Senin, 25 Sep 2017
radarbanyuwangi
Kolom
Spirit Jumat

Najis

Oleh: KH Toha Muntoha

Jumat, 07 Jul 2017 18:51 | editor : Ali Sodiqin

PILIH minum air putih, teh manis, atau kopi pahit itu sekadar selera, tidak ada risiko hukum.  Bahwa kemudian akibat banyak minum terjadi  peningkatan konsentrasi air pada urine lalu timbul rangsangan untuk buang air itu sekadar  hukum alam.
Menahan buang air terlalu lama tentu berpotensi infeksi saluran kencing, namun  mengeluarkannya dengan berdiri atau jongkok so pasti ada kaidah hukum yang menguraikannya, baik dari tinjauan etika, kesehatan maupun sistem thoharohnya.
Jangankan urusan yang besar, berkait buang air, Islam memuliakan setiap muslim dengan serangkaian etika dari mulai menutup kepala, masuk toilet dengan mendahulukan kaki kiri dan keluar mendahulukan kaki kanan.
Lalu baca ta’awudz dan jongkok dengan miring ke kanan dan memosisikan punggung  duduk di atas kaki kanan untuk wanita memijat bagian bawah pusat ke bawah dan bagi pria  dianjurkan berdehem tiga kali hingga air kencing bisa keluar semua.
Kencing adalah ikhtiar yang amat produktif untuk mengeluarkan racun dan ragam sampah dari dalam tubuh. Melakukannya dengan jongkok bermanfaat pada sistem pembuangan sisa metabolisme tubuh dalam bentuk cairan  maupun gas secara berkelanjutan.
Sebaliknya mekakukannya dengan berdiri berakibat hadirnya dua bentuk madhorot (hal yang merugikan), Pertama, tidak tuntasnya proses pembuangan hingga sisa sampah berpotensi memunculkan gangguan prostat dan lemah syahwat bagi pria seperti yang dituturkan oleh Aisyah Ra. Bahwa Rasulullah Saw tidak pernah kencing berdiri semenjak Alquran diturunkan kepadanya.
Kedua sisa atau muncratnya air kencing tanpa sadar menyasar pada pakaian atau anggota tubuh hingga sifat najisnya menghalangi sahnya salat. “Bersihkanlah dirimu dari air kencing, karena banyak siksa kubur terjadi akibat air kencing tersebut” (HR Addaruquthni).
Rasulullah Saw pernah melewati dua buah makam, lalu beliau bersabda “Ingat dua mayat ini sedang disiksa, namun bukan karena dosa besar, yang satu disiksa karena suka adu domba dan yang satunya disiksa karena kurang bersih dalam bersuci setelah buang air".
Suatu malam Abdullah bin Umar Ra pergi ke rumah perempuan tua yang di samping rumahnya ada komplek makam. Kemudian ia mendengar suara lirih “Kencing, apa itu kencing, gayung, apa itu gayung” Abdullah pun berkata “Celaka, suara apa itu”.
Perempuan tua itupun berkata “Itu adalah suara suamiku, yang ketika masih hidup tidak pernah bersuci usai buang air kecil”. Abdullah berkata “Celakalah dia, unta saja bersuci kalau buang air, dia malah tidak peduli”.
Ironisnya gaya kencing berdiri tampaknya sulit dihindari akibat hadirnya teknologi urinoir yang semula manual kini telah mengalami otomatisasi dengan sensor infra merah. Bagi pengguna pemula teknologi ini cukup membuat risi, apalagi urinoir terbaru yang mengadopsi teknologi gravitasi yang mengandalkan bahan “sealant” penghilang bau tanpa air, tentu sangat “asing” bagi kalangan orang beriman.
Bahkan di Perancis urinoir telah berkembang menjadi uritroir yang memungkinkan orang kencing di sembarang tempat asal ada fasilitas uritroirnya. Eksekusinya cukup berdiri dan diarahkan ke pispot yang di modif sebagai pot bunga karena teknologimya mampu mengubah air kencing menjadi kompos. Berkait etika kencing, bau, warna dan matreal najis tidak “penting” untuk diperhatikan.
Dari peristiwa sederhana ini, tampaknya penguasaan dan pengadaan teknologi “thoharoh” oleh kaum beriman tiba saatnya untuk "difatwakan" sebagai Fardlu Kifayah...?. (*)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia