Senin, 23 Oct 2017
radarbanyuwangi
icon featured
Politik & Pemerintahan
Penelitian Bappeda dan UNIBA

Terapkan Sistem Bioflok, Komoditas Lele Pokdakan Dijamin Lebih Meningkat

Jumat, 22 Sep 2017 15:05 | editor : Ali Sodiqin

UNTUK MASYARAKAT: Tim peneliti UNIBA terdiri dari Nadya Adharani, S.Pi., M.Si, Sulistiono, S.Si, M.Si, Megandhi G.W., M.P dan Any Kurniawati, S.Kel, M.Si

UNTUK MASYARAKAT: Tim peneliti UNIBA terdiri dari Nadya Adharani, S.Pi., M.Si, Sulistiono, S.Si, M.Si, Megandhi G.W., M.P dan Any Kurniawati, S.Kel, M.Si

SEBAGAI penghasil ikan laut terbesar di Kabupaten Banyuwangi, bahkan terbesar di Pulau Jawa, Kecamatan Muncar merupakan kawasan strategis dalam pengembangan perikanan atau kawasan minapolitan dimana hampir semua wilayah mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa atau kegiatan perikanan lainnya. Sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas sektor perikanan sekaligus mengangkat ekonomi warga, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga mencanangkan gerakan 10.000 kolam yang dirintis sejak Tahun 2012.

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuwangi, Kecamatan Muncar dan menurut data Dinas Perikanan dan Pangan Kab. Banyuwangi, budidaya lele merupakan budidaya terbanyak ke tiga setelah budidaya udang dan rumput laut. Hingga saat ini terdapat 11 POKDAKAN di Kecamatan Muncar yang aktif melakukan budidaya lele. Namun, kegiatan budidaya yang dilakukan masih dengan teknik sederhana.

Terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh POKDAKAN dalam pembesaran lele seperti kematian masal ikan, bau kolam yang menyengat, kualitas air budidaya yang buruk, kualitas daging lele yang tidak baik, sehingga mempengaruhi kecilnya keuntungan usaha budidaya karena mahalnya biaya produksi terutama harga pakan buatan dan penggunaan listrik. Oleh karena itu, Bappeda Kabupaten Banyuwangi dengan bekerjasama dengan UNIBA berusaha mencari solusi terhadap permasalahan tersebut dengan menerapkan teknologi di bidang budidaya ikan yaitu melalui sistem bioflok. Tim peneliti UNIBA terdiri dari Nadya Adharani, S.Pi., M.Si, Sulistiono, S.Si, M.Si, Megandhi G.W., M.P dan Any Kurniawati, S.Kel, M.Si

Salah satu tim peneliti UNIBA Tim peneliti UNIBA terdiri dari Nadya Adharani, S.Pi., M.S mengatakan, Bioflok merupakan teknologi penggunaan bakteri yang dapat mengkonversi limbah organik secara intensif menjadi limbah yang tidak berbahaya dan membentuk kumpulan flok mikro-organisme yang mengandung protein, kemudian flok tersebut dimanfaatkan oleh organisme akuatik sebagai pakan alami, selain dapat memperbaiki kualitas air, bioflok juga dapat meningkatkan efisiensi pakan yang berpengaruh terhadap penambahan bobot organisme akuatik. Manfaat lain dari sistem bioflok adalah pemanfaatan sumber daya alam seperti air dan lahan yang terbatas, namun dapat melakukan budidaya secara super intensif yaitu kepadatan tebar benih yang tinggi dengan kapasitas kolam yang sempit.

Nadya Adharani menambahkan, kolam percobaan dilakukan di salah satu POKDAKAN Muncar yaitu Karya Mina Lele di Desa Kedungrejo yang diketuai oleh Achmad Zaini Soni. Probiotik yang digunakan yaitu probiotik Fish Megafloc (merupakan kultur murni bakteri Bacillus megaterium). Probiotik Fish Megafloc yang merupakan hasil penelitian Dosen Perikanan UNIBA ini cocok digunakan untuk kolam atau tambak, khususnya dengan sistem bioflok. Penelitian dimulai dari penebaran bibit pada akhir mei hingga panen di awal bulan agustus. Penebaran lele masing-masing kolam sebanyak 3.000 bibit (kolam bioflok dan kolam non bioflok). Hasil yang di peroleh melalui sistem bioflok menghasilkan panen ikan sebanyak 394 kg dan pakan yang diberikan selama budidaya berlangsung sebanyak 315 kg. Berbeda dengan budidaya non bioflok menghasilkan panen ikan sebanyak 300 kg dan pakan yang diberikan selama budidaya berlangsung sebanyak 330 kg. Dapat diketahui dengan sistem bioflok dapat menekan pakan komersil lebih sedikit, dengan nilai konversi pakan atau biasa disebut  food chain ratio (FCR) sebesar 1 : 0.8. Sehingga, keuntungan bersih yang didapat dari sistem bioflok lebih besar dari sistem non bioflok.

“Selain memperoleh keuntungan yang lebih besar, manfaat lain dari budidaya dengan sistem bioflok adalah kondisi kolam budidaya yang ramah lingkungan. Parameter penting adalah ammonia dan nitrat, peran kedua parameter tersebut berpengaruh terhadap keberlangsungan pertumbuhan ikan hingga masa panen. Melalui sistem bioflok kadar ammonia dan nitrat masih dibawah standar baku mutu yang ditetapkan PPRI No.82 Tahun 2001 yaitu <4 mg/L untuk kadar ammonia dan <20 mg/L untuk kadar nitrat, sedangkan budidaya non bioflok menghasil kadar ammonia dan kadar nitrat diatas standar baku mutu,” ungkap Nadya Adharani.

Sementara itu, Kabid Penelitian dan Pengembangan Bappeda Kabupaten Banyuwangi Ir.  Prastyo Hadi menjelaskan, dalam penelitian ini tim peneliti UNIBA juga melakukan pelatihan budidaya dengan sistem bioflok menggunakan Probiotik Fish Megafloc pada beberapa POKDAKAN lele di Kecamatan Muncar. “Sehingga diharapkan POKDAKAN dapat melaksanakan program budidaya yang menguntungkan dan tentunya ramah lingkungan. Diharapkan kedepan semua POKDAKAN di Kabupaten Banyuwangi dapat menerapkan sistem budidaya yang benar dan tepat serta ramah lingkungan,” kata Prasetyo. (*)

(bw/rri/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia