Selasa, 21 Nov 2017
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Kuliah Umum Kepala Unit Kerja Presiden di Untag

Teken Kerjasama Pendidikan Karakter Pancasila

Minggu, 24 Sep 2017 08:25 | editor : Ali Sodiqin

Yudi Latif, Kepala Unit Kerja Presiden RI

Yudi Latif, Kepala Unit Kerja Presiden RI (IRWAN/RaBa)

Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi semakin membuktikan kampus merah putihnya sebagai laboratorium Pancasila. Para pakar ideologi Pancasila diundang untuk memberikan kuliah umum bagi mahasiswa Untag. Setelah Dr. Peter Kasenda, staf ahli di Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), kemarin siang (22/9) giliran Kepala UKP-PIP Dr. Yudi Latif diundang mengisi kuliah umum bagi ratusan mahasiswa.

E. Irwan Suryanto, Banyuwangi

YUDI Latif menyampaikan kuliah umum bertema “Generasi Unggul, Taat Azas, Berwawasan Kebangsaan. Kontribusi Untag Banyuwangi Menyongsong 1 Abad Indonesia”. Ratusan mahasiswa baru Untag mengikuti kegiatan di auditorium tersebut. Tak ketinggalan, para dosen, guru dan perwakilan unit-unit, serta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untag.

Kuliah umum yang dipandu sendiri oleh Rektor Untag Drs. Andang Subaharianto, MHum itu berlangsung gayeng. Yudi tampak bersemangat menjabarkan banyak hal tentang perkembangan ideologi Pancasila di Indonesia dari berbagai perspektif. Audiens juga terlihat antusias menyimak dan bertanya kepada narasumber. Maklum, materi yang disampaikan memang sedang menjadi bahan pembicaraan cukup hangat di tengah konstelasi politik Indonesia yang sedang dinamis ini.

Yudi berulang kali menyampaikan keprihatinannya terkait daya tahan ideologis bangsa Indonesia yang tidak begitu kuat. Menurutnya, bela negara dalam konteks hari ini sebenarnya tidak dalam bentuk peperangan langsung. Indonesia nyaris tidak ada musuh, kata dia, kalau menghadapi peperangan langsung. “Nah, peperangan kontemporer itu kan peperangan ideologis,” terangnya.

Namun, tanya Yudi, apa yang terjadi?  Ketika ideologi lain masuk, dalam 20 tahun terakhir justru Pancasila nyaris tidak lagi diperhatikan. Pembelajaran dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi cenderung diabaikan. “Akibatnya, kemudian ketika Pancasila absen, satu-satunya pasokan ideologis pada anak-anak itu justru ideologi-ideologi yang datang dari luar,” tuturnya.

Yudi merasa heran kenapa masyarakat sekarang begitu reaktif terhadap kemungkinan-kemungkinan ancaman komunisme. Hal itu justru membuat kita semakin harus diingatkan bahwa sebenarnya Pancasila memiliki daya tahan untuk merespons.  “Jika Pancasila memiliki daya tahan untuk merespons itu, kita tidak perlu terlalu blingsatan menghadapi isu komunisme,” ujarnya.

Dijelaskan, komunisme dalam peta geopolitik dunia sudah tidak punya kekuatan pendukung yang kuat. Contohnya, Uni Sovyet dan Cina. Saat ini, beber dia, yang dikembangkan di Cina bukan lagi komunisme dalam perpekstif lama. “Yang berkembang sekarang justru nasionalisme konfusian, yang dulu sebenarnya ideologinya Sun Yat Sen yang ditendang ke Taiwan,”  paparnya.

Meski partainya komunis,  lanjut dia, tetapi ideologi yang berkembang di Cina adalah nasionalisme.  “Tetapi lebih mengadopsi paham-paham Sun Yat Sen, yakni nasionalisme berbasis konfusianisme,” jelasnya.

Katakanlah posisi komunisme masih hidup di Indonesia, imbuh Yudi, tetapi kita tidak perlu begitu ketakutan. Apalagi, peta geopolitik Indonesia sampai berubah. Hal itu justru menunjukkan daya tahan kita dalam mengembangkan Pancasila tidak begitu kuat, sehingga cenderung reaktif. “Ketimbang kita terus-menerus bersifat defensif, lalu dibayang-bayangi oleh berbagai ketakutan, lebih baik kita kembangkan Pancasila sebagai ideologi yang benar-benar safety,” jlentrehnya.

Pancasila, kata dia, dikembangkan dalam suatu proses pembelajaran ruang publik kita. Tetapi kalau Pancasila diajarkan, kita harus pastikan metode delivery dan kontensnya harus sesuai dengan perkembangan anak-anak muda hari ini. “Kenapa dalam peta ideologi, ideologi lain yang tidak menarik, justru mendapatkan banyak pengikut?,” suluknya.

Profesor Thomas Meyer dari Jerman, kutip Yudi, menegaskan bahwa Pancasila adalah ideologi terbaik di dunia. Tetapi, kenapa Pancasila tidak memiliki daya atraktif bagi anak-anak bangsa. “Tantangan ini harus kita kembangkan,” tegasnya.

Pendidikan tinggi berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012, sebut dia, menyatakan bahwa Pancasila menjadi mata kuliah wajib di perguruan tinggi. Selain PPKn. “Cuma tidak cukup hanya soal wajib dan tidak wajib,” tukasnya.

Tantangan ke depan, tegas dia, bagaimana kita menyiapkan suatu proses belajar-mengajar Pancasila. Secara kontens jauh lebih solid, baik dari aspek sejarahnya, aspek filosofisnya, dan wawasan implementatifnya. Metode delivery-nya lebih atraktif sesuai tantangan generasi milenia. “Kita tidak bisa hanya mengajarkan hapalan butir-butir,” kritiknya.

Meski Yudi mengakui, tidak semua warisan dari masa lalu harus dibuang. Bahkan, menurutnya, 36 butir Pancasila tidak ada yang salah. Tetapi, perlu disusun semacam syarat-syarat minimum, yang lebih menyederhanakan 36 butir Pancasila supaya lebih mudah dibayangkan oleh anak-anak hari ini. Tanpa mengurangi kekayaan substansinya. “Boleh saja setiap guru atau institusi mengembangkan lebih lanjut, tetapi perlu dibuat kesamaan kerangka. Sisanya bisa ditambahkan,’ usulnya.

Tentang pemutaran film G 30S/PKI, Yudi menilai, boleh-boleh saja jika berkaitan dengan soal kewaspadaan. Tetapi juga harus diwaspadai ancaman ideologi lain. Sebab, potensi ancaman terhadap ideologi Pancasila dari berbagai sumber. Bisa dari sila pertama hingga kelima. “Jika membandingkan, barangkali ada yang lebih gawat dari komunisme, seperti neoliberalisme atau fundamentalisme, yang jauh lebih merangsek,” katanya.

Sementara itu, Rektor Untag Banyuwangi, Drs. Andang Subaharianto, MHum mengatakan bahwa kegiatan kuliah umum dengan menghadirkan para pakar keilmuan tidak akan berhenti di situ saja. Di sela-sela kuliah umum kemarin, Untag dan UKP-PIP telah menandatangani memorandum of understanding (MoU). Kerjasama akan terus dilakukan untuk pendidikan karakter dan penanaman ideologi Pancasila bagi mahasiswa Untag. “Ada tindak lanjut dari MoU ini, dalam rangka menyiapkan generasi yang unggul, taat asas, dan berwawasan kebangsaan,” tegas rektor.

Andang menegaskan bahwa pihaknya ingin menjawab tuntutan visi Untag, yakni menciptakan generasi yang unggul, taat asas, dan berwawasan kebangsaan. Nah, langkahnya dimulai dari kuliah umum kemarin. Sebab, mayoritas yang diundang adalah mahasiswa baru. Jadi, Untag mulai mengkonstruksi anak-anak muda, dengan membekali mereka supaya tidak menjadi generasi yang ahistoris. Tetapi, menjadi generasi yang tahu sejarah. “Tahu kenapa Indonesia ini harus berdasarkan Pancasila, harus NKRI, dan seterusnya,” imbuhnya.

Jadi, lanjut Andang, kegiatan itu merupakan bagian dari rencana besar Untag untuk membekali mahasiswa supaya menjadi generasi yang unggul. Ditegaskan, unggul saja tidak cukup untuk Indonesia ke depan. Tetapi, dia harus menjadi generasi yang paham sejarah. “Bukan generasi yang ahistoris,” tandas rektor.(*)

KERJASAMA: Rektor Untag Andang Subaharianto dan Yudi Latif menandatangani MoU, kemarin sore.

KERJASAMA: Rektor Untag Andang Subaharianto dan Yudi Latif menandatangani MoU, kemarin sore. (Untag for RaBa)

(bw/anf/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia