Senin, 22 Jan 2018
radarbojonegoro
Bojonegoro Kota

Gerakan Desa Sehat dan Cerdas (GDSC) Award, Tiga Kades Ini Raih Penghargaan

Jumat, 21 Oct 2016 07:50

Gerakan Desa Sehat dan Cerdas (GDSC) Award, Tiga Kades Ini Raih Penghargaan

(Wahyu Rizkiawan/Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Gerakan Desa Sehat dan Cerdas (GDSC) Award memasuki fase puncak.

Tiga kepala desa (Kades) dinobatkan sebagai Kades percontohan seluruh kabupaten, Kamis (20/10).

Itu setelah ketiga Kades tersebut memenangi GDSC Award 2016.

Ketiga desa tersebut adalah Desa Plesungan, Kecamatan Kapas; Desa Pejambon, Kecamatan Sumberrejo; dan Desa Sukorejo, Kecamatan Malo.

Penyerahan penghargaan dilaksanakan di tengah-tengah prosesi upacara Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-339.

Penghargaan berupa piagam dan trofi diserahkan langsung oleh Bupati Suyoto pada masing-masing juara.

Para juara terpilih karena mampu menjadi pioner dan memiliki gebrakan unik untuk kemajuan desa masing-masing.

”Ada tiga Kades yang jadi Kades percontohan,” ungkap Kepala Bidang Pengembangan dan Pembangunan Desa Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Bojonegoro Masirin pada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Menurut Masirin, awalnya, GDSC merupakan gagasan bupati untuk mewujudkan masyarakat Bojonegoro yang sehat, cerdas, dan bahagia.

Gagasan itu diformalkan dalam Peraturan Bupati (Perbup) No 47 Tahun 2014 tentang Gerakan Desa Sehat Cerdas.   

Dalam perbup tersebut, secara total ada dua parameter besar.

Yakni, sehat dan cerdas. Parameter sehat ada delapan indikator, sedangkan cerdas ada 12 indikator.

Meski tak menjelaskan secara keseluruhan, Masirin mengatakan, GDSC Award tahun ini hanya fokus pada enam indikator saja.

”Enam itu, empat indikator sehat dan dua indikator cerdas,” ujarnya.

Untuk indikator sehat, dilihat dari empat poin penilaian. Yakni, tingkat open defecation free (ODF), angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI-AKB), lantai rumah sehat, dan kepesertaan KB.

”Sedangkan indikator cerdas ada dua, yakni infrastruktur desa dan administrasi desa,” jelasnya.

Kepala BPMPD Bojonegoro Djumari menambahkan, dari enam indikator, penilaian dilakukan tingkat kecamatan dulu.

Awalnya, diambil enam desa dan dilakukan penilaian administratif.

Setelah penilaian administratif, dilakukan penilaian lapangan.

”Nah, dari penilaian lapangan itu diambil tiga desa terbaik,” ungkap Djumari.

Menurut dia, penilaian dan pemantauan dilakukan sejak jauh-jauh hari. Tepatnya pada 2014 lalu.

Itu pun melalui berbagai pemantauan. Memantau dari titik 0 GDSC pada akhir 2014 dan melihat perkembangannya setahun kemudian. Tepatnya pada akhir 2015. ”Jadi, ini persiapannya sudah sejak lama,” terangnya.

Djumari berharap, pada pelaksanaan GDSC Award tahun depan, jumlah indikator yang menjadi penilaian ditingkatkan, dari 6 indikator menjadi 10 atau 12 indikator.

Itu agar masing-masing kepala desa termotivasi untuk berinovasi positif sebanyak mungkin.

Dan yang jelas, agar masing-masing Kades menggunakan anggaran desa dengan baik.

Sebab, 20 indikator GDSC harus menjadi prioritas penganggaran APBDes.

”Itu (GDSC) harus menjadi prioritas penganggaran,” tandasnya. (zky/fiq)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia