Kamis, 21 Sep 2017
radarbanyuwangi
Features
Melihat Kesibukan Petugas Operator PPDB Online

Misbah dan Melanoke Pantau Apikasi, Mursalin Hardware

Minggu, 16 Jul 2017 09:30 | editor : Ali Sodiqin

KERJA KERAS: Misbahus Surur dan Apri Diantoro saat berada di ruang server PPDB SMKN 1 Glagah.

KERJA KERAS: Misbahus Surur dan Apri Diantoro saat berada di ruang server PPDB SMKN 1 Glagah. (Fredy Rizki/RaBa)

Di balik lancarnya pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online, rupanya ada sebagian orang yang bekerja keras agar proses tersebut tetap berjalan lancar. Bukan hanya operator di sekolah, tapi ada empat orang operator yang bekerja siang dan malam di ruang server SMKN 1 Glagah.

FREDY RIZKI, Glagah

SIANG itu suasana di salah satu ruang SMKN 1 Glagah terlihat sepi. Siswa sekolah belum kembali masuk dari libur panjang. Proses penerimaan siswa baru pun belum lama usai, sehingga mereka yang sebelumnya sibuk mengurusi pendaftaran sekolah bisa sedikit meluruskan badan.
Berbeda dengan tiga orang operator komputer SMKN 1 Glagah yang terlihat masih sibuk mengutak-atik komputer hari itu. Mereka adalah tim yang selama ini ditugasi untuk mengelola website dan sistem PPDB online untuk jenjang SMP di Banyuwangi. Apri Diantoro salah seorang operator mengatakan,  mereka masih terus mengawasi berjalannya data-data siswa SD yang mendaftar sekolah ke SMP.
Meski sebagian besar sudah diterima, namun mereka tetap bekerja untuk memastikan data-data itu sudah tersimpan dengan benar di masing-masing sekolah. Apri mengaku mulai bekerja sejak jauh sebelum hari raya. Ada empat orang tim operator PPDB yang ditugasi untuk mengawasi selama proses penerimaan siswa secara online itu berjalan. Apri memantau program, kemudian Misbahus Surur dan Melanoke Pramanik yang bertugas memantau aplikasi dan Mursalin yang bertugas memantau hardware server.
“Yang tiga orang dari SMK Glagah, yang satu pak Pramanik dari SMK 1 Banyuwangi. Sudah hampir 3 tahun ini kita kerja bareng. Kalau dulu mengatasi PPDB SMA dan SMK juga, tahun ini lebih ringan,” terang bapak satu anak itu.
Tugas mereka berempat dimulai sejak beberapa minggu sebelum PPDB dimulai. Mereka harus mengolah data nilai siswa yang disetorkan oleh pihak operator PPDB dari SD dan MI.
Proses ini  seringkali memakan waktu lama. Bahkan tahun lalu prosesnya belum usai sampai H-1 PPDB ditutup. “Yang paling sering lama diproses ini. Operator dari sekolah dan UPTD lama mengirimkan data. Jadi, kita menunggu lama. Kadang dikirim masih data mentah, ada juga yang malah mengirim data tahun sebelumnya. Jadi kita harus mengutak-atik lagi. Untung tahun ini orang tua siswa sudah tahu, jadi mereka mendesak sekolah. Kalau tahun lalu sampai antri di depan ruangan ini,” jelas pria yang masih berstatus GTT itu.
Selain terus memantau data, tugas dari para operator ini juga memastikan data yang ada selalu aman. Jangan sampai ada kesalahan nomor, nama dan tujuan sekolah. Misbahus Surur operator PPDB lainnya mengatakan, jika tahun  ini tugas mereka sedikit lebih ringan karena hanya mengatasi PPDB online SMP. Tetapi tetap saja dirinya harus terus memantau data.
Karena jika ada kesalahan, dia dan teman-teman akan menjadi sasaran empuk kemarahan dari orang tua siswa. Dia bersama tim lainnya juga selalu berkordinasi menggunakan jejaring sosial whatsapp untuk memantau perkembangan dan permasalahan PPDB yang ada. Bahkan sampai-sampai setelah pulang ke rumah pun, Misbah masih memantau data PPDB online. “Tahun lalu kita sampai nginap di sekolah. Tahun ini tidak separah itu, tapi program tetap saya pantau dari rumah. Jadi mata tidak pernah beralih dari komputer,” terangnya.
Menangani PPDB online tahun ini, selain lebih ringan karena hanya menangani satu jenjang sekolah, Misbah mengatakan bahwa timnya juga telah mempersiapkan diri dengan adanya serangan hacker yang menyerang server dan aplikasi PPDB.     Tahun lalu ketika PPDB baru dimulai, server pernah diserang sehingga data dari 3 SMA yaitu SMA 1 Banyuwangi, SMA 1 Glagah dan SMA 1 Giri. “Tahun ini database dan interface dipisah. Servernya juga kita tambah, jadi kalau ada serangan hacker, database masih aman. Tapi Alhamdulillah tidak ada serangan tahun ini,” ujar pria yang berdomisili di Rogojampi itu.
Sebelum  Jawa Pos Radar Banyuwangi pamit undur diri, salah satu operator yang bertugas menjaga server, Mursalin mengajak untuk melihat ruang kerjanya. Ukurannya sekitar 2X3 meter. Ada banyak perangkat komputer termasuk tumpukan server yang disusun rapi. Ada enam server GX10 dengan kapasitas total 6 terrabyte dan komputer dengan kecepatan memory 32 Gigabyte diletakkan di tengah ruangan.
Begitu masuk suhu dingin langsung menyergap tulang, karena ternyata ruangan tersebut tak boleh panas. Suhu normalnya dibuat sekitar 16 derajat Celcius, Mursalin mengatakan, jika server tidak boleh panas. Karena itu suhunya selalu dibuat dingin.
"Kalau server atau komputer di ruangan ini bermasalah, semuanya bisa bermasalah. Tahun depan katanya aplikasi mau diperbaiki lagi, termasuk input data dilakukan mulai semester dua sekolah. Jadi tugas kita bisa lebih ringan, tidak perlu sampai tidur di sekolah,” pungkas pria asal Kebumen, Jawa Tengah  itu sambil tersenyum. (aif)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia