Minggu, 24 Sep 2017
radarbanyuwangi
Features
Mengenal Ilham Triyadi, Pawang Hujan Banyuwangi

Gunakan Pusaka Untuk Perantara, Tak Lupa Doa Kepada Yang Kuasa

Selasa, 11 Jul 2017 17:25 | editor : Ali Sodiqin

PUSAKA: Ilham Triyadi menunjukkan salah satu medianya untuk mengalihkan hujan.

PUSAKA: Ilham Triyadi menunjukkan salah satu medianya untuk mengalihkan hujan. (FREDY RIZKI/RaBa)

Kulo nyuwun jangkungan lang donganipun dateng gusti engkang makaryo jagad ngilangaken mendung lan udang engkang wonten duwuripun deso niki, mendung saking wetan di wangsulaken ngetan, dugi ler … sekelumit petikan mantra penolak hujan.

FREDY RIZKI, Banyuwangi

SEBAGAI Kabupaten yang memiliki akar budaya masyarakat yang cukup kental Banyuwangi tak lepas dari budaya ritual-ritual. Hampir semua kegiatan yang diselenggarakan selalu memiliki kaitan dengan ritual. Tak terkecuali masalah cuaca.
Bukan menjadi rahasia umum jika di Banyuwangi cuaca seringkali “Dipermainkan”. Entah itu untuk menjaga kegiatan Hajatan, Proyek pembangunan hingga even-even yang diselenggarakan pemerintah. Kali ini Jawa Pos Radar Banyuwangi menemui salah satu pelaku ritual yang seringkali dimintai tolong untuk bisa menunda hujan. Atau dalam bahasa Usingnya, Pawang Hujan.
Dialah Ilham Triyadi, bagi kalangan budayawan mungkin nama ini sudah tidak asing lagi. Pria yang juga menjadi anggota Tim Cagar Budaya Banyuwangi ini adalah salah satu orang yang sering dimintai bantuan untuk membuat acara-acara sekelas hajatan hingga Banyuwangi Festival agar tidak terganggu oleh hujan.
Ilham yang ditemui JP RaBa di salah satu sudut Dinas Pariwisata Banyuwangi menuturkan jika mereka yang menjadi pawang hujan memiliki cara yang bermacam-macam untuk menunda atau mengalihkan hujan agar tidak jatuh di tempat yang dituju. Salah satu temannya yang biasa dipanggil Kang Busairi menggunakan ritual pengalihan hujan dengan menggunakan cemeti.
Biasanya dia akan memecutkan cemeti itu ke beberapa sisi tempat yang dituju. Cemetinya mirip dengan yang digunakan untuk kesenian Jaranan. Ada juga tetangganya, Kang Ibrahim yang menggunakan media sesajen dan ritual puasa untuk menghalau agar hujan tidak jatuh saat kegiatan berlangsung. Ditambah dengan menggenggam tangan selama kegiatan berlangsung.
“Caranya bermacam-macam, sebagian dari mereka ada yang turun temurun dari nenek moyangnya, ada juga yang mempelajari ilmu, atau menggunakan media benda tertentu,” terang bapak lima anak itu. Ilham sendiri mengaku mulai dimintai tolong untuk menjadi pawang hujan sejak sepuluh tahun lalu. Saat itu dia membeli enam buah keris warisan dari seseorang yang tinggal di Kelurahan Singotrunan.
Sang penjual mengatakan jika salah satu dari keris itu memiliki fungsi untuk menangkal hujan. Ilham pun awalnya tidak begitu mengindahkan hal tersebut. Sampai kemudian saat dirinya sedang membangun rumah di daerah Desa Paspan, cuaca sedang dalam musim penghujan. Salah satu tetangganya pun menggodanya untuk menggunakan salah satu keris yang dimilikinya untuk menangkal hujan.
Dia pun kemudian mencoba menggunakan salah satu keris yang dibelinya. Dan benar saja, hujan yang biasanya jatuh menjadi tertunda setelah dia menggunakan keris pusakanya itu. “Bentuknya seperti tombak, namanya Bliring. Setelah di coba ternyata bisa. Tetangga saya yang awalnya bercanda akhirnya malah berniat membeli keris saya itu, tapi tidak saya jual karena saya tau manfaatnya,” terangnya sambil tersenyum.
Sejak saat itulah Ilham sering dimintai tolong oleh orang-orang disekitarnya untuk menjadi Pawang hujan ketika ada hajatan. “Awal-awal saya menggunakan umbo rampe, kembang telon dan kopi pahit sebagai penyanding keris pas mau menangkal hujan. Setelah itu tetangga banyak yang minta bantuan,” kata Ilham.
Lambat laun, jasa Ilham tak lagi hanya digunakan untuk menangkal hujan di acara desa saja, even B Fest yang sering melibatkan para pejabat juga ditanganinya. Syarat yang dilakukan pun sama, selain berdoa dia juga selalu membawa keris Bliring sebagai media untuk aktivitasnya. Dia menjelaskan jika doa kepada Tuhan yang Maha Esa tetaplah yang utama dari proses menghalau hujan yang dilakukannya.
Selain menggunakan perangkat ritual, dia juga memanjatkan doa dan mantra untuk membuat cuaca menjadi cerah dan hujan tidak jatuh saat itu.  Doa menurutnya ditunjukkan untuk memohon kepada Tuhan YME, sedangkan mantra adalah bahasa untuk berkomunikasi dengan mahluk ghaib yang menurutnya juga perlu diajak berkomunikasi. “Ada orang yang bilang ini musrik dan sesat, tapi ini budaya. Selain itu, ibarat kita dan mahluk ghaib itu adalah sama-sama penghuni di dunia ini, kita juga perlu berkomunikasi dengan mereka selain juga tetap berdoa,” jelasnya.
Dari sekian banyak kegiatan yang pernah ditanganinya, pria yang juga menjadi guru di salah satu SMP di Rogojampi ini mengaku lebih banyak berhasil daripada gagal. Hanya saja menurutnya ada beberapa kategori cuaca yang sulit dihadapi, misalnya yang anginnya kencang atau sudah terlanjur jatuh deras. Dia mengatakan, intisari dari ritualnya adalah meminta bantuan angina untuk menghalau hujan.
Jadi jika angina tidak menentu atau sudah terlanjur deras maka akan sulit dibendung. Seperti saat menjelang festival patrol yang menurutnya sudah terlambat sehingga hujan tidak bisa ditangkal. “Saya sering diminta bantuan di belakang  layar kalau ada B fest. Ya saya bantu sebisanya, kita juga kan berdoa. Biasanya saya hanya menghalau hujan ke timur atau ke selatan, tergantung arah angina. Tapi kalau di kota ada even besar, biasanya gak Cuma satu orang yang membantu, ada beberapa yang ikut menghalau,” ujar pria yang juga menjadi kolektor keris itu.
Atas apa yang dilakukannya, Ilham pernah ditegur oleh salah satu rekannya karena dianggap merusak harmoni dan keseimbangan alam. Dia juga pernah ditunjukkan pesan dari pesan pihak bandara Blimbingsari agar tidak membuang hujan di wilayah Bandara. Tetapi menurutnya semua itu sudah diperhitungkannya, karena semua yang terjadi menurutnya adalah kehendak tuhan.
Ilham sendiri tak pernah mau dibilang menjadi orang yang berprofesi sebagai pawang hujan. Hanya saja dengan kemampuan yang menurutnya dimilikinya secara alamiah itu dia mengaku akan membantu jika memang ada yang membutuhkan. “Sekarang saya menggunakan media baru, cemeti kecil atau kalau orang Using bilang Gitik. Kalau pakai ini ritualnya bisa lebih singkat, bahkan kalau kepepet saya tidak perlu lagi menyiapkan dupa atau kembang. Tapi semuanya kembali lagi kepada kehendak tuhan,” jelas Ilham sambil menunjukkan cemeti kecil yang dibawanya.
Salah seorang pelaku pawang hujan lainnya, Pramu Sukarno yang kebetulan juga ikut duduk bersama kita mengatakan jika aksi pawang hujan sebenarnya bukan untuk menghilangkan hujan. Tetapi menggeser atau menunda waktunya saja. Meski tak memperinci dengan jelas ritual yang digunakannya, pria dengan style rambut putih panjang itu mengatakan jikan dia biasa menggunakan sapu lidi dan bawang sebagai properti untuk menahan hujan. “Tapi saya sendiri tidak tahu maknanya, hanya asal pasang saja,” Pungkas Pramu.(*)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia