Rabu, 20 Sep 2017
radarbanyuwangi
Features
Bermain Belanggur Mengisi Liburan Sekolah

Dengar Suara Ledakan Bom, Anak-anak Tertawa dan Berjoget Ria

Senin, 17 Jul 2017 15:05 | editor : Ali Sodiqin

HATI-HATI NAK: Beberapa anak tengah menyulut meriam bambu di Dusun Pasar, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon.

HATI-HATI NAK: Beberapa anak tengah menyulut meriam bambu di Dusun Pasar, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon. (ALI NURFATONI/RABA)

Bermain tradisional belanggur atau meriam bambu masih eksis hingga sekarang. Permainan ini hanya bisa ditemui di pelosok desa. Seperti yang dilakukan anak-anak di Dusun Pasar, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon ini. Di tengah derasnya arus internet, mereka masih melestarikan permainan belanggur.

ALI NURFATONI, Songgon

RINTIK hujan siang itu tampak tak menghalangi beberapa anak untuk membuat meriam bambu. Di gang permukiman warga itu, mereka mulai berkarya membuat meriam bambu. Hebatnya, buah karya anak-anak itu tanpa peran orang tua.
Mereka begitu mahir membuat permainan yang sederhana itu. Setiap anak memiliki peran dan tugas masing-masing. Ukuran bambu yang cukup panjang akhinya dipotong menjadi beberapa bagian. Setiap potong berukuran masing-masing satu meter.
Gerimis yang terjadi siang itu malah membuat anak-anak semakin bersemangat. Sebagian di antaranya sibuk untuk melubangi kulit bambu dan sebagian lainnya serius membuat lubang di kulit bambu yang berfungsi untuk menyulut api.
Peralatan yang digunakan untuk melubangi kulit bambu yang tebal itu juga sederhana. Alat jenis tatah digunakan untuk melubangi kulit bambu tersebut. Ujung tatah dipukul berkali-kali dengan batu.
Ya, mereka memang lebih cermat dalam mencari bambu. Sebab, mencari bahan baku meriam bambu tidak boleh asal-asalan. Dibutuhkan bambu yang berkulit tebal agar bisa bertahan lama dan tidak mudah pecah.
Jika tipis, ketika meriam bambu diletuskan berpotensi cepat pecah. Maka jenis bambu yang dipilih adalah bambu jenis petung yang cukup mudah ditemukan di desa tersebut.
Setelah berusaha keras berkarya, akhirnya beberapa meriam bambu berhasil dibuat. Jika bambu yang didapat itu gratis, tapi untuk perlengkapan lainnya membutuhkan duit. Salah satunya untuk mendapatkan bahan karbit.
Kalangan anak-anak tersebut memilih untuk iuran. Ketika duit sudah terkumpul, sebagian dari mereka bertugas membeli karbit di warung terdekat. ‘’Duit yang sudah kumpul dibelikan karbit,’’ kata Zulfikar Maliki, ketua bocah-bocah itu.
Masih dalam suasana gerimis, anak-anak pedesaan ini tetap bersemangat untuk segera menyulut meriam bambu. Satu meriam bambu itu diisi air dan kemudian karbit dimasukkan dalam lubang meriam tersebut.
Setelah campuran karbit dan air itu berada dalam meriam bambu, maka lubang tersebut ditutup. Ketika hendak diletuskan, lubang yang ditutup itu dibuka dan sulut dengan api.
Terdengar suara yang keras memekakkan telinga.     Setelah belanggur meledak, anak-anak pun tampak puas. Mereka tertawa dan berjoget ria karena suara meriam bambu tersebut cukup keras.     Aktivitas anak-anak di Desa Sumberarum membunyikan belanggur itu tidak setiap hari ada. Permainan tradional itu muncul ketika bulan puasa Ramadan maupun liburan sekolah seperti sekarang. Mereka memilih permainan tradisional karena biayanya murah dan mengasyikkan.
Bulan Ramadan lalu, selain bikin belanggur, anak-anak juga membuat mobil-mobilan dari bahan baku bambu. Mobil-mobilan tersebut dikasih obor dan kerap kali dimainkan pada malam hari.
Permainan anak-anak itu mengingatkan kalangan orang tua pada masa lalu. Sebab, bermain meriam bambu hingga kini masih terjaga dengan baik. "Anak-anak di sini memang suka bermain permainan tradisional,’’ ujar ketua RT dusun setempat, Maryono. (aif)  




(bw/anf/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia