Kamis, 21 Sep 2017
radarbanyuwangi
Ekonomi Bisnis

Harga Singkong Terus Merosot

Sabtu, 15 Jul 2017 11:20 | editor : Ali Sodiqin

BESAR: Sugiono memanen singkong milik Supiyati di Dusun Nganjukan, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu.

BESAR: Sugiono memanen singkong milik Supiyati di Dusun Nganjukan, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu. (NUR HARIRI/RaBa)

SEMPU-Petani yang menanam singkong mengeluh dengan harga yang dianggap rendah. Meski hasil panen bagus dengan ukuran cukup besar, tapi harga tidak sesuai dengan masan tanam yang relatif cukup lama
Salah satu petani singkong, Supiyati, 36, asal Dusun Nganjukan, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, mengatakan menanam seingkong itu membutuhkan waktu sekitar setahun atau 12 bulan. “Saya sekarang panen pada masa tanam 14 bulan,” katanya.
Tanaman singkong dengan masa tanam 12 bulan itu, terang dia, saat dijual harganya hanya laku Rp 700 per kilogram. Harga singkong sebesar itu, harga dari pengepul pada pedagang. Kalau harga dari petani lebih murah lagi. “Saya itu petani sekaligus pengepul. Kalau dari petani harganya hanya Rp 500 dan Rp 600 per kilogram,” imbuhnya.
Murahnya harga singkong itu, dianggap tidak sesuai dengan lamanya masa tanam dan tenaga yang harus dikeluarkan. “Sekarang menanam singkong itu satu tahun baru panen, harga Rp 700 per kilogram untung saja, tapi tidak sesuai dengan lamanya masa tanam,” jelasnya.
Supiyati menjelaskan harga singkong anjlok itu sejak tahun 2013. Pada saat itu, harga singkong masih bertahan antara Rp 1.500 sampai Rp 1.700 per kilogram. Tapi memasuki tahun 2014, 2015, 2016, dan memasuki pertengahan 2017, harga singkong terus anjlok. “Sejak ada impor tepung, harga singkong terus-terusan turun dan sekarang anjlok,” ungkapnya.
Supiyati erharap Pemkab Banyuwangi bisa memperhatikan nasib para petani singkong. “Dulu itu perusahaan tepung biasanya membeli ke petani, tapi sekarang impor. Kita jual singkon ke Bali,” katanya.
Untuk memanen singkong, Supiyanti melakukan dengan mmebayar tenaga kerja. Orang yang dipercaya untuk memanen itu, adalah Sugiono, 35, dan dua rekannya. Seluruh singkong yang dicabut, sebelum dikemasi didiamkan di atas tanah agar air dan tanah yang menempel bisa segera mengering. “Ini dikemas dalam satu sak berisi 50 kilogram,” terang Sugiono.
Dalam panen ini satu pohon singkong yang berusia setahun, rata-rata bisa menghasilkan singkong sebesar 10 kilogram sampai 15 kilogram. “Khusus yang bagus dan besar semua, satu pohon bisa sampai 15 kilogram. Tetapi rata-rata  hanya 10 kilogram,” jelasnya.
Sebagai buruh tani yang mencabut singkong, Sugiono mengaku proses pengerjaannya cukup mudah. Apalagi, lahan singkong yang dicabut sudah diguyur hujan sejak Jumat (7/7). “Walau tanahnya sudah basah, tetap saja ada yang masih berat. Beberapa tanaman singkong ada yang harus di cangkul,” pungkasnya.(rri/abi)

(bw/rri/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia