Kamis, 14 Dec 2017
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Ini Cara Menggugah Pola Hidup Bersih Warga

Asal Ada Segitiga Hijau, Boleh Buang Sampah di Tepi Jalan

Senin, 18 Sep 2017 08:10 | editor : Ali Sodiqin

PEDULI: Empat anggota Pengkolan Community memungut sampah di Lingkungan Krobokan, Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi.

PEDULI: Empat anggota Pengkolan Community memungut sampah di Lingkungan Krobokan, Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi. (SIGIT HARIYADI/RABA)

Yang muda yang memberi solusi. Itulah gambaran sepak terjang para muda Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi. Para pemuda yang tergabung dalam Pengkolan Community ini telah berbuat nyata mengatasi problem sampah.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

SUDAH setahun terakhir, banyak warga Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, yang kesulitan membuang sampah di tempat yang semestinya. Akibatnya, sebagian warga memilih membakar limbah rumah tangganya. Sedangkan sebagian yang lain terpaksa membuang sampah ke sungai.

Bukannya bersikap acuh tak acuh terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Tindakan membakar sampah atau membuang sampah ke sungai itu semata-mata mereka lakukan karena terpaksa. Pemicunya adalah ketiadaan petugas pengangkut sampah di wilayah kelurahan yang satu ini.

Fenomena itu membuat para pemuda yang tergabung dalam Pengkolan Community tergerak. Tanpa sibuk mencari “kambing hitam” untuk dituding sebagai biang kesalahan. Tidak pula sekadar menunggu uluran tangan pemerintah. Mereka langsung action memungut dan mengangkut sampah-sampah rumah tangga di wilayah Kelurahan Kampung Mandar.

Cara yang mereka lakukan cukup unik. Berbekal cat, para anggota Komunitas Pengkolan alias Pengkolan Community tersebut membuat tanda segitiga hijau di tepi jalan Kelurahan Kampung Mandar. Segitiga hijau itu dibuat sebagai tanda titik kumpul sampah.

Ya, setiap sore ada beberapa personel Pengkolan Community yang berkeliling ke seluruh penjuru kampung dengan sepeda motor niaga beroda tiga. Seperti yang mereka lakukan Jumat Sore (15/9). Kala itu, gerakan memungut dan mengangkut sampah itu dilakukan oleh empat anggota komunitas tersebut. Mereka adalah Siswanto, Hilma, Dwi Harsono, dan Dio Mafirungkas.

Siswanto bertugas menyampaikan pengumuman kepada warga untuk segera mengumpulkan sampah di segitiga hijau. Pengumuman itu disampaikan dengan memanfaatkan megaphone. “Mari warga Kampung Mandar yang kami cintai. Silakan buang sampah di tepi jalan. Di segitiga hijau. Kami siap mengambil sampah Anda,” serunya.

Sementara itu, Hilman bertugas mengemudikan sepeda motor. Sedangkan Dwi dan Dio berduet memungut sampah yang terkumpul di setiap segitiga hijau untuk dimasukkan ke bak sepeda motor niaga tersebut.

Hebatnya, gerakan mengambil dan mengangkut sampah itu mereka lakukan secara cuma-cuma. Mereka tidak menarik iuran kepada warga setempat.

Hebatnya lagi, gerakan itu mereka lakukan dengan dana swadaya. Para anggota komunitas urunan untuk membeli bahan bakar sepeda motor. Bukan itu saja, mereka juga membeli kantong plastik guna dibagikan kepada warga yang membutuhkan untuk wadah sampah. “Kami urunan. Hasilnya untuk beli bensin dan membeli kresek,” ujar Siswanto.

Namun demikian, mereka tidak menampik ada bantuan pihak lain yang mendukung inisiatif pemuda melakukan gerakan kebersihan. “Sepeda motor ini sumbangan dari pihak Pelindo,” kata Hilmi.

Setelah gerakan memungut dan mengangkut sampah tersebut berjalan sejak sekitar sepuluh hari terakhir, para personel Pengkolan Community ingin merealisasikan satu cita-cita yang lain. Mereka ingin ke depan warga setempat membudidayakan ikan, misalnya lele, di pelataran rumah masing-masing. Pakan itu bisa memanfaatkan sampah organik, seperti sisa sayur dan lain-lain. “Jadi, warga bisa memilah sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organiknya bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan,” imbuh Hilmi.

Hilmi mengaku, dia bersama rekan-rekannya sesama anggota Pengkolan Community telah mengawali gerakan budi daya ikan tersebut. Dia berharap, langkah tersebut diikuti oleh warga yang lain.

Sementara itu, langkah yang dilakukan anak-anak muda Kampung Mandar tersebut disambut suka cita warga setempat. Salah satunya Niswati. Dia mengaku, sejak sekitar tiga tahun terakhir tidak ada petugas pemungut sampah yang bertugas di kawasan tempat tinggalnya. “Tentu saja kami kerepotan membuang sampah. Akhirnya, kami terpaksa membuang sampah di sungai,” akunya.

Namun kini, dia bersyukur anak-anak muda Kampung Mandar tergerak mengambil sampah warga setempat untuk diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan sampah sementara (TPS). “Saya sangat terbantu. Apalagi, kami tidak dipungut iuran,” tambahnya.

Hal senada dilontarkan Wasila, warga Kampung Mandar. Menurut dia, langkah anak-anak muda di kampungnya itu telah membuat lingkungan sekitar menjadi lebih bersih. “Selama ini warga memusnahkan sampah dengan cara dibakar. Ada pula warga yang membuang sampah ke sungai. Namun kini, itu tidak perlu kami lakukan,” pungkasnya. (bay/c1)

(bw/sgt/rbs/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia