Senin, 22 Jan 2018
radarbojonegoro
Bojonegoro Kota

13 Perguruan Pencak Silat Deklarasi Kampung Silat

Jumat, 21 Oct 2016 06:20

13 Perguruan Pencak Silat Deklarasi Kampung Silat

(Wahyu Rizkiawan/Radar Bojonegoro)

LAMONGAN – Upacara Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-339 tampak berbeda, Kamis (20/10).

Setelah upacara usai, peserta dihibur dengan penampilan 500 lebih pesilat dari 13 perguruan pencak silat di Bojonegoro.

Mereka terlihat kompak memperagakan jurus tunggal Ikatan Perguruan Silat Indonesia (IPSI), meski mengenakan seragam dan lambang perguruan berbeda.
Pemandangan itu berbanding terbalik yang didengar selama ini, antarpesilat terlibat tawuran.

Setelah itu, masing-masing perwakilan perguruan pencak silat menandatangani kesepakatan ikrar sebagai deklarasi kampung silat.

Penandatanganan itu disaksikan Bupati Suyoto, Kapolres AKPB Wahyu Sri Bintoro, Dandim 0813 Letkol Inf. M. Herry Subagyo, Ketua DPRD Mitroatin, dan sejumlah tamu undangan.

Kapolres menegaskan, kampung pesilat lahir dari keinginan untuk mengakhiri budaya buruk tawuran antarperguruan pencak silat.

Sebab, sebelumnya Bojonegoro identik tawuran antarperguruan.

Tawuran antarperguruan, menurut dia, kerap mengakibatkan banyak kerugian.

Tidak hanya kerugian harta benda, bahkan juga mengakibatkan melayangnya nyawa.
Dari realitas tersebut, Kapolres menginisiasi adanya pertemuan antarpengurus perguruan.

’’Kami berkumpul dan sepakat membuat kampung pesilat,” jelasnya.

Dalam naungan kampung pesilat, ada ikrar yang harus ditaati seluruh anggota sebanyak 13 perguruan pencak silat di Bojonegoro.

Di antaranya, meningkatkan keyakinan ketuhanan, mengamalkan pancasila dan UUD, serta menjaga persatuan, kesatuan dan persaudaraan di dalam dan di luar IPSI.

Tiga belas perguruan itu di antaranya, Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW), Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), ASAD, Tapak Suci (TS), Pagar Nusa (PN), Kera Sakti (KS), Perisai Diri, Merpati Putih, Bela Diri Rajekwesi, Margoluyo, Gubug Remaja, Pencak Organisasi, dan Rasa.

Implementasi dari kampung pesilat, lanjut Wahyu, masing-masing desa ada ketua ranting atau rayon.

Mereka akan dijadikan mitra terdepan kamtibmas yang tugasnya membantu menjaga keamanan seperti polisi.

Seperti halnya Pecalang di Bali, perguruan menjadi garda mitra kamtibmas.
’’Perguruan silat harus berperan aktif menjaga keamanan,” imbuhnya.

Kapolres menyebutkan, terdapat sebanyak 97 ribu pesilat dari berbagai perguruan di Bojonegoro.

Kondisi itu tentu rentan konflik. Sehingga, gagasan membuat wadah berupa kampung pesilat menjadi hal positif untuk mencegah adanya konflik.

Sebab, jika ada gesekan di akar rumput, masing-masing pengurus akan bertanggung jawab untuk meredakan. (zky/haf)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia