Selasa, 17 Oct 2017
radarbanyuwangi
icon featured
Situbondo

Jatah Gas Melon Subsidi Akan Berkurang

Minggu, 24 Sep 2017 11:15 | editor : Ali Sodiqin

RAMAI PEMBELI: Masyarakat menyerbu gas elpiji 3 kg di SPBU kota kemarin.

RAMAI PEMBELI: Masyarakat menyerbu gas elpiji 3 kg di SPBU kota kemarin. (LAILY MASTIKA/JPRS)

SITUBONDO- Warga dengan ekonomi mampu diimbau untuk tidak menggunakan elpiji 3,5 kilogram (kg) atau melon. Pasalnya, itu subsidi untuk warga miskin. Dan akhir tahun ini akan ada pengurangan kuota subsidi elpiji melon.

Kepala Bagian Perekonomian Sentot Sugiyono, mengatakan hasil pertemuan seluruh kepala daerah di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara pada Selasa (19/09) lalu, diberitakan bahwa pemerintah pusat akan mengurangi 25 persen dari total sisa jatah tabung melon di tahun anggaran 2017. “Secara otomatis itu akan berdampak pada berkurangnya jumlah tabung yang di salurkan setiap harinya,” ujarnya.

Selama ini SPBE Kapongan menyalurkan 16.800 tabung per harinya ke 6 agen. Jika dikurangi 25 persen, maka akan berkurang sekitar 4000 tabung. “Persoalan itu perlu segera diantisipasi,” ujarnya.

Sentot menyatakan, kepala daerah diminta untuk membantu pengawasan penyaluran. Diberi kewenangan untuk segera membentuk tim pengawas distribusi elpiji melon di tingkat pangkalan. Itu sebagai salah satu contoh antisipasi yang disarankan oleh pemerintah pusat. Karena hingga kini, pemerintah pusat dinilai belum mampu mengawasi hingga tingkat konsumen. “Sehingga, elpiji melon benar-benar dipakai oleh warga miskin,” jelasnya.

Sentot menuturkan, fakta di lapangan masih banyak warung makan skala besar, home industri, bahkan pegawai negeri yang masih menggunakan elpiji melon. Padahal itu bukan haknya. “Warga yang merasa ekonominya mampu diharapkan sadar, dan beralih menggunakan gas 5 kg atau 12 kg,” bebernya.

Diterangkan, isu kelangkaan yang sempat terjadi pada minggu kemarin, itu merupakan hal yang tidak masuk akal. Karena, Kabupaten Situbondo merupakan kabupaten nomor 3 dengan jumlah penyaluran tabung melon terbesar. Sehingga, untuk pengajuan tambahan kuota elpiji melon sangat bergantung dengan kondisi kabupaten-kabupaten lain di Jawa Timur. “Bisa dikabulkan bisa tidak. Karena kita nomor tiga terbesar di Jawa Timur,” pungkasnya.  

Seperti diberitakan sebelumnya, Komisi II DPRD melakukan inspeksi mendadak terkait keluhan langkanya elpiji melon di masyarakat. Hasil sidak menunjukkan tidak ada perubahan jumlah tabung yang dikirim SPBE Kapongan ke agen-agen. Sehingga, jumlah tabung melon yang beredar di masyarakat tetap sama seperti biasanya. Jika ada kelangkaan dan harga yang mahal, disinyalir adanya kenakalan dari pangkalan atau pengecer.

Berdasarkan pantauan wartawan koran ini, masyarakat, terutama pengecer, lebih banyak membeli elpiji melon di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) ketimbang ke pangkalan. Pengecer asal Kotakan, Hendro mengatakan, hampir setiap tiga hari sekali membeli elpiji melon di SPBU. “Sekali ambil biasanya 15 tabung,” paparnya.

Narasumber lain yang tidak mau disebutkan namanya, membeli 20 elpiji melon di SPBU. Itu dilakukan karena, jumlah elpiji dari pangkalan dikurangi. “Sedangkan setiap hari selalu ada masyarakat yang beli. Jadi bagaimana caranya agar masyarakat tidak sampai kekurangan, ya nambah dari SPBU,” pungkasnya. (ily)

(bw/ily/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia