Rabu, 17 Jan 2018
radarbali
icon featured
Events

Ludruk, Seni Teater Khas Sumenep yang Mendunia

Rabu, 10 Jan 2018 15:29 | editor : ali mustofa

kesenian daerah, penampilan ludruk

TRADISI: Salah satu pementasan Ludruk di Sumenep, Jawa Timur yang masih terus dipertahankan hingga kini. (Radar Madura for Radar Bali)

RadarBali.com- Salah Satu kesenian dari Kabupaten Sumenep yang sering menghibur masyarakat adalah ludruk. Seni teater dengan pertunjukan yang menonjolkan tari, lawak dan cerita-cerita penting tempo dulu ini, selalu menyedot perhatian masyarakat.

 Bahkan Wakil Bupati (Wabup) Sumenep Achmad Fauzi, selalu hadir jika ada penampilan kesenian khas Sumenep ini. Seperti saat  kesenian ketoprak Rukun Karya (Ruka) manggung di pesisir Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, belum lama ini.  

Wabup Fauzi hadir menonton secara langsung sekaligus menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat.

Beliau juga berharap masyarakat terus meningkatkan kepedulian pada kesenian daerah, terutama kesenian ludruk.

Sebab ludruk merupakan kesenian bernuansa hiburan dan pendidikan yang menjadi ciri khas Kabupaten Sumenep. Basis perkembangan ludruk mayoritas terdapat di Kecamatan Kalianget, Desa Tanjung, dan Kecamatan Saronggi.

 Di Desa ini, ada ludruk Rukun Karya (Ruka) dan Rukun Famili. Dua kelompok seni ini selalu tampil diberbagai daerah di Jawa Timur.

“Kesenian ludruk penting untuk terus dilestarikan, Apalagi, bisa jadi andalan salah satu program Visit Sumenep 2018. Pemkab bisa menampilkan ludruk asli Sumenep ini untuk menyambut wisatawan,” tutur Wabup Achmad Fauzi.

Ada tiga pelawak, yakni, Edi, Dendi dan pelawak cilik Dimas, yang tampil kompak saat itu menghibur ribuan penonton yang memadati lahan tempat pertunjukan di pesisir pantai Tanjung. Lawak berlangsung sekitar satu jam lebih.

Dilanjutkan dengan pertunjukan yang mengangkat cerita masa lalu. Salah satu sejarawan dan budayawan Madura Tadjul Arifien R. mengatakan, ludruk atau dikenal lagi dengan sebutan ketoprak, sudah eksis sejak abad 14 di Sumenep.

Bahkan pada tahun 1970-an, sempat ada 70 kelompok ludruk yang sering tampil. “Namun seiring dengan perkembangan zaman, hanya tinggal beberapa saja yang eksis. Padahal ludruk memiliki nilai pendidikan sejarah dalam penampilannya,” tutur Tadjul.

Lebih lanjut, Encung Hariyadi selaku sutradara kesenian ludruk Ruka menceritakan, Ruka selalu tampil diberbagai daerah.

Kesenian asal Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi ini, hanya pada bulan Ramadan saja istirahat total. “Selain bulan itu, hampir setiap malam selalu manggung. Mulai wilayah Madura, Jawa, dan Bali,” ujarnya.

Ruka merasa bangga selalu bisa membawa nama Sumenep setiap kali tampil. Terutama saat ke luar Madura.

Ditanya mengenai dukungan atas program Visit Sumenep 2018, pihaknya mengaku siap. “Sepanjang pemerintah menginginkan partisipasi Ruka, tentu, kami selalu siap. Tanpa diminta pun, Ruka selalu mempromosikan seni Sumenep,” kata Encung.

Ruka kini memiliki pelawak-pelawak andal yang selalu tampil menghibur siapa saja yang menonton ludruk.

(rb/tir/yog/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia