Sabtu, 20 Jan 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Travelling

Mulai Rehabilitasi Trotoar sampai Bus Tingkat

Jumat, 29 Dec 2017 14:25 | editor : Ali Sodiqin

PERCANTIK TROTOAR: Beberapa pekerja sedang merehabilitasi trotoar di depan hotel-hotel dekat Masjid Nabawi (kelihatan menaranya).

PERCANTIK TROTOAR: Beberapa pekerja sedang merehabilitasi trotoar di depan hotel-hotel dekat Masjid Nabawi (kelihatan menaranya). (Samsudin Adlawi/JPRB)

MADINAH terus berbenah. Setelah dua tahun kembali ke kota suci itu, saya melihat perubahan yang signifikan. Saya mencoba mencari hotel, maktab saya waktu haji pada 2014. Sudah tidak ada. Lenyap. Rata dengan tanah. Berubah menjadi lahan parkir.

Kedua, sejumlah hotel di sektor tenggara Masjid Nabawi juga sudah lenyap. Bangunan-bangunan menjulang di utara Makam Baqi itu sudah lenyap. Padahal, saat saya umrah pada 2015, bangunan hotel masih berdiri kokoh. Cuma sudah dikasih tanda silang (X) merah.

Di bekas bangunan hotel itu sudah berdiri batang-batang fondasi untuk perluasan Masjid Nabawi. Sayangnya, proyek perluasan Masjid Nabawi kini mangkrak. Sama dengan mega proyek Masjid Haram. Yang belum 100 persen tuntas. Dan mandek. Hanya crane-crane yang berdiri merana.

Informasi yang saya peroleh, mega proyek pengembangan Masjidilharam dan Masjid Nabawi dihentikan Kerajaan Arab Saudi. Setelah tragedi robohnya crane pada musim haji 2015. Yang memakan korban lumayan banyak. Termasuk jamaah haji Indonesia.

Bin Laden Corp sebagai kontraktornya di-black list oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi. ”Bin Laden lalu menggugat. Sampai sekarang informasinya masih berlangsung proses hukumnya,” kata ustad Sholeh, mutawif PT Panji Mas Wisata, yang mendampingi saya dan rombongan selama umrah.

Ditambahkan oleh dia, itu pula yang menyebabkan dana santunan jamaah haji korban crane sampai kini belum cair. Bin Laden kabarnya menolak membayar santunan. Masak proyeknya di-black list masih disuruh bayari santunan korban crane. Apalagi, sekarang proses hukumnya masih belum selesai.

Mandeknya proyek perluasan Masjid Nabawi tidak mempengaruhi aktivitas pemercantikan Kota Madinah. Terutama yang menyangkut pelayanan. Khususnya kenyamanan jamaah. Baik umrah maupun haji.

Saat ini sedang digencarkan rehabilitasi trotoar. Trotoar yang lama dibongkar. Diganti baru. Dengan paving yang lebih modern. Lebih berwarna-warni. Saat saya keliling, tampak pekerja sedang mengerjakan proyek tersebut. Pekerjanya tidak banyak. Hanya beberapa pekerja. Sama seperti di Eropa. Saat ke Jerman beberapa waktu lalu di pinggir jalan yang saya lalui juga tampak ada pengerjaan trotoar. Dikerjakan hanya 3 orang. Tapi alatnya canggih. Beda dengan di tempat kita.

Selain peralatan yang modern, paving yang dipakai juga lebih kokoh. Bahannya ternyata beda. ”Di Indonesia sulit cari bahan untuk paving seperti ini,” kata H Ali Mansur yang pengusaha paving Prima di Banyuwangi.

Saya melihat dengan mata sendiri. Paving dan terutama pengunci paving paling pinggir tampak kokoh sekali. Ditabrak dan dilindas bus-bus besar pengangkut jamaah tetap kokoh. Tidak ada yang cuil atau retak. Apalagi sampai hancur.

Tekstur pavingnya lebih halus. Lebih mirip lantai marmer. Ditata menyerupai mozaik. Membentuk sesuatu. Tidak seperti paving yang lama. Tidak ada motif. Lempeng. Polos. Dijamin paving baru kalau sudah terpasang semua, trotoar yang membelah deretan hotel-hotel di luar pagar Masjid Nabawi bakal lebih kinclong. Sebab, trotoar-trotoar di sekitar masjid secara berkala dipel. Kebetulan saya dua kali melihat sendiri. Petugas kebersihan dengan sigap mengepel trotoar. Ada yang menyemprotkan air dari mobil tangki. Lalu petugas yang di bawah dengan serempak mendorong alat pengepel bertangkai. Sekali jalan langsung kinclong. Trotoar di sekitar masjid dan di sela-sela hotel juga dipakai salat. Oleh jamaah yang tidak nutut masuk ke halaman masjid.

Hal baru yang kedua yang saya temui adalah bus tingkat. Dengan dek terbuka di atas. Ternyata bus itu untuk city tour. Fasilitas yang tidak saya temukan pada umrah sebelumnya. ”Bus city tour itu baru beroperasi sekitar enam bulan lalu, Pak Haji,” kata Sholeh.

Bus itu mengajak jamaah umrah keliling kota Madinah. Mengunjungi 11 lokasi. Mulai museum, Makam Baqi, Jabal Uhud, Masjid Quba, dan seterusnya. Durasinya dua jam. Tarifnya lumayan mahal. Paketnya: satu orang ongkosnya 80 real (Rp 260 ribu, dengan kurs 1 real = Rp 3.600), paket keluarga 120 real (4 orang), dan untuk anak-anak cukup bayar 40 real.

Bagi pembaca yang akan umrah atau berhaji tahun depan, tidak ada salahnya jika mencoba paket city tour dengan bus bertingkat. Lumayan untuk refreshing sekaligus mengenal lebih detail kota Madinah.

(bw/rri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia