Rabu, 18 Oct 2017
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Password Surga

Oleh: Samsudin Adlawi

Rabu, 20 Sep 2017 15:00 | editor : Ali Sodiqin

Password Surga

SEBULAN ini saya keliling ke sejumlah kecamatan. Sosialisasi ZIS (Zakat, Infak, dan Sedekah). Bersama para komisioner Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) Kabupaten Banyuwangi lainnya: H. Sumiran Al Muhtad, H. Herman Suyitno, H. Lukman Hakim, dan Tommy Anwar.

Tak bosan-bosan kami mengingatkan pentingnya bersedekah. Lewat zakat maupun infak. Dan itu akan terus kami lakukan. Karena meski kami berhasil meningkatkan pengumpulan zakat, namun capaiannya masih sangat jauh dari potensinya. Berdasar hitungan kasar dari jumlah pegawai negeri di Bumi Blambangan saja, zakat yang terkumpul seharusnya bisa tembus Rp10 miliar lebih. Tapi itu hanya hitungan di atas kertas. Faktanya masih jauh api daripada panggang. Masih terlalu amat sangat banyak masyarakat yang belum sadar zakat. Belum mau menyandang gelar muzakki. Gelar agung yang bisa jadi salah satu password untuk membuka pintu taman surga: al-ladzina yaritsuna al-firdaus...

Dari potensi yang puluhan miliar itu, Baznas baru bisa mengumpulkan zakat sekitar dua miliaran. Meski tumbuh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi kami tidak putus asa untuk terus meningkatkan pengumpulan zakat. Dengan cara terus menyadarkan masyarakat akan kewajiban berzakat. Harus diakui butuh perjuangan yang gigih lagi. Kecuali jika pimpinan tertinggi di Banyuwangi mau mengeluarkan “instruksi” wajib zakat kepada seluruh pegawainya. Seperti di sejumlah daerah lain. Gresik, Lumajang, dan Mojokerto bisa dijadikan contoh. Pemimpin di tiga daerah itu mendorong pegawainya berzakat. Hasilnya, Baznas di tiga daerah itu berhasil mengumpulkan zakat puluhan miliar.

Tak apalah. Sambil menunggu goodwill dari pimpinan kota The Sunrise of Java, kami terus melakukan sosialisasi. Menyampaikan informasi soal pentingnya zakat. Berdasar dalil Alquran, hadis, maupun UU dan peraturan pemerintah. Hasilnya lumayan. Meski tidak bisa masif.

Ternyata, dalam hal zakat masih banyak pegawai pemerintah yang takut pada pimpinannya daripada perintah agama. Mereka menunggu instruksi. “Belum ada instruksi,” kata sebagian dari mereka. Ah, soal instruksi bukan domain Baznas. Itu urusan internal pemerintahan. Baznas mengambil porsi yang seharusnya dilakukan saja: menginformasikan adanya perintah sedekah dalam kitab suci. Dan itu yang ternyata belum sampai kepada sebagian besar masyarakat. Atau sudah sampai tapi informasinya tidak utuh. Sehingga, masyarakat tidak terlalu perhatian terhadap kewajiban berzakat.

Ketika tiba giliran bicara dalam sosialisasi, saya selalu menyampaikan bagaimana seharusnya menerjemahkan dan menyikapi rukun Islam. Semua muslimin pasti hafal betul rukun agamanya itu. Saking hafalnya sampai-sampai keluar dari kepalanya alias blank. Atau, mereka masih hafal tapi tidak diamalkan sepenuhnya. Hanya beberapa yang diamalkan. Itu pun menurut persepsinya. Sesuai versinya sendiri-sendiri. Bahwa, misalnya, yang paling penting adalah rukun nomor sekian dan sekian. Maka rukun-rukun itu yang diprioritaskan. Padahal, kelima-limanya adalah tiang agama. Ketika salah satu saja tidak ditegakkan akan goyah agamanya.

Saya sampaikan juga secara gampangan rukun Islam itu bisa dibagi dua kelompok. Pertama, terkait hubungan antara hamba dengan Allah SWT. Kedua, terkait dengan Allah SWT sekaligus dengan sesama manusia. Yang masuk kelompok pertama adalah membaca syahadatain, salat, puasa, dan haji. Sedangkan kelompok kedua hanya satu: zakat.

Kelompok pertama lebih bersifat pribadi. Karena menyangkut pribadi maka orang akan punya naluri untuk melindunginya. Jika tiba-tiba ada yang menuduh Anda murtad, pasti Anda tersinggung. Sebab, Anda sudah bersyahadat sejak lahir. Atau sejak berikrar sebagai mualaf. Dan terus membaca syahadat dalam salat. Pun demikian dengan salat. Ketika ada orang bilang Anda tidak salat padahal Anda rajin salat, pasti telinga Anda langsung merah. Kecuali kalau Anda jarang salat. Atau bahkan memang tidak pernah salat.

Bagaimana dengan haji? Lebih heroik. Masih banyak orang yang punya pandangan gelar haji bisa mengubah status sosialnya. Bagi mereka, songkok putih yang nangkring di kepala merupakan tanda status sosialnya tinggi. Saat menghadiri sebuah acara dan pembaca acaranya lupa menyebut namanya tanpa awalan “Pak Haji” atau “Bu Haji”, mereka akan protes. Bahkan marah. Semua orang dimintanya memanggil “Pak Haji/Bu Haji”. Padahal, kelakuannya sudah jauh menyimpang dari nilai-nilai haji.

Lain ceritanya dengan zakat. Meski zakat wajib bagi yang sudah memenuhi nishab, masih banyak orang yang tenang-tenang saja ketika tidak menunaikan zakat. Zakat apa pun. Mulai zakat pertanian sampai zakat profesi. Kenapa masih banyak orang enggan membayar zakat sebagaimana mestinya. Karena zakat terkait dengan harta yang kita miliki. Secara psikologis setiap orang tidak ada yang tidak cinta harta. Makin banyak hartanya makin besar cobaannya. Makin berlimpah harta biasanya orang makin pelit. Memang tidak semua orang seperti itu. Tapi butuh iman yang kokoh untuk membalikkan pernyataan itu. Masih ada, meski sedikit, orang kaya yang rajin sedekah. Bukan setahun sekali. Tapi berkali-kali. Pasti ia memahami dengan baik agamanya. Terutama tentang indahnya berbagi lewat zakat dan infak. Bahwa harta yang kita punya, apa pun bentuknya, adalah anugerah dari Allah SWT. Dan, walau Allah memerintahkan untuk bersedekah, sebagian kecil dari harta kita itu bukan untuk Allah SWT. Melainkan untuk para hamba-Nya yang sedang membu
tuhkan. Yang notabene mereka adalah manusia juga. Secara kebetulan saja posisi mereka kini sebagai mustahik. Orang yang berhak disantuni dari dana para muzakki.

Tak lupa pula saya sampaikan dalam sosialisasi, sedikit bagi muzakki sangat banyak bagi para mustahik. Itu bisa dilihat dari ekspresi para mustahik yang selama dibantu Baznas. Sambil berlinang air mata, mereka mendoakan para muzakki yang sudah menitipkan zakat-infaknya kepada Baznas. Betapa senangnya hati para muzakki.... ([email protected])

(bw/*/als/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia