Jumat, 24 Nov 2017
radarbanyuwangi
icon-featured
Kolom

Man Nahnu: Karena Doa

Oleh: Samsudin Adlawi

Selasa, 05 Sep 2017 14:30 | editor : Ali Sodiqin

Man Nahnu: Karena Doa

ASYIK juga bermain-main dengan pertanyaan-pertanyaan. Di waktu senggang, tiba-tiba otak saya bertanya: kira-kira doa seperti apa yang dilantunkan orang tua Ir Sukarno. Doa orang tua Jenderal Sudirman, Habibie, Gus Dur, dan tokoh yang lainnya seperti apa.

Mulanya saya anggap pertanyaan-pertanyaan itu iseng belaka. Tapi ke belakang, saya malah terus dikejar-kejar oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Dan gelagapan menjawabnya. Para pembaca bisa bantu menjawab?

Akhirnya, saya beranikan diri membuat sendiri jawabannya. Berdasarkan pengalaman (batin) saya. Ditambah hasil memperhatikan lingkungan sekitar, tentu saja. Saya percaya, doa orang tua untuk anaknya tidak ada yang jelek. Pasti bagus semua. Seberengsek apa pun, yang namanya orang tua pasti mendoakan anaknya menjadi orang baik. Setidaknya hidup anaknya lebih baik dari padanya.

Dan, saya yakin sepenuhnya, keberhasilan seorang anak tidak lepas dari doa orang tuanya. Terutama doa seorang ibu. Makanya, ketika menghadapi sesuatu yang berat, banyak anak menemui ibunya. Secara khusus meminta doa yang khusus pula. Pun mereka yang akan mencalonkan diri menjadi pemimpin atau pengin meraih jabatan tertentu. Mereka akan pulang. Jarak yang jauh jadi soal. Tetap akan pulang. Meminta doa dan restu dari ibundanya.

Nah, kembali kepertanyaan-pertanyaan di atas. Kira-kira seperti apa redaksi doa orang tua para tokoh hebat itu. Seperti yang kita pahami selama ini, buah yang baik hanya dihasilkan dari pohon yang baik pula. Orang tua para tokoh yang saya sebut tadi pastilah orang yang baik. buktinya, anak-anak yang dilahirkan menjadi tokoh nasional. Bukan baik secara fisik semata. Melainkan yang ada di dalam dadanya. Pasti sangat baik. Isi dada yang baik itu kemudian menghasilkan untaian doa-doa yang baik. Berbeda dengan orang kebanyakan.

Doa yang baik itu lalu bertemu dengan takdir anaknya. Doa baik itu lebih pada jenis dan motivasinya. Kebanyakan dari kita selama ini (hanya) mendoakan anak-anak kita sukses. Bisa mencapai cita-citanya. Hanya berhenti di situ permohonan doa kita. Tanpa disadari, bisa saja, dalam berdoa kita terlalu egois. Hanya meminta anak kita sukses. Sukses untuk diri anak kita sendiri. Dengan harapan besar, setelah sukses anak kita bisa membantu orang tua, juga saudara-saudaranya. Titik. Tidak lebih tidak kurang. Dan, doa itu ternyata dikabulkan sama Allah swt, Tuhan Yang Mahamendengar doa umatnya. Anak kita pun sukses. Setelah sukses anak yang kita banggakan bisa membahagiakan orang tua dan familinya. Selain juga tetap berbakti kepada orang tua.

Tidak ada yang salah dengan doa seperti itu. Dan hampir semua orang sepertinya berdoa seperti itu pula. Doa yang baik dan demi untuk kebaikan sebuah keluarga. Sebab, pada dasarnya tidak ada orang yang ingin hidup tidak bahagia. Bahkan, banyak dari kita masih mengukur kebahagiaan dengan kuantitas materi yang dimilikinya. Makin banyak harta yang kita punya serta merta orang akan mengecap kita sebagai orang yang sukses.

Tetapi ada sebagian orang tua yang berpikir berbeda. Terutama dalam menyusun redaksi doanya. Mereka itu tetap seperti orang kebanyakan. Punya insting untuk menganggap harta itu penting. Bahkan, sangat penting. Sebab, manusia tidak bisa kenyang hanya dengan makan angin. Yang membedakan dengan orang kebanyakan adalah kadar kepemilikannya. Meski harta itu penting, tapi menurut mereka tidak terlalu mutlak. Maka dalam redaksi doanya, mereka memohon: Ya Allah, berilah kemudahan bagi anak kami untuk menggapai cita-citanya. Bahagiakanlah hidupnya.

Tidak kurang satu apapun. Dan taat ibadah. Sampai di situ doanya sama dengan doa yang biasa dibaca orang kebanyakan. Lalu mereka yang jumlahnya tidak banyak tadi melanjutkannya dengan doa yang lebih spesifik: Ya Allah, berkahilah kehidupan anak kami. Jadikanlah ia anak yang berbakti kepada orang tua, keluarga, agama, bangsa dan negara. Bahkan dunia. Berkahilah hidupnya sehingga bermanfaat bagi orang lain.

Perhatikan kalimat yang dicetak miring dan ada garis bawahnya. Jelas di kalimat itu ada keingin lebih dari orang tua. Tidak sekadar menginginkan anaknya sukses (bagi dirinya sendiri dan keluarga). Tapi lebih dari itu: ingin anaknya menjadi orang yang berguna bagi orang lain, bagi sebanyak-banyaknya orang, lebih-lebih bagi bangsa dan negara tercintanya. Bahkan bagi dunia dan agamanya. Dengan doa seperti maka kelak kalau si anak menjadi pemimpin ia akan menjadi pemimpin yang mampu memegang teguh amanah, bukan pemimpin yang hanya memikirkan kepentingan dan keinginannya sendiri. Kalau menjadi pimpinan di kantor atau perusahaan, si anak itu akan memikirkan anak buahnya di sela-sela bejibunnya tanggung jawab yang dipikulnya.

Kalau menjadi dokter, misalnya, maka si anak akan lebih mengedepankan melayani pasien daripada sibuk menyimulasi dan menentukan tarif jasa pengobatan yang dilakukan kepada pasiennya. Kalau menjadi pedagang, maka si anak itu akan mengutamakan kejujuran dalam menghadapi pembeli daripada memikirkan besaran laba yang akan diperolehnya. Kalau menjadi guru, si anak akan serius mencari cara yang efektif untuk bagaimana menularkan ilmunya kepada para siswa daripada sekadar menggugurkan kewajiban mengajar dan mengejar insentif dan berbagai tunjangan.

Mungkin saja seperti itu tambahan doa yang dimunajatkan para orang tua tokoh dan pahlawan bangsa. Saya tidak tahu pastinya. Tanpa menunggu informasi yang pasti tentang doa para orang tua pahlawan dan tokoh bangsa, sudah bertahun-tahun saya membaca doa seperti yang dicetak miring dan digarisbawahi itu. Ditambah doa yang diajarkan hadaratusy syech KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU): Allahumma ij’al auladana min ahli alkhair, wala taj’alna waiyyahum min ahli aldhair.... (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

(bw/*/als/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia