Senin, 22 Jan 2018
radarbojonegoro
Lamongan Kota

Imam Wahyudi, Terdakwa Persetubuhan Terima Vonis

Rabu, 19 Oct 2016 06:10

Imam Wahyudi, Terdakwa Persetubuhan Terima Vonis

Ilustrasi ()

LAMONGAN – Iman Wahyudi tidak mengajukan banding atas vonis 9,5 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider hukuman 6 bulan kurungan penjara yang diterimanya.

Hingga batas waktu Selasa (18/10) pukul 16.00, terdakwa kasus persetubuhan anak di bawah umur itu tidak mengajukan banding.

Luqmanul Hakim, penasihat hukum dari Iman Wahyudi, menyatakan bahwa terdakwa dan keluarga belum ada yang menemuinya untuk melakukan banding.

‘’Tenggat waktu yang diberikan tersisa hari ini (kemarin), tapi belum ada upaya banding dari terdakwa,’’ jelas Luqman kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Dia menghargai keputusan dari terdakwa asal Desa Gempolmanis, Kecamatan Sambeng, itu.

Sebab, terdakwa yang memiliki kewenangan sepenuhnya untuk mengajukan banding atau menerima putusan majelis hakim.

‘’Sebelumnya kami sudah menjelaskan mekanisme, kelebihan, dan kekurangan jika mengajukan banding,’’ kata Luqman saat dikonfirmasi via ponsel.  

Jumadi, hakim ketua Pengadilan Negeri (PN) Lamongan menjelaskan, hingga batas waktu kemarin sore, belum ada pengajuan banding dari terdakwa dan keluarga.

Sehingga, vonis tersebut sudah incracht.

‘’Selanjutnya korban hanya tinggal menjalani masa hukuman,’’ tutur pengadil berasal dari Makasar ini.

Jumadi menambahkan, pertimbangan putusan penjatuhan pidana ini tidak hanya rasa keadilan.

Ada alasan yang memberatkan dan meringankan.

‘’Yang memberatkan, korban sudah hamil dan melahirkan. Sedangkan yang meringankan, terdakwa terus terang atas perbuatannya,’’ ujarnya.

Seperti diberitakan, kasus ini berawal saat terdakwa dan korban sebut saja Mawar, 15, saling berkirim pesan (sms) pada 2015.

Dari kirim-kiriman pesan, keduanya lalu berpacaran.

Melalui pesan singkat terdakwa mengajak korban yang masih duduk di bangku SMP melakukan persetubuhan di rumahnya sekitar awal November 2015.

Ajakan itu disertai ancaman bila korban tidak datang, maka dia bakal dibunuh dan rumahnya dibakar.

Karena takut, korban mengajak temannya berinisial Nw.

Selanjutnya, korban disuguhi minuman yang membuatnya lemas.

Setelah itu, terdakwa menyetubuhi korban.

Tindakan persetubuhan kali kedua dilakukan pada pertengahan November di rumah tetangga terdakwa.

Akhir November 2015, terdakwa kembali mengajak korban berhubungan badan.

Setelah itu, terdakwa memutuskan hubungan pacaran dengan korban.

Orang tua korban curiga saat mengetahui ada perubahan pada tubuh Mawar.

Mereka membawa Mawar periksa ke bidan desa. Ternyata, korban dinyatakan hamil pada Mei 2016.

Janin di rahim Mawar saat itu diperkirakan berumur 26 – 27 minggu.

Kasus ini pun dilaporkan ke polisi.

Hingga akhirnya, terdakwa disidang dan divonis 9,5 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider hukuman 6 bulan kurungan penjara.

‘’Terdakwa juga harus membayar biaya perkara sebesar Rp 5 ribu,’’ tutur Jumadi.

Dalam putusan sidang, barang bukti sebuah rok sekolah, kemeja lengan panjang, pakaian dalam, dan barang-barang lainnya dikembalikan pada korban.  (ind/yan)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia