Senin, 22 Jan 2018
radarbojonegoro
Dander-Kapas

Konsumsi Obat Keras Masih Tinggi

Resep Dokter Diabaikan

Jumat, 19 May 2017 07:50

Konsumsi Obat Keras Masih Tinggi

(grafis: fa vidhi jawapos radar bojonegoro)

KOTA - Raut muka Tutik Agustiningsih berubah sendu seketika melihat ibunya enggan minum obat dari dokter. Padahal, obat tersebut seharusnya diminum secara rutin untuk mengurangi rasa sakitnya. 

Fakta tersebut bagian kecil banyaknya masyarakat mengonsumsi obat keras tanpa ada resep dokter. Kebanyakan mereka meminum obat meski hanya rekomendasi teman atau keluarga. Seharusnya, mengonsumsi obat memperhatikan kegunaan, efek samping, dosis, dan jenis obat melalui kode logo.

 

Menurut Tutik, ibunya lebih mempercayai pengobatan tradisional atau alternatif untuk menyembuhkan sakitnya. Meski, berbagai usaha te­lah dilakukan untuk membujuk sang ibu supaya bersedia minum obat. 
’’Tapi, ibu lebih memilih obat di toko karena rekomendasi teman,” katanya kemarin (18/5). 

Tutik menjelaskan, tingginya peredaran jual beli obat tanpa resep dokter cukup berpengaruh. Terlebih masyarakat masih sering mengonsumsi obat-obat keras diperoleh di toko. Sebab, konsumen cenderung memperhatikan kesembuhan sesaat tanpa memperhatikan efek sampingnya. 

Kepala Subdirektorat Penggolongan Obat Rasional Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Heru Sunaryo mengatakan, kasus di lapangan masih tinggi terkait penyalahgunaan obat. Sehingga, kewajiban dinas kesehatan (dinkes) mengingatkan kepada pasien. 

’’Jika tidak diingatkan, pasien akan semaunya dalam mengonsumsi obat,” terangnya. Heru menuturkan, kasus-kasus penyalahgunaan obat, baik secara sengaja ataupun tidak, masih sering muncul di lapangan. Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai budaya memperhatikan kriteria membeli obat masih minim. Kebanyakan mereka minum obat meski hanya rekomendasi dari teman atau keluarga.

 Kondisi itu, tutur dia, peredaran obat keras masih tinggi. Sehingga, konsumen harus lebih aktif membeli obat di apotek atau toko obat. Setidaknya memperhatikan kegunaan, efek samping, dosis, dan jenis obat melalui kode logonya. 

’’Jika tidak ada penjelasan bisa ditayakan ke apoteker,” terang­nya. (rka/rij) 

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia