Selasa, 17 Oct 2017
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Spirit Jumat

Mystery of Forty

Oleh: KH Toha Muntoha

Sabtu, 23 Sep 2017 19:00 | editor : Ali Sodiqin

Mystery of Forty

Untuk mengetahui jumlah suatu benda, matematikawan menyajikan istilah bilangan.  Berikutnya mereka menotasikannya dalam bentuk angka. Ada yang disebut bilangan prima, rasional, irasional.

Dan yang posturnya bulat positif mereka menamakannya bilangan asli, seperti bilangan 40 yang merupakan faktor dari 80, 120, dan seterusnya. Segenap fisikawan menyederhanakan bilangan kilometer pada hitungan astronomi dengan satuan cahaya.

Hal mana satu detik cahaya setara dengan 300 ribu kilometer, hingga keseriusan ilmuwan NASA mencari “bumi” baru bagi manusia berbuah  adanya penemuan tujuh planet yang mengorbit pada bintang kecil Trappist-1 berjarak 40 tahun cahaya.

“Penemuan ini memastikan bahwa menemukan bumi kedua hanya masalah waktu,’’ ujar Thomas Zurbuchen, Direktur Sains NASA.

Jejak bilangan 40 ternyata juga menempel pada  proses peragian tanah liat sebagai bahan baku Adam As yang konon berlangsung selama 40 hari. 

Kemudian kepada Musa As, Allah sediakan pula waktu untuk bermunajat selama 40 malam.

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (menerima Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam.  Dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi) maka sempurnalah waktu yang ditentukan Tuhannya empat puluh malam,” QS 7:142.

Bilangan 40 kembali muncul saat Allah jatuhkan hukuman kepada Bani Israil yang membantah hukum Syariah dengan mengusir  keluar dari kampung halaman mereka selama 40 tahun. “Allah berfirman, maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama 40 tahun, selama itu mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu, maka janganlah kamu bersedih memikirkan orang orang yang fasik itu” QS Al Maidah: 26.

Keistimewaan bilangan 40 juga mengemuka kepada mereka yang hafal 40 hadis dan Nabi SAW menjanjikan kelak kebangkitan mereka dari kubur bersama para ulama, bahkan dalam hadis lain, Nabi Saw menyatakan “Bahwa melaksanakan 40 hari secara berjamaah akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun  perjalanan berkuda tahutt”.

Jika dikaitkan dengan proses pertumbuhan janin dalam kandungan, bilangan 40 dijadikan oleh Nabi SAW sebagai momentum perubahan dari mulai bentuk sel telur yang dibuahi (nuthfah) menuju bentuk alaqoh yang memiliki tiga makna, yaitu benda yang melekat, gumpalan darah, dan benda mirip lintah kemudian segumpal daging (mudghoh), HR Bukhori Muslim.

Life begins at Forty adalah judul buku tulisan psikolog W.B Pitkin yang memopulerkan kematangan berpikir dan bertindak tiap manusia di mulai pada usia 40 tahun, jika demikian publik menjadi “ngeh” kenapa Nabi Muhammad diangkat oleh Allah menjadi Rasul di usia 40 tahun.

“...sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya mencapai 40 tahun ia berdoa ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku bisa mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhoi dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku, sungguh aku bertobat kepada Engkau dan sungguh aku termasuk orang yang muslim’,” QS Al Ahqof:15.

Walhasil amatlah bijak jika sampai di usia ini manusia berhenti sejenak untuk bermuhasabah, seperti yang diperingatkan oleh Al Ghazali  “...usia 40 tahun adalah sebuah pertanda... jika di usia itu kebaikan lebih mendominasi, maka itu pertanda baik bagi kehidupannya nanti...”

Namun, “Bila seseorang mencapai usia 40 tahun, lalu kebaikannya tidak mengatasi kejelekannya, setan mencium di antara kedua matanya dan berkata hendaklah ia mempersiapkan keberangkatannya ke neraka”. Demikian peringatan keras Baginda Nabi SAW.

Selamat berhijrah. (*/c1)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia