Senin, 23 Apr 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Peran Serta Perempuan di Era Modernisasi Teknologi

Sabtu, 10 Mar 2018 06:35 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Peran Serta Perempuan di Era Modernisasi Teknologi

PEREMPUAN seluruh penjuru dunia setiap tanggal 8 Maret melakukan aksi Women’s March atau Pawai Perempuan yang dilakukan di berbagai negara. Pada tahun 2018 ini, tercatat 13 kota di Indonesia yang menggelar Women’s March dengan beberapa di antaranya adalah Bandung, Pontianak, Tondano, Lampung, Malang, dan Serang, diawali dengan pawai di Jakarta pada 3 Maret lalu.

Meski disebut sebagai pawai perempuan, pada gelaran sebelumnya juga banyak pria yang turut meramaikan Women’s March sebagai bentuk dukungan terhadap aksi tersebut. Beberapa tuntutan dan protes yang muncul dalam aksi itu antara lain mengenai kejahatan dan  kekerasan seksual, pemenuhan hak secara merata pada perempuan segala usia, domestifikasi perempuan, seksisme di ruang publik, edukasi hak tubuh, akses kesehatan ramah gender, dan keadilan sistem hukum pada perempuan.

Tak ketinggalan, pada tahun 2018 ini, protes terhadap perluasan pasal tindak pidana zina pada Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) pasal 484 juga menjadi atensi kaum perempuan. Mengingat bila revisi KUHP pasal kesusilaan itu benar-benar disahkan, maka tak dapat dimungkiri negara menjadi sosok antagonis yang bisa masuk ke ranah privat dengan memperalat hukum. 

Hal lain yang menjadi masalah revisi pasal kesusilaan itu akan muncul bila satu definisi zina dari satu budaya diterapkan secara universal ditambah macam-macam tafsir politik yang mendatangkan pertarungan kepentingan. Hak tersebut akan menimbulkan efek cukup besar terutama bagi korban perkosaan yang gagal membuktikan dirinya diperkosa di mata hukum, orang-orang yang terlibat nikah siri, juga kepada anak-anak yang menikah di bawah umur.

 Isu Gender

Selain itu, permasalahan yang juga terus menjadi perhatian tentunya, isu kesetaraan gender masih menjadi fokus dalam setiap perayaan Hari Perempuan Internasional itu. Dilansir dari The Sun, Kamis lalu (8/3), hari perempuan ini menyatukan pemerintah global, organisasi wanita, bisnis, dan badan amal untuk bergerak bersama di bawah bendera Internasional Women's Day.

Biasanya, untuk menyampaikan aspirasi hak perempuan, berbagai kegiatan seperti talk show, pertunjukan, demonstrasi, acara networking, dan pawai dilakukan di seluruh dunia. Untuk tahun ini, Hari Perempuan Internasional hadir dengan tema Press for Progress. Menurut situs resminya, tema ini diangkat agar wanita bisa terus bergerak dan berani untuk menggapai kesetaraan gender di segala bidang. (Jawapos.com edisi 08 Maret 2018)

Hemat penulis, isu kesetaraan gender guna pemberdayaan perempuan merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan standar hidup yang lebih baik di antara jutaan orang di negara-negara berkembang.

Oleh karena itu dibutuhkan dukungan untuk pemberdayaan kaum perempuan di Indonesia yang merupakan prioritas tertinggi negeri ini. Dukungan itu akan terdiri dari banyak bentuk, mulai dari bantuan usaha langsung, hingga standar yang lebih tinggi untuk pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Sementara itu, kekerasan dalam rumah tangga juga merupakan salah satu tantangan yang menghadang kaum perempuan di banyak komunitas yang tidak hanya merupakan masalah sosial tetapi juga masalah ekonomi.

 Kodrat Perempuan

Peran perempuan memiliki tugas yang cukup penting, terlepas secara kodrati, perempuan sebagai manusia tidak dapat melepaskan diri dari keterikatannya dengan manusia lain. Seperti diketahui bahwa pada dasarnya berhubungan dengan individu lain merupakan suatu usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya.

Dari hubungan antarpribadi tersebut, tumbuhlah perasaan diterima, ditolak, dihargai-tidak dihargai, dan diakui-tidak diakui. Di samping itu, dari hubungan antarpribadi itu, perempuan dapat lebih mengenal dirinya sendiri, banyak mendapatkan penilaian dan memberikan penilaian. Bergaul dengan individu lain, membuka kesempatan baginya untuk dapat menyatakan diri dan mengembangkan kemampuannya.

Suatu kenyataan bahwa dewasa kini keikutsertaan perempuan dalam mencapai tujuan pembangunan sangat diharapkan. Berbagai peran dan tugas ditawarkan bagi wanita, dalam hal tersebut tentunya perempuan harus selalu selektif jangan sampai terkecoh sehingga lupa pada kodratnya.

Hal tersebut karena perempuan di era modernisasi teknologi, memiliki tugas dan tanggung jawab yang semakin berat. Karena untuk saat ini dan ke depannya, dia bukan lagi hanya mengurus suami dan anak-anaknya, tetapi juga harus ikut berjuang menopang perekonomian keluarga yang mungkin tidak lagi mampu dicukupi oleh suami saja.

Modernisasi memang identik dengan kebutuhan hidup yang membengkak, namun kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang laik kadang terasa sulit. Apalagi bagi mereka yang tidak memiliki pendidikan dan keterampilan yang memadai. Oleh karena itu perlu kiranya jika perempuan kini harus lebih aware terhadap peningkatan kualitas dirinya.(*)

*) Mahasiswa UIN Semarang, sedang berada di Banyuwangi

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia