Rabu, 20 Sep 2017
radarbojonegoro
Bojonegoro

Konsumsi Rokok Lebihi Daging- Susu

Senin, 17 Jul 2017 05:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

BOJONEGORO – Memilih hidup sehat ternyata masih belum pilihan utama masyarakat Bojonegoro. Buktinya, konsumsi rokok masih jauh lebih tinggi ketimbang membeli daging dan susu. 

Sayangnya, meski konsumsi rokok tinggi, petani tembakau ternyata masih belum  sejahtera. 

Dari data dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro tersebut, menunjukkan dari 14 kategori, rokok menempati urutan ketiga setelah padi-padian dan makanan jadi. 

“Pengeluaran rokok merupakan tertinggi kedua dari rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk Bojonegoro,” kata Direktur Bojonegoro Institut (BI), AW. Saiful Huda pada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (16/7).

Menurut Huda, fakta ini diambil dari data BPS hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016. Data tersebut menunjukkan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk Bojonegoro dari komoditi makanan, paling tinggi pengeluaran untuk membeli makanan dan minuman jadi (26,80 persen) dan disusul pengeluran untuk membeli rokok (15,48 persen) dari total 14 kategori makanan. 

Huda menjelaskan, kebutuhan membeli rokok bahkan mengalahkan besarnya kebutuhan membeli daging, telur hingga susu. Tidak hanya itu, konsumsi rokok masyarakat Bojonegoro meningkat dari tahun sebelumnya. 

Pada 2015 lalu misalnya, kata dia, pengeluran untuk membeli rokok per kapita per bulan hanya mencapai 12,06 persen atau rata-rata Rp 39 ribu per kapita per bulan. Sedangkan 2016 meningkat menjadi 15,48 persen atau rata-rata per kapita per bulan Rp 57 ribu. 

Padahal, terang dia, pada tahun yang sama, konsumsi daging hanya 4,26 persen atau Rp 15 ribu per kapita per bulan. Sedangkan konsumsi telur dan susu hanya 4,70 persen atau Rp 17 ribu per kapita per bulan. Ini menunjukkan konsumsi rokok di Bojonegoro sangat tinggi tiap tahunnya. Namun begitu, dia menyayangkan tingginya konsumsi rokok ini tidak diimbangi dengan tingkat kesejahteraan para petani tembakau Bojonegoro. 

“Dari data tersebut, harusnya berdampak pada kesejahteraan petani tembakau. Namun kenyataannya tidak memberi dampak pada petani,” ungkap dia. 

Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri mengatakan, data dari BPS memang seperti menunjukkan kesejahteraan petani. Namun, pada kenyataannya, petani tembakau di Bojonegoro masih kesulitan menjual hasil panen. Alasannya, banyak perusahaan rokok yang mengimpor tembakau dari luar negeri. Sehingga, setinggi apa pun tingkat konsumsi rokok di Bojonegoro, tidak berdampak apa-apa pada petani.

“Andai memakai tembakau sendiri, mungkin ada dampaknya. Tapi banyak perusahaan rokok yang memilih impor tembakau,” kata dia. 

Komisi membidangi ekonomi itu menjelaskan, setiap tahun, para petani tembakau di Bojonegoro selalu kesulitan menjual hasil panenannya. Berkaca pada 2016 misalnya, harga tembakau rajangan rata-rata Rp 7 ribu per kilo. 

Penyebabnya, dari banyak perusahaan rokok, yang mau membeli hasil panen masyarakat Bojonegoro hanya dua perusahaan besar. Selebihnya, tidak membeli hasil panen tembakau.  “ Rp 7 ribu sangat rendah, idealnya di atas Rp 10 ribu,” pungkas dia.  (zky/nas)   

(bj/zky/nas/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia