Sabtu, 21 Oct 2017
radarbanyuwangi
icon featured
Situbondo

Masih Banyak Proyek Fisik Desa Tidak Swakelola

Minggu, 24 Sep 2017 13:20 | editor : Ali Sodiqin

UANG DARI RAKYAT: Pekerja membuat drainase di salah satu desa beberapa waktu lalu

UANG DARI RAKYAT: Pekerja membuat drainase di salah satu desa beberapa waktu lalu (HABIBUL ADNAN/JPRS)

SITUBONDO – Pengerjaan proyek fisik desa dalam pelaksanaannya belum dikerjakan dengan semestinya. Berdasarkan aturan, proyek yang bersumber dari DD dan ADD itu dilaksanakan swakelola. Artinya, ada keterlibatan masyarakat langsung.

Akan tetapi di beberapa desa tidak demikian. Masih banyak ditemukan proyek dikerjakan kontraktor. Suyono, salah satu masyarakat mengaku, dirinya kerap mendapati kenyataan tersebut. “Dijual ke kontraktor,” katanya.

Selain tidak sesuai dengan aturan, ini juga akan berdampak terhadap kualitas pekerjaan. Jika dikerjakan kontarkator, hasilnya tidak akan maksimal. “Karena yang dicari keuntungan,” terang Suyono.

Beda halnya jika swakelola. Masyarakat tidak akan mengerjakan asal-asalan. Selain menyediakan lapangan pekerjaan, warga juga akan mengerjakan dengan sebaik-baiknya. “karena mereka merasa memiliki,” tambah tokoh masyarakat asal Kecamatan Suboh itu.    

Ini membutuhkan pengawasan dari pihak terkait. Terutama Kejaksaan Negeri (Kejari) dan polisi. “Mereka  harus memantau setiap proyek fisik di desa. Kami minta agar segera melakukan sidak,” katanya.

Kejari dan kepolisian memiliki tugas pengawasan yang melekat. Oleh sebab itulah, Suyono berharap agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. “Jangan sampai kecolongan pada termin berikutnya yang akan cair dalam bulan ini,” ujarnya.

Adanya proyek desa yang dikontarktualkan ini tidak terjadi di satu dua tempat. Akan tetapi ditemukan di sebagian besar desa di Situbondo. Suyono mencontohkan di beberapa desa wilayah barat. “Kontraktor semua yang mengerjakan,” terangnya.

Dia mengaku, di beberapa tempat ada makelar proyek. Mereka inilah yang ditugasi kontraktor mencari proyek. “Mereka ini dapat (fee) sepuluh persen dari kontarktor. Desa juga dikasih uang. Seharusnya tidak seperti ini, itukan uangnya rakyat,” pungkas Suyono. (bib)  

(bw/bib/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia