Jumat, 22 Sep 2017
radarbanyuwangi
Kolom
Man Nahnu

Dari Trotoar sampai Ramadniya

Oleh: Samsudin Adlawi

Jumat, 07 Jul 2017 19:16 | editor : Ali Sodiqin

TAK ada catatan khusus mewarnai Lebaran tahun ini. Khususan di Banyuwangi. Kecuali satu –itu pun kalau dipaksakan ada catatan. Apa itu? Trotoar!
Ya, pemudik mungkin merasa kurang enak. Ketika melintas di beberapa cross road.  Seperti perempatan Cungking, perliman, sisi selatan perempatan Taman Blambangan, dlb. Ada yang tak lazim di sekitar situ. Trotoarnya kelihatan kotor. Seperti tak terawat. Betul sekali. Kotor karena sedang dibongkar. Belum selesai.
‘’Kenapa membongkarnya pas menjelang Lebaran?’’ pikir pemudik, kira-kira begitu.
Pikiran yang kritis. Kami yang di Banyuwangi juga berpikir seperti itu. Melihat langsung trotoar-trotoar itu dibongkar hampir parak Lebaran. Tepatnya saat Ramadan. ‘’Lebaran tidak akan selesai,’’ kami memastikan saat itu. Kalau orang awam (seperti kami) saja bisa memprediksi tidak akan selesai, pasti para pemborong proyek trotoar itu lebih paham. Lebih tepat hitungannya. Tapi kenapa mereka nekad merehabilitasi trotoar itu. Padahal, kalau sabar sedikit trotoar yang lama tidak akan mencemari pemadangan kota Bumi Blambangan. Apalagi kondisinya masih cukup bagus. Karena usianya memang masih relatif muda. Belum lama dipugar.
Lalu apa alasan kenekadan pembongkaran trotoar itu. Boleh jadi pemborong dan pekerjanya kebelet sangu Lebaran. Sudah menjadi tradisi, bahkan ritual dalam sebagian masyarakat kita. Bahwa Lebaran harus dirayakan. Dimeriahkan dengan jor-joran materi. Harus berbaju baru. Rumah harus dicat –meski secara estetika masih enak dipandang mata. Kendaraan harus baru juga. Padahal, idul fitri tidak seperti itu. Idul Fitri tidak membutuhkan baju baru. Iman dan ketaatan kepada Allah Swt lah yang seyogyanya diperbaharui.
Tapi, ya sudahlah. Butuh proses panjang untuk menyadarkan masyarakat. Terutama menyadarkan mereka agar ketika menjelang Labaran mengurangi zakat mall. Yakni kebiasaan berbondong-bondong menuju mall atau toko pakaian. Memborong pakaian dan kebutuhan Lebaran lainnya. seharusnya, masyarakat mulai mengutamakan zakat mal. Sebab, zakat adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim. Sebagaimana rukun Islam yang lainnya. sedangkan zakat mall tidak ada dalam ajaran agama.
Mudah-mudahan pembenahan trotoar di sejumlah tempat di jantung kota itu cepat selesai. Dan hasilnya sesuai harapan masyarakat: mempercantik wajah kota. Bukan sebaliknya.
***
KITA pindah tema saja ya. Yang lagi hot. Bahas polisi kita. Mari kita awali dengan ucapkan koor: ‘’Dirgahayu Bhayangkara’’.  Peringatan HUT Bhayangkara tahun ini berbeda dengan tahun yang sudah-sudah. Di Mabes Polri dirayakan secara sederhana. Diisi dengan kegiatan yang kontemplatif. Berupa zikir berjamaah di masjid Al-Ikhlas. Dalam kawasan Mabes Polri.
Nahi hura-hura. Mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kita ikut bangga. Atas perubahan sikap polri. Mendekatkan diri kepada Tuhan kini menjadi kewajiban bagi polri. Sebab, tantangan tugas ke depan makin berat. Para teroris sudah berani menyerang polisi. Secara terang-terangan. Seperti yang beberapa kali terjadi belakangan ini.
Perubahan sikap polri dari hura-hura ke religus sudah terasa dari sandi operasi pengamanan Lebaran tahun ini (1438 H). Operasi 16 hari (19 Juni – 4 Juli 2017) itu diberi sandi ‘’Ramadniya’’. Menggantikan sandi operasi ‘’Ketupat’’ yang dipakai bertahun-tahun. Penggunaan nama sandi baru itu, konon, merespons order dari presiden Jokowi. Saya pribadi setuju sama presiden. Masak terus-terusan pakai sandi yang sama setiap tahun: ketupat. Bosan makan ketupat terus menerus. Penggantian nama sandi sebuah operasi menunjukkan polri dinamis. Tidak beku dalam kejumudan.
Kenapa pakai nama sandi Ramadniya. Bukan yang lain. Yang lebih familiar di telinga. Gak apa-apa. Lama-lama kan akrab di telinga. Apalagi kalau sudah tahu artinya. Pasti cepat menempel di kepala. Sepintas Ramadniya seperti gabungan kata Ramadan dan Hari Raya. Betulkah? Anggap saja begitu. Tapi Radmaniya sebenarnya merupakan kata dalam bahasa Sansekerta. Punya tiga arti sekaligus:  rahmat, bersatu, dan suci; atau bersatu, suci, dan sempurna.
Makna-makna itu tidak jauh-jauh amat dari spirit Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Meski berasal dari bahasa Sansekerta dan bukan dari bahasa Arab, makna yang dikandung Ramadniya sangat religius. Seperti diketahui, religiusitas itu tak bisa dipisahkan dari yang namanya semangat untuk bersatu: menghormati perbedaan, mendahulukan tolerasi. Religiusitas juga tak jauh dari tema-tema rahmat, kesempurnaan, dan kesucian.
Kita berharap, operasi Ramadniya membekas. Bukan setelah kelar tak meninggalkan akar. Walau seutas saja. Ramadniya boleh pergi dan akan kembali setahun lagi. Tapi, di hati Pak Polisi kita harus tetap ada Radmaniya. Sepanjang hari. Sepanjang pekan. Sepanjang bulan. Dan, bahkan, sepanjang tahun. Dengan begitu, kita akan bangga. Punya polisi berhati suci dan pemersatu. Bukan polisi yang hati dan pikirannya kotor, hanya mencari keuntungan pribadi di balik baju polisinya. Bukan polisi yang berpihak, membela yang membayar. Kita butuh dan bangga pada polisi yang suka menolong dan mengayomi masyarakat dengan ikhlas. Butuh polisi yang membela yang benar dan bukan membela yang membayar.
Wa ba’du. Mumpung masih dalam bulan Syawal, tiada kata yang pantas sebagai penutup catatan ini selain permohonan maaf dari lubuk hati paling dalam. Untuk pembaca setia Man Nahnu khususnya. Dan pembaca Jawa Pos Radar Banyuwangi umumnya. Spesial untuk keluarga besar polri saya ucapkan: Dirgahayu Bhayangkara! (@AdlawiSamsudin, [email protected])

(bw/*/als/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia