Rabu, 22 Nov 2017
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Menunggu e-Tilang CCTV

Oleh: Samsudin Adlawi

Rabu, 13 Sep 2017 06:05 | editor : Ali Sodiqin

Menunggu e-Tilang CCTV

SABTU kemarin saya terima pesan Whatsapp (WA). Judulnya sangat menyeramkan: Lokasi e-tilang Banyuwangi. Lengkap dengan gambarnya. Yakni foto 20 lokasi yang selama ini diintai CCTV (Closed-Circuit Television). Di sejumlah jalan protokol Banyuwangi.

Di bawah rangkaian foto itu ada tulisan: lagi ramai di medsos. “Teman-teman yang melintas di jalanan Banyuwangi: hari ini uji coba tilang e-CCTV,” begitu bunyi kalimat pembukanya.

Mendapat pesan berantai itu naluri teman-teman Jawa Pos Radar Banyuwangi langsung berjalan. Langsung konfirmasi ke sumber nomor satu. Kasatlantas Polres Banyuwangi AKP Ris Andrian. Hasilnya, pesan yang telanjur menyebar di media sosial itu ternyata hoaks. Palsu. 

Saya tidak kaget. Medsos yang diagung-agungkan banyak kalangan kini tak ubahnya penyambung lidah tukang fitnah. Pengadu domba. Penyebar kegelisahan. Anehnya, masih cukup banyak yang tak kapok. Tetap menuhankan medsos. Tidak bisa melupakan medsos. Walau semenit saja. Padahal, mereka ingat Allah swt sehari hanya lima kali. Saat salat. Itupun ketika salat masih tidak bisa melupakan medsosnya. Jadinya, selama salat ingat Allah swt sebentar lalu ingat medsosnya.

Terus terang, saya kecewa info yang menggelinding cepat di sejumlah grup WA itu ternyata hoaks. Sebab, saya ingin Banyuwangi meniru Surabaya. Yang mencatat sejarah sebagai kota pertama di Indonesia yang menerapkan e-tilang berbasis CCTV. Meski baru tahap uji coba. Yang dilakukan bersama oleh Poltabes Surabaya dan Dishub Surabaya.

Kenapa Banyuwangi harus meniru Surabaya? Lo, semua orang tahu, dan orang Banyuwangi sendiri merasa, Banyuwangi lebih maju dari Surabaya. Perkembangan kota The Sunrise of The Java itu sangat spektakuler. Terutama dalam bidang ekonomi yang berbasis pariwisata. Akan lucu kalau kotanya sangat maju tapi infrastruktur yang ada di dalamnya tidak mengikutinya. Alias stagnan. Jalan di tempat. Tidak ada terobosan.

Dan terobosan yang paling ditunggu adalah manajemen lalu lintas. Agar kotanya tertib dan aman. Dengan perkembangan pengunjung yang datang ke Bumi Blambangan sekarang saja kota ini terasa sesak. Penuh oleh kendaraan. Roda dua maupun roda empat. Dalam kondisi seperti itu membuka peluang terjadinya pelanggaran. Pengendara berebut untuk menjadi yang tercepat sampai tujuan. Apapun akan dilakukan, termasuk melakukan pelanggaran tertib lalu lintas.

Tapi dari mata CCTV, akan mudah diintip pengendara yang melanggar. Apalagi CCTV yang bisa di-zoom sampai ke pelat nomor motor atau mobilnya. Maka, seperti yang tertulis di informasi hoaks yang telah beredar, saat berhenti di traffic light (TL) posisi kendaraan harus benar-benar di belakang garis tanda berhenti. Lalu, jangan keburu menggeber kendaraan setelah lampu berwarna merah mati. Tunggu sesaat setelah lampu kuning menyala. Itu untuk kebaikan bersama. Untuk keselamatan bersama. Sebab, sering terjadi ketika lampu merah baru berganti kuning, ada penggendara yang tancap gas. Sementara itu, dari arah lain juga ada pengendara yang menerobos ketika lampu TL menyala merah. Braakk! Celaka. Tabrakan tak bisa dihindari.

E-tilang dengan CCTV bisa membantu kerja polisi. Setidaknya, polisi lalu lintas tidak perlu lagi berdiri berjam-jam mengatur lalu lintas di jalan. Atau repot-repot melakukan razia di jalan. Cukup memelototi rekaman CCTV yang dipasang di tempat-tempat strategis. Akan terekam dengan sendirinya para pelanggar lalu lintas. CCTV yang berpusat di kantor dishub dan polres langsung mengindra nopol kendaraan yang melanggar. Petugas dengan cepat bisa mengecek nopol tersebut dalam bank data yang dimilikinya. Setelah diketahui alamat pemiliknya, petugas tinggal mengantar surat tilangnya  ke alamat tersebut. Praktis, bukan?

Sekali lagi, demi kemajuan daerah ini, kehadiran e-tilang dengan CCTV menjadi sebuah kebutuhan. Seperti di banyak negara maju, masyarakatnya punya kedisiplinan tingkat tinggi. Dalam segala hal. Terlebih dalam berkendara di jalan yang dipakai bersama oleh khalayak. Nyaris tidak ada pelanggaran lalu lintas di negara-negara maju. Dampak ikutannya, nyaris tidak ada kecelakaan di tengah jalan.

Sebagai warga daerah yang mulai maju, saya mulai sekarang berusaha untuk disiplin dan tertib dalam berkendara di jalan raya. Terutama, di jalan yang ada rambu-rambu lalu lintasnya. Terus terang selama ini saya masih sering tergoda untuk melanggar. Masih ingin menekan pedal gas sekencangnya ketika lampu TL kurang sekian detik berubah merah. Atau ketika lampu TL merah dan tidak ada petugas, lantas hati ini masih tergoda untuk nyelonong jalan. Makanya, saya ingin e-tilang berbasis data CCTV diberlakukan juga di Banyuwangi. Agar saya lebih sabar lagi dalam berkendara. Bagaimana dengan Anda? (@AdlawiSamsudin, [email protected]/c1)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia