Kamis, 23 Nov 2017
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Spirit Jumat

Berguru pada Mikroba

Oleh: KH Toha Muntoha

Senin, 11 Sep 2017 10:10 | editor : Ali Sodiqin

Berguru pada Mikroba

RANGKAIAN kemampuan berkomunikasi, tata kelola problem, dan teknis pembelajaran seseorang adalah wilayah IQ yang oleh “wong pinter” dianggap berkait dengan aspek kognitif yang dinamikanya bisa dipindai oleh mesin psikometri.

Jika jarum mesin menunjuk IQ seseorang pada nilai 29, psikolog menyebutnya “idiot”. Berikutnya, jika bergeser menuju angka empat puluhan tentu diklasifikasi sebagai “imbecile” yang kemampuannya biasa disetarakan dengan anak normal usia tujuh tahun.

Fisikiawan dunia tentu tidak asing dengan buku “A Brief History of Time” yang terjual lebih dari sepuluh juta copy. Buku tersebut karangan salah seorang peraih Fundamental Physics Prize bernama Stephen Hawking yang IQ-nya konon mencapai nilai 160.

Begitu pun Albert Einstein, penemu teori relativitas dalam bidang kuantum mekanik yang menjadi kunci pembuatan senjata bom atom dan berbagai teknologi nuklir lainnya dikabarkan memiliki IQ kisaran seratus delapan puluhan yang tentu gelar kecerdasannya disebut “super jenius”.

Meskipun manusia bergelar demikian, kehadiran sosok guru selamanya amat sangat dibutuhkan,karena orang bijak mengingatkan “di atas langit, masih ada langit”. Bahkan “jika kita punya emas, orang lain pasti punya timbangannya”. Peribahasa yang demikian mendorong Naufal yang masih duduk di Madrasah Tsanawiyah berguru pada pohon kedondong untuk sumber penerangan di kampungnya.

“Tembaga dan logam dimasukkan kedalam pohon, secara vertikal, fungsinya untuk mengubah asam menjadi listrik. Kemudian dari elektroda arusnya diteruskan melalui kabel-kabel yang bersambung ke bola lampu dan langsung hidup,''   ucap Naufal.

Berikutnya, dengan sedikit bumbu fiksi, jatuhnya buah apel di depan mata Issac Newton mendorongnya untuk mengangkatnya sebagai guru dengan melakukan serangkaian pengamatan dan suntuk dalam gerakan pendulum selama dua puluh tahun hingga terbit buku bertitel “Principia”  yang mengulas teori gravitasi.

Komunitas mikroba yang terdiri atas bakteri, jamur, virus, alga, dan akarina adalah deretan guru terbaik yang mengajari manusia tentang kecerdasan hidup. Saat ia tumbuh di lingkungan yang minim persediaan makanan, mereka melepaskan bahan kimia tertentu ke lingkungan sekitarnya untuk berkomunikasi, kemudian direspons oleh bakteri lain dengan mengubah bentuk koloni mereka.

Untuk data statistik, istilah “quarum sensing” menjadi sangat populer dalam jagat bakteriologi. Ia  dipakai untuk mengetahui berapa jumlah bakteri lain yang masih satu spesies di sekitarnya. Bahasa yang digunakan adalah melepas sejumlah senyawa kimia yang bisa dideteksi oleh reseptor yang ada pada dinding luar mereka.

Selanjutnya kemampuan mikroba beradaptasi patut diacungi jempol. Salah satunya ditunjukkan oleh bakteri E coli yang nyaman berada dalam pencernaan. Dalam sekejap ia bisa melahirkan tiga ribu spesies protein lengkap dengan pita DNA. Ketika hendak bertemu dengan gula maltosa, terlebih dahulu ia “sowan” pada laktosa.

Teknik “sowannya" pun cukup unik dengan  terlebih dahulu mengaktifkan mesin biokimiawi yang dapat mencerna laktosa. Kemudian pada saat bersamaan ia juga mengaktifkan sebagian mesin biokimiawinya untuk meltosa hingga lingkungan pencernaanya siap menerima kehadiran laktosa.    

Sistem vaksinasi, bakteriofaga, bakteriolisis dan bakteriosida adalah wujud pentingnya berguru pada mikroba yang jika cerdas memperlakukannya ia menjadi sahabat setia. Sebaliknya jika abai dan meremehkannya ia menjadi sumber bencana. "Kami akan perlihatkan kepada mereka simbolisasi DNA di semua ruang makro dan mikro kosmos serta mikro biologi, hingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu benar”. QS:42:53. (*)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia