Rabu, 20 Sep 2017
radarbojonegoro
Features
Situs Lengkap dari Fosil hingga Makam Kuno

Menelusuri Situs Jipangulu di Desa Ngelo Kecamatan Margomulyo 

Kamis, 13 Jul 2017 07:05 | editor : M. Abdul Hafid

Berkunjung ke situs Kuno

Berkunjung ke situs Kuno (Dokumen Pribadi)

PERJALANAN ke Desa Ngelo Kecamatan Margomulyo tidaklah mudah. Empat pemburu fosil dan artefak, Hary ‘Fosil’ Nugroho, Agung, Suheri dan JFX Hoery membelah hutan menuju Desa Ngelo.   Tepatnya di Dusun Jipangulu. Keempat pemburu fosil tersebut diantar Kades Ngelo, Trimaryono.  

Menuju ke Desa Ngelo ada dua jalur. Bisa dari Desa Luwiaji,  mengikuti jalan yang  desa ke arah selatan. Jalan yang dilalui cukup beragam. Mulai dari makadam, cor hingga paving. Akses cukup lancar, meski infrastruktur jalan belum semua membaik.

Namun juga bisa dari arah Desa/Kecamatan Menden, Blora. Dari Menden menyeberang menggunakan perahu tambang. Sebenarnya, lebih dekat dari arah Menden ketimbang dari Margomulyo sendiri. 

Di Desa Ngelo ini cukup unik. Yakni, ada dua situs purba. Yakni, situs Matar dan Jipangulu. Di Matar, ditemukan berbagai macam fosil purba. Sedangkan di Jipangulu ditemukan artefak. Bahkan ada dugaan candi di situs ini. ‘’Ada susunan batuan besar, dugaan awal seperti candi,’’kata JFX Hoeri kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin. 

Namun, Hoeri menegaskan, temuan itu baru dugaan awal. Masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. 

Beberapa tahun lalu, lanjut Hoeri, Hary Nugroho pernah ke situs ini. Saat itu masih ada arca. Namun, sayang saat kemarin ke situs tersebut, arca tersebut sudah hilang. ‘’Mungkin sudah ditangan kolekdol,’’kata pria yang juga sastrawan ini.  

Hingga kini yang masih tersisa di situs  Jipangulu adalah, guci, kendi, makam kuno, dan susunan batu bata merah berukuran besar serta susunan batu ukuran 12 cmx18 cmx7 cm. ‘’Ditemukan pula batu kaligrafi bertuliskan kalimat syahadat dengan ukuran lebih satu meter,’’ujar Hoeri. 

Terkait makam kuno, warga setempat menyebutnya sebagai Mbah Santri. Tiap Jumat pahing dalam Sura selalu digelar bersih desa di makam tersebut. Makam itu ukurannya cukup panjang dibandingkan dengan makam saat ini. Pihak desa setempat membangun makam tersebut lebih baik. 

Yang menarik adalah Desa Ngelo ini tak jauh dari Bengawan Solo. Bisa saja, jalur sungai terpanjang di Pulau Jawa ini melewati Desa Ngelo. Mereka para pedagang, bangsawan atau agamawan yang melintasi bengawan juga bersandar di sekitar Desa Ngelo. 

Mereka lalu mendirikan bangunan di Desa Ngelo. ‘’Namun, itu semua masih butuh penelitian yang panjang,’’tambah pria berusia 70 tahun lebih ini. 

Hoeri mengaku perjalanan ke Ngelo masih membutuhkan waktu yang cukup panjang. Saat berkunjung ke Desa Ngelo kemarin, dirinya dan ketiga pemburu fosil lainnya tak memiliki waktu yang cukup panjang. 

Karena itu, dia berharap bisa berkunjung ke Desa Ngelo kembali. Menggali lebih dalam peninggalan masa lalu. (*/nas) 

(bj/*/haf/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia