Rabu, 20 Sep 2017
radarbanyuwangi
Kesehatan

Ratusan PNS Dites HIV/AIDS Dadakan

Rabu, 06 Sep 2017 12:05 | editor : Ali Sodiqin

SAMPEL DARAH: Salah satu petugas kesehatan melakukan pengambilan darah untuk diuji dengan reagen HIV di kantor Dinas Kesehatan.

SAMPEL DARAH: Salah satu petugas kesehatan melakukan pengambilan darah untuk diuji dengan reagen HIV di kantor Dinas Kesehatan. (LAILY MASTIKA/JPRS)

SITUBONDO- Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan non ASN melakukan tes deteksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) secara dadakan kemarin (04/09) di Dinas Kesehatan (Dinkes). Itu dilakukan untuk menguji mental dan keberanian para pegawai. Jangan sampai petugas kesehatan justru tidak sadar dengan kondisi kesehatannya sendiri.

Kepala Dinkes, Abu Bakar Abdi mengatakan, semua orang beresiko untuk tertular virus HIV. Pengobatan yang dilakukan sejak dini dan rutin, dapat melindungi pasien positif HIV dari percepatan aktifnya virus menjadi AIDS. “Meskipun demikian, virus tetap ada dalam tubuh yang positif HIV, namun tidak aktif,” jelasnya.

Abu menjelaskan, kegiatan itu dilakukan secara mendadak untuk memotivasi para ASN dan menguji keberanian ASN. Jangan sampai petugas kesehatan tidak mengetahui kondisi kesehatannya sendiri. HIV atau AIDS perlu diwaspadai. “Karena, 2 persen dari 810 orang yang positif HIV berasal dari ASN,” terangnya.

Kegiatan tes itu tidak hanya dilakukan kepada sekitar 150 orang di lingkungan Dinas Kesehatan saja. Namun, juga kepada petugas kesehatan di puskesmas-puskesmas yang tersebar di 17 kecamatan. “Kami juga mengajak seluruh lapisan masyarakat di Situbondo untuk memberanikan diri ikut serta tes HIV di puskesmas setempat maupun Dinas Kesehatan," pungkasnya.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Dinkes, Heryawan mengungkapkan, ada 3 reagen yang digunakan untuk mendeteksi positif tidaknya seseorang terserang HIV. Terdiri dari regaen HIV 1, 2 dan 3. “Ketiga reagen memiliki spesifitas atau sensitivitas yang sangat tinggi terhadap virus HIV yang ada dalam sampel darah. Hampir 99 persen ketepatannya,” urainya.

Reagen HIV 1 bertujuan untuk mendeteksi ada tidaknya virus HIV dalam darah. Alat untuk reagen HIV 1 mirip dengan alat tes kehamilan. Jika menunjukkan strip dua, maka positif HIV. Kemudian, tes dilanjutkan dengan menggunakan reagen HIV 2 dan 3. Jadi, tes pertama untuk screening, selanjutnya konfirmasi, dan yang terakhir kepastian. “Seseorang yang dinyatakan positif HIV adalah orang yang telah menjalani ketiga tes itu,” tuturnya.

Heryawan menjelaskan, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui positif atau tidaknya HIV. Dengan kemajuan teknologi, virus HIV dapat terdeteksi kurang lebih 15 menit. “Selanjutnya sasaran pengujian HIV adalah pegawai seluruh OPD, baru kemudian masyarakat lapis kedua dan ketiga berdasarkan data,” bebernya.

Diterangkan, ibu rumah tangga menjadi urutan nomor satu yang rentan terserang virus HIV. Selanjutnya adalah pekerja. Penularan bisa dari hubungan seksual maupun alat-alat medis. “Penularan yang cepat terjadi utamanya di lingkungan kaum yang menganut homo seksual dan pekerja seks komersial,” tandasnya.

Ekspresi ketakutan dan cemas hampir sebagian besar tergambar dalam mimik para peserta tes, khususnya petugas kesehatan. Mereka cemas, lantaran selama ini selalu bergulat dengan jarum suntik. Bahkan, petugas kebersihan, sales dan wartawan yang ada di sana pun turut menjadi peserta tes HIV/AIDS. (ily)

(bw/ily/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia