Kamis, 26 Apr 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Travelling
Ke Alas Purwo, Sembunyi dari Peradaban (3)

Menikmati The Seven Giant Wave Wonder

Selasa, 12 Dec 2017 15:30 | editor : Ali Sodiqin

Wisatawan berselancar di Pantai Plengkung, G-Land, Alas Purwo.

Wisatawan berselancar di Pantai Plengkung, G-Land, Alas Purwo.

Di antara sekian banyak tempat-tempat wisata di Alas Purwo ini, hanya satu tempat yang paling dikenal turis manca negara. Kawasan itu adalah Plengkung atau lebih dikenal para bule dengan sebutan G-Land.

ALI SODIQIN, Alas Purwo

Hutan pantai ini sudah lama menjadi surga bagi peselancar profesional mancanegara. Ombaknya yang sangat besar, menjadi pantai ini sering mendapat julukan fantastis yang diberikan oleh para peselancar dunia. Para penggila gulungan ombak asal Jepang, misalnya menjuluki pantai ini The Seven Giant Wave Wonder. Karena kerap ditemui ombak raksasa datang susul menyusul sebanyak tujuh lapis.

Turis mancanegara bersantai di kawasan Pantai Plengkung.

Turis mancanegara bersantai di kawasan Pantai Plengkung. (Rendra Kurnia/JawaPos.Com/RadarBanyuwangi)

Sebutan itu sebenarnya tidak terlalu berlebihan. Sebab, panjang gelombang di pantai ini mencapai dua km dengan tinggi empat sampai enam meter dalam interval lima menit. Oleh karena itu, kerap digunakan sebagai lokasi kompetisi surving internasional. Menurut petugas Taman Nasional Alas Purwo, selain di Plengkung, cuma Hawaii, Australia, dan Afrika Selatan saja yang memiliki ombak dasyat seperti itu.

''Ombak di Plengkung ini nomor dua setelah Hawaii,'' kata Dwi. Hawaii tetap menjadi nomor satu karena ombaknya terjadi terus menerus sepanjang tahun. ''Puncak ombak di Plengkung hanya pada bulan-bulan tertentu. Antara April hingga Agustus,'' tambah pria yang menyukai fotografi dan desain grafis itu.

Turis membawa alat selancar menuju Pantai Plengkung.

Turis membawa alat selancar menuju Pantai Plengkung. (Rendra Kurnia/JawaPos.Com/RadarBanyuwangi)

Peselancar dari Amerika menyebut Plengkung sebagai G-Land. Ada yang mengatakan, G-Land ini singkatan dari pelabuhan Grajagan. Pelabuhan ini merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal yang dipakai para turis untuk mencapai Plengkung. Sebutan G-land juga berarti karena Plengkung yang berada di Teluk Grajagan menyerupai huruf G. Atau bisa juga diartikan karena letak Plengkung berada tidak jauh dari hamparan hutan hujan tropis yang terlihat selalu hijau atau Green Land.

Pantai Plengkung (G-Land) yang eksotik.

Pantai Plengkung (G-Land) yang eksotik. (Rendra Kurnia/JawaPos.Com/RadarBanyuwangi)

Tingginya ombak di Plengkung ini memang sangat berbahaya bagi peselancar pemula. Namun, mereka tak perlu cemas. Pemandangan alam kawasan ini memang sangat eksotik. Hamparan pantai berpasir putih yang diselimuti kawasan hutan yang masih alami, jauh dari kebisingan kawasan perkotaan, tak ada sinyal handphone, tak ada lalu lalang kendaraan, tak ada PKL, dan tak terjangkau jaringan televisi, menjadikannya tempat ini sebagai kawasan paling ideal untuk 'sembunyi' dari peradaban. Tak heran, di kawasan ini sering menjadi tempat pelarian penjahat kelas kakap dunia.

Penulis melihat tempat penetasan penyu semi alami di Ngagelan, salah satu destinasi wisata di Alas Purwo yang tak boleh ditinggalkan.

Penulis melihat tempat penetasan penyu semi alami di Ngagelan, salah satu destinasi wisata di Alas Purwo yang tak boleh ditinggalkan. (Galih Cokro/JawaPos)

''Dulu, sekitar akhir 1990-an, ada penjahat dari Amerika ditangkap. Pengakuanya, dia sudah berada di Alas Purwo sejak pertengahan 1980-an,'' ujar Dwi, yang juga salah seorang penyusun buku Informasi Balai Taman Nasional Alas Purwo itu.

Karena itu, pihaknya kini lebih selektif dalam menerima tamu. ''Selain identitasnya kami data secara rinci, wisatawan yang datang kemari juga kami tanyakan apa keperluannya datang ke Alas Puwo. Itu juga berlaku bagi mereka yang melakukan kegiatan religius seperti bersemedi atau bertapa,'' tambah Dwi. (habis)

(bw/rri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia