Kamis, 18 Jan 2018
radarbali
icon featured
Travelling

Lima Tahun Bersihkan Tebing Margapegat, Ini Tujuan Ray Peni...

Selasa, 12 Dec 2017 21:45 | editor : ali mustofa

tebing margapegat, penyanyi pop bali, ray peni

OBJEK SWAFOTO: Penyanyi pop Bali, Ray Peni berada di Tukad Palak, yang menjadi perbatasan Desa Sukawati dan Batuan (Indra Prasetia/Radar Bali)

GIANYAR – Penyanyi pop Bali, Ray Peni, menyulap tebing kotor di bawah jembatan Margapegat yang menghubungkan Desa Sukawati dengan Desa Batuan, Kecamatan Sukawati.

Tebing yang berbahan batu paras itu dibersihkan bersama pengungsi Gunung Agung. Rencananya, tebing yang dialiri sungai Palak akan dibuka untuk umum guna dijadikan tempat swafoto.

Kebetulan rumah Ray Peni ini berada di pinggir jurang itu. “Sejak lima tahun saya bersihkan tebing ini sedikit-demi sedikit.

Terakhir, saya ajak pengungsi Gunung Agung, kebetulan lokasi posko dekat dengan lokasi tebing,” ujar Ray Peni, kemarin (11/12).

Penyanyi dengan genre pop rock itu belum berpikir apakah bisa tebing ini dijadikan objek wisata.

“Untuk saat ini saya bersihkan saja sungainya, tadinya kotor penuh sampah. Mungkin kalau sudah bersih nanti suatu saat dicari pengunjung dan dijadikan  seperti Grand Canyon (Guwang, red),” jelas Ray Peni.

Apabila dijadikan objek wisata mirip Grand Canyon, menurutnya perlu pemikiran lebih lanjut. “Sekarang saya fokus merawat saja dulu.

Kalau sudah terawat, saya siap serahkan ke Banjar, Desa atau Pemerintah,” jelas pemilik nama asli Made Rai Bawa itu.

Di tebing itu, sempadan sungai dibersihkan dari sampah. Kemudian, sempadan ditata dengan pepohonan supaya menambah kesejukan.

Dengan mengumpulkan uang hasil konser, penyanyi kelahiran 10 April 1980 itu tengah menggarap lima goa untuk dijadikan relief.

“Baru dua goa yang dibuat, saya masih kumpulkan dana. Lima goa itu akan saya kasih patung Panca Pandawa; Yudistira; Bima; Arjuna; Nakula dan Sahadewa,” jelasnya.

Sempadan sungai yang digarap itu baru 60 meter saja, mulai dari jembatan Margapegat ke timur sungai. Dijelaskan Ray Peni, apabila goa kecil yang buntu di tebing itu rampung, dia mempersilahkan masyarakat berkunjung.

“Prinsip saya, jangan berpikir apa yang dapat di dunia, tapi pikir apa yang sudah kami perbuat hal yang positif untuk dunia ini,” jelasnya mengutip nasehat orang tuanya.

Sebagai musisi, dia pun pernah mendesak pemerintah untuk memberikan terali besi di setiap jembatan. Alasannya, supaya tidak ada yang buang sampah sembarangan.

“Kasihan sungai, seperti di Blahbatuh, dibawahnya ada Konci dibuangi sampah. Di Ubud, dibawahnya ada pura dibuangi sampah, makanya perlu dikasih terali,” ujarnya.

Dia juga minta kesadaran masyarakat untuk tidak sembarangan membuang sampah. “Saya juga ingin di setiap gang ada tempat menampung limbah. Kalau limbah masuk sungai, mau cari apa turis ke Bali?” tegasnya.

Perbekel Batuan, Nyoman Netra, mengaku belum mendengar ada rencana pembukaan objek swafoto mirip Grand Canyon Guwang.

“Belum bisa komentari tentang itu karena dalam Musyawarah Desa (Musdes, red) belum pernah muncul secara resmi,” ujar Netra.

Diakui, apabila akan membuka objek wisata, baru perlu pembahasan. “Apakah itu  ada ide  dari masyarakat, kami sangat merespon. Tapi butuh kajiannya nanti dalam Musdes,” tukasnya

(rb/dra/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia