Senin, 23 Oct 2017
radarbanyuwangi
icon featured
Kesehatan

Aktivis Penyakit Jiwa Australia Belajar Kasus Pasung di Kota Santri

Sabtu, 23 Sep 2017 11:10 | editor : Ali Sodiqin

SHARING ILMU: Dianne dan David dalam diskusi bersama di ruang rapat Dinas Kesehatan

SHARING ILMU: Dianne dan David dalam diskusi bersama di ruang rapat Dinas Kesehatan (LAILY MASTIKA/JPRS)

SITUBONDO- Dua aktivis kesehatan khusus penyakit kejiwaan asal  Melbourne, Australia berkunjung ke Situbondo kemarin (20/09). Mereka meninjau langsung bagaimana proses penanganan warga yang sakit jiwa. Itu sebagai studi banding dengan pelayanan yang ada di Australia.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), Abu Bakar Abdi mengatakan, dua orang tersebut bernama Dianne dan David. Mereka penasaran dengan bagaimana pasung muncul di masyarakat Situbondo. “Mereka ingin mengetahui dan meninjau langsung pelayanan pemulihan pasien penyakit jiwa di puskesmas Mlandingan,” paparnya.

Abu menjelaskan, sejak tahun 2014 ada 44 orang yang dipasung karena sakit jiwa. Jumlah itu terus menurun, hingga kini hanya tersisa 2 orang di kecamatan Panarukan. Pelayanan kesehatan bagi pasien yang dipasung tidak bisa lepas dari kondisi sosial, ekonomi dan pelayanan lintas sektoral. “Mereka heran dan kagum disini ada pelayanan tingkat dasar untuk permasalahan mental dan pasung. Karena, biasanya itu dirujuk ke rumah sakit,”paparnya.

Dinyatakan, selain untuk melihat secara langsung pelayanan kesehatan terhadap orang yang dipasung, mereka juga bermaksud menentukan bantuan yang paling cocok untuk Situbondo. “Yang jelas, bantuan yang sudah pernah kami terima adalah pendidikan dan sharing ilmu,” pungkasnya.

Sementara itu, aktivis pemulihan kesehatan mental anak muda usia 15 hingga 25 tahun Australia,  Dianne menjelaskan, kedatangannya ke Situbondo untuk melakukan studi komparatif pemulihan kesehatan mental, terutama tentang pemasungan. Dia kagum dengan bagimana Situbondo mampu mengubah orang-orang yang dipasung menjadi bebas dan produktif. “Saya melihat tidak ada kota lain di Indonesia yang melakukan aktivitas pembebasan pasung hingga bisa bebas. Karena,sebagian besar di kota atau kabupaten lain tetap dipasung,” ulas.

Dianne menyatakan, kunjungan itu juga atas rekomendasi dari Profesor Hary, ahli kesehatan mental di Australia. Prof. Hary menilai Situbondo berhasil memulihkan penyakit jiwa yang diderita hingga pasien tersebut bebas pasung. “Saya datang bersama David. Dia dosen sekaligus aktivis kesehatan jiwa untuk usia 20 hingga 60 tahun,” tandasnya.

dr. Yuni Verosita, menyatakan, Dianne dan David datang untuk melihat perkembangan pelayanan kesehatan mental yang ada di Situbondo, setelah dirinya studi selama satu bulan di Australia pada tahun lalu. Mereka menyatakan tidak ada kabupaten yang melakukan bebas pasung seperti yang dilakukan di Situbondo. “Namun, sebenarnya semua kabupaten di Jawa Timur menerapkan bebas pasung. Kebetulan saja, saya yang  dikirim ke Australia, sehingga distrik yang mereka lihat itu Situbondo,” pungkasnya.

(bw/ily/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia