengkubuwono. Sehingga, hanya kaum ningrat yang diperbolehkan menggunakan kain tersebut.

(bj/rka/nas/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia