Rabu, 17 Jan 2018
radarbali
icon featured
Features
Saat Enam Pendeta Jepang Doakan Gunung Agung

Batal Berdoa ke Besakih, Doakan Gunung Agung dari Gunung Lebah

Selasa, 12 Dec 2017 18:15 | editor : ali mustofa

gunung agung, erupsi gunung agung, pipa magma, biksu jepang

BERDOA: Sebanyak enam pendeta Budha dari Jepang menggelar doa bersama di Pura Gunung Lebah, Kecamatan Ubud, Minggu (10/12) lalu (Istimewa)

Erupsi Gunung Agung terdengar sampai ke penjuru dunia, salah satunya Jepang. Sebanyak enam pendeta Budha dari Jepang tiba ke Bali.

Mereka awalnya hendak mendoakan Gunung Agung dari Pura Besakih supaya berhenti “batuk”. Tapi karena situasinya dipandang berbahaya, enam pendeta itu  berdoa di Pura Gunung Lebah, Ubud.

IB INDRA PRASETIA, Ubud

BENCANA  Gunung yang memuntahkan abu vulkanik, lahar hingga memaksa warga mengungsi membuat iba banyak pihak. Keprihatinan juga muncul dari enam orang pendeta Budha.

Tokoh Puri Ubud, Tjokorda Gede Raka Sukawati yang telah berteman sejak lama dengan pihak pendeta Budha di Jepang pun beberapa kali dikontak dari Jepang.

Sejak Gunung Agung “batuk”, enam pendeta dari Jepang berniat untuk ke Bali. Mereka ingin mendoakan Bali langsung dari Bali.

“Setelah nonton bencana Gunung Agung lewat media televisi di Jepang, mereka merasa prihatin dan memaksakan untuk datang ke Bali,” ujar pria yang akrab disapa Cok De kemarin.

Setibanya di Bali, enam pendeta ini ingin berdoa langsung ke Pura Besakih. Tapi, situasi di Besakih kini dipandang cukup rawan. Apalagi Besakih masuk kawasan rawan bencana.

“Sempat kami berikan pemahaman supaya tidak ke Besakih karena situasinya. Akhirnya kami berikan opsi untuk melakukan

sembahyang saja di Pura Gunung Lebah,” jelas Cok De yang juga Ketua Lembaga Pemasyarakatan Desa (LPM) Ubud itu.

Menurut Cok De, Pura Gunung Lebah yang berada di Ubud ini juga punya kaitan yang erat dengan Pura Besakih.

Itu karena dalam sejarahnya, Pura Gunung Lebah berkaitan dengan kedatangan Rsi Markandya ke Bali. Jadi sebelum menancapkan Panca Datu di Pura Besakih, Rsi Markandya ini sempat ke Ubud.

Di Ubud, Rsi Markandya tiba di persimpangan dua sungai atau disebut Campuhan. Pertemuan dua sungai itu adalah Sungai Wes Kangin (Timur) dan Wes Kauh (Barat).

Disanalah Markadnya bersemedi kemudian membangun Pura Gunung Lebah. “Karena Pura Gunung Lebah secara historis ada kaitan dengan Pura Besakih,

maka kami sarankan untuk berdoa di Pura ini saja,” ujar Cok De yang juga Pangempon Pura Gunung Lebah itu.

Di Pura Gunung Lebah, enam pendeta itu berdoa pada Minggu sore. Dengan jubah kebesaran, pendeta tersebut berdoa dengan tata cara Budha.

“Menggunakan tata cara persembahyangan masing-masing. Intinya memohon kedamaian alam. Sehingga bencana ini cepat berlalu,” ungkap dosen Fakultas Ekonomi Unud itu.

Menurut Cok De, enam pendeta Budha dari Jepang ini sebelumnya sudah sempat ke Bali pascatragedi bom Bali.

Hanya saja kala itu kedatangan mereka dengan rombongan lebih besar, yakni sebanyak 50 orang. Sebelumnya, tujuan mereka berdoa untuk memohon kedamaian dunia

(rb/dra/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia