Minggu, 21 Jan 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Travelling

Indahnya Melepas Lampion ke Udara di Perairan Selat Bali

Sabtu, 30 Dec 2017 07:05 | editor : Ali Sodiqin

IKON WISATA BARU: Warga keturunan Tionghoa melepas lampion sebagai simbol harapan kehidupan di Pantai Grand Watudodol, pekan lalu.

IKON WISATA BARU: Warga keturunan Tionghoa melepas lampion sebagai simbol harapan kehidupan di Pantai Grand Watudodol, pekan lalu. (Krida Herbayu/JPRB)

Pekan lalu, puluhan warga keturunan Tionghoa melepas balon ke udara di Pantai Grand Watudodol (GWD). Ritual tahunan ini diikuti umat dari Klenteng Tik Liang Tian Rogojampi. Balon-balon tersebut dilepas ke angkasa sebagai simbol harapan kehidupan.

KRIDA HERBAYU, Wongsorejo

CAHAYA lampion menerangi gelapnya langit di atas wisata Pantai Grand Watudodol (GWD). Malam berubah sedikit terang berkat pancaran api lampion yang bersumber dari paravin.

Tidak mudah bagi warga keturunan Tionghoa yang berasal dari Klenteng Tik Liang Tian, Rogojampi, untuk melepas lampion ke angkasa. Tiupan angin laut di pintu Selat Bali yang berembus kencang mematikan api puluhan lampion yang diterbangkan.

Beberapa di antaranya gagal mengudara lantaran tersangkut di atas pohon cemara. Puluhan lainnya tak bisa lepas landas akibat terjun ke laut.

Halangan itu tak menyurutkan gabungan warga Tionghoa dari Genteng, Jajag, dan Rogojampi untuk terus menyalakan lampion dan melepaskannya lagi ke atas langit perairan Selat Bali itu.

Satu orang bisa melepas lebih dari dua lampion. Sebelum proses pelepasan, lampion yang hendak diterbangkan diberi tulisan nama seseorang. Identitas itu umumnya milik orang lain, bukan nama pelepas lampion.

Toni Halim, 40, salah seorang warga menuturkan, nama yang tertera dalam lampion itu adalah orang yang didoakan atas kebaikan. Dia berasal dari keluarga, kerabat, maupun teman dekat. ”Lampion bagi warga keturunan Tionghoa merupakan simbol harapan. Harapan yang baik itu dilepas ke udara agar tahun depan bisa segera terwujud,” jelas Toni.

Tradisi penerbangan lampion di Pantai GWD sudah dilakukan perkumpulan warga dari Klenteng Tik Liang Tian sejak lima tahun lalu. Dimulai sekitar tahun 2012, mulanya lampion yang diterbangkan hanya berjumlah puluhan. Lama kelamaan jumlah lampion yang diterbangkan itu terus bertambah. Seiring banyaknya warga keturunan yang mengikuti adat tersebut.

Kegiatan yang dipercaya warga Tionghoa sebagai simbol pengharapan tersebut selalu digelar tiap akhir tahun. Agenda itu beriringan dengan perayaan Natal dan Tahun Baru. Hari ulang tahun (HUT) Klenteng Tik Liang Tian yang jatuh tiap tanggal 9 bulan 11 dalam penanggalan China juga yang menjadi dasar tradisi ini.

Abdul Azis, pengelola GWD menuturkan, tradisi lampion bisa menjadi ikon wisata akhir tahun bagi turis lokal maupun mancanegara. Pelaksanaan yang berdekatan dengan Natal dan Tahun Baru bisa mendongkrak kunjungan turis ke Bumi Blambangan. ”Sedang kita upayakan agar tahun depan bisa dikemas lebih menarik. Tradisi warga keturunan Tionghoa ini cukup unik sehingga potensial untuk dikemas dalam bisnis wisata,” harap ketua Kelompok Masyakarat Pengawas (Pokmaswas) Pesona Bahari.

Di GWD ada banyak agen travel wisata yang melayani trip menuju Pulau Tabuhan, Menjangan, maupun Bangsring Under Water. Semua travel wisata memiliki jaringan pasar hingga ke luar kota. Potensi inilah yang kini sedang di rancang agar pariwisata di GWD terus menggeliat.

Berdasar hasil survei, GWD menduduki urutan ketiga dengan kunjungan wisatawan tertinggi di Bumi Blambangan, setelah Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah. ”Survei itu terus memacu kami agar kian meningkat. Bidikannya adalah turis manca. Sudah ada yang berkunjung cuma angkanya perlu didongkrak,” jelas Azis.

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia